MARKET DATA

Ramai-Ramai Akuisisi Emiten di September, Haji Isam yang Terbesar?

Elaine Tairio,  CNBC Indonesia
29 September 2026 12:10
Pekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, (1/4/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Aksi akuisisi masih mewarnai pasar modal Indonesia hingga September 2026. Sejumlah emiten tengah memproses transaksi di berbagai sektor, mulai dari pertambangan batu bara, rumah sakit, energi, hingga layanan digital.

Nilai transaksi pun bervariasi, mulai dari ratusan miliar hingga puluhan triliun rupiah. Aksi korporasi tersebut dilakukan untuk memperluas lini bisnis, memperbesar kepemilikan aset, hingga memperkuat kendali atas perusahaan target.

Sebagian transaksi telah memasuki tahap perjanjian bersyarat. Sementara itu, sejumlah lainnya masih menunggu penyelesaian uji tuntas, persetujuan pemegang saham, dan pemenuhan persyaratan lainnya.

Berikut deretan aksi akuisisi emiten yang masih berproses hingga September 2026.

1. FORU Masuk Bisnis Tambang Batu Bara

PT Fortune Indonesia Tbk. (FORU) melanjutkan proses akuisisi 49% saham PT Borneo Prima, perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batu bara.

Aksi ini menjadi bagian dari rencana penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue dengan nilai maksimum Rp27,1 triliun. Proses rights issue telah memasuki periode pelaksanaan dan perdagangan HMETD pada akhir September 2026.

Dalam skema tersebut, pemegang saham pengendali FORU, IMR Asia Holding Pte. Ltd., akan menyetorkan 49% saham Borneo Prima sebagai inbreng senilai sekitar Rp20,82 triliun.

Setelah transaksi rampung, FORU akan memiliki 49% saham Borneo Prima. Sementara itu, dana rights issue yang diperoleh secara tunai akan disalurkan sebagai pinjaman kepada Borneo Prima untuk mendukung kebutuhan modal kerja, operasional, dan produksi pertambangan.

Meski demikian, IMR Asia Holding tetap menjadi pengendali Borneo Prima setelah transaksi selesai.

2. SILO Akuisisi 14 Perusahaan Pemilik Rumah Sakit, Lima Sudah Rampung

PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) mulai merealisasikan rencana akuisisi 14 perusahaan pemilik aset rumah sakit dari entitas anak First Real Estate Investment Trust (First REIT).

Rencana akuisisi tersebut dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama mencakup delapan perusahaan dengan nilai sekitar Rp5,12 triliun, sedangkan tahap kedua mencakup enam perusahaan dengan estimasi nilai Rp3,88 triliun.

Hingga 24 September 2026, SILO bersama anak usahanya telah menyelesaikan pengambilalihan 100% saham lima perusahaan target tahap pertama dengan total nilai transaksi sekitar Rp3,47 triliun.

Kelima perusahaan tersebut merupakan pemilik properti rumah sakit Siloam di Palembang, Purwakarta, Bali, Lippo Village, dan Kebon Jeruk.

Dengan demikian, tiga perusahaan lainnya dalam tahap pertama masih belum termasuk dalam realisasi akuisisi tersebut.

3. Jhonlin Milik Haji Isam Bidik 30% Saham BYAN

PT Jhonlin Baratama, bagian dari Jhonlin Group milik Haji Isam, dalam tahap mengakuisisi sekitar 30% saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) dari Low Tuck Kwong dan Elaine Low.

Rencana tersebut dituangkan dalam Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat yang ditandatangani pada 16 September 2026. Jhonlin akan mengambil 10.000.000.500 saham BYAN atau setara sekitar 30% dari total saham perseroan.

Meski perjanjian awal telah diteken, transaksi masih menunggu pemenuhan sejumlah kondisi pendahuluan. Nilai transaksi juga belum diumumkan kepada publik.

Setelah transaksi rampung, Low Tuck Kwong diperkirakan masih memiliki sekitar 20,85% saham BYAN, sedangkan Elaine Low sekitar 11,40%.

Berdasarkan informasi perseroan, Low Tuck Kwong tetap menjadi pemegang saham utama sekaligus pengendali BYAN setelah transaksi selesai.

Jika terealisasi, Jhonlin akan menjadi salah satu pemegang saham utama Bayan Resources dan memperbesar eksposur kelompok usaha Haji Isam di sektor batu bara.

4. VISI Akuisisi 72,91% Saham Hasna Medika

PT Satu Visi Putra Tbk. (VISI) menyiapkan akuisisi 72,91% saham PT Hasna Medika Bakti Cirebon (HMBC) dengan nilai transaksi sekitar Rp286 miliar.

Rencana tersebut dituangkan dalam Conditional Share Subscription Agreement (CSSA) dan Conditional Shares Sale and Purchase Agreement (CSPA) yang ditandatangani pada 20 Agustus 2026.

Dalam transaksi ini, VISI akan mengambil bagian atas saham baru HMBC sekaligus membeli sebagian saham milik pemegang saham lama.

Jika rampung, VISI akan menjadi pemegang saham mayoritas HMBC, perusahaan yang bergerak di sektor layanan kesehatan melalui bisnis rumah sakit dan klinik dengan fokus layanan jantung.

Akuisisi ini sekaligus memperluas lini usaha VISI, yang sebelumnya bergerak di bidang distribusi bahan baku percetakan digital, ke sektor layanan kesehatan.

5. PIPA Perluas Bisnis Migas lewat Akuisisi Aztech

PT Oxala Energy International Tbk. (PIPA) tengah memproses akuisisi 75% saham PT Aztech Pandu Persada sebagai bagian dari ekspansi ke sektor energi dan minyak dan gas bumi (migas).

Rencana tersebut dituangkan dalam Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) yang ditandatangani pada 7 September 2026 antara PIPA sebagai calon pembeli dan Riki Rinaldi Idham sebagai penjual.

Nilai transaksi masih bersifat indikatif dan baru akan ditetapkan setelah proses uji tuntas atau due diligence selesai. Skema pembayaran juga masih terbuka, mulai dari penerbitan saham baru, surat utang, hingga mekanisme lain yang disepakati para pihak.

"Pada tahap saat ini, nilai transaksi masih bersifat indikatif," kata Corporate Secretary PIPA Haerul Maelani dalam keterangannya.

Penyelesaian transaksi ditargetkan dalam waktu enam bulan sejak penandatanganan CSPA.

Namun, proses tersebut masih bergantung pada sejumlah kondisi, termasuk persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dan pemenuhan ketentuan pasar modal.

6. WINR Naikkan Target Kepemilikan LGA dari 60% Jadi 90%

PT Winner Nusantara Jaya Tbk. (WINR) memperbesar rencana akuisisi PT Laxo Global Akses (LGA) dengan menaikkan target kepemilikan dari sebelumnya 60% menjadi 90%.

Perubahan tersebut disepakati melalui addendum kesepakatan akuisisi yang ditandatangani pada 2 September 2026. Saat ini, WINR telah memiliki 8,5% saham LGA, sedangkan peningkatan kepemilikan hingga 90% direncanakan melalui penambahan setoran modal.

LGA merupakan perusahaan penyedia layanan internet yang telah melayani lebih dari 100 pelanggan korporasi dan instansi pemerintah, serta lebih dari 10.000 pelanggan ritel.

Akuisisi ini akan memberikan WINR kendali lebih besar atas layanan konektivitas yang nantinya diintegrasikan dengan proyek-proyek properti perseroan.

Direktur Utama WINR Liu Yut Men mengatakan integrasi tersebut memungkinkan perseroan menawarkan layanan konektivitas pintar sekaligus membangun sumber pendapatan berulang.

"Dengan memiliki kendali atas penyedia akses internet, Perseroan dapat menawarkan paket bundling atau fasilitas smart connectivity yang lebih kompetitif di proyek-proyek properti Perseroan," ujar Liu.

Deretan transaksi tersebut menunjukkan ekspansi emiten ke berbagai sektor, mulai dari batu bara hingga layanan kesehatan dan digital. Meski telah diumumkan ke publik, sebagian aksi korporasi masih menunggu penyelesaian proses uji tuntas, persetujuan pemegang saham, serta pemenuhan persyaratan lainnya.

Nilai final, struktur pendanaan, dan waktu efektif transaksi masih bergantung pada perkembangan masing-masing perusahaan. Realisasi akhir akan menentukan perubahan kepemilikan serta dampaknya terhadap arah bisnis dan struktur keuangan emiten terkait.

(mae/mae)



Most Popular