Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan menghadapi banyak tekanan pada hari ini setelah perang memanas dan pergerakan yang stagnan pada instrumen keuangan Indonesia. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Lanjut ke mata uang Garuda, nilai tukar rupiah harus mengakui keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis (11/6/2026).
Sepanjang perdagangan, rupiah sebetulnya sempat mengawali hari dengan penguatan sebesar 0,14% ke level Rp17.925/US$. Namun, seiring berjalannya perdagangan, tekanan kembali datang hingga rupiah berbalik melemah dan bertahan di zona merah sampai penutupan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau menguat tipis 0,03% ke level 99,979.
Pelemahan rupiah terjadi seiring dengan menguatnya dolar AS di pasar global. Penguatan greenback membuat ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk rupiah, menjadi semakin terbatas.
Dolar AS bergerak stabil cenderung menguat karena pelaku pasar masih mencermati perkembangan terbaru konflik di Timur Tengah dan data inflasi Amerika Serikat (AS), menjelang keputusan kebijakan moneter bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) pada 17 Juni mendatang.
Dari sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah masih menjadi perhatian setelah AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Namun, di saat yang sama, lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz disebut masih tetap berjalan. Kondisi ini membuat pasar masih berhati-hati dalam menilai risiko pasokan energi global.
Sementara dari sisi data ekonomi, inflasi tahunan AS naik menjadi 4,2% pada Mei 2026, sesuai dengan ekspektasi pasar. Meski begitu, pelaku pasar juga mencermati inflasi inti secara bulanan yang melandai lebih dalam dari perkiraan menjadi 0,2%.
Kondisi tersebut memberi ruang bagi bank sentral AS untuk tidak terburu-buru dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Meski demikian, dolar AS masih bertahan kuat karena kombinasi ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi kebijakan The Fed tetap menjadi perhatian utama pasar.
Ke pasar obligasi domestik, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) mengalami penurunan setelah beberapa hari terakhir menukik tajam ke atas akibat keluarnya investor dari pasar SBN.
Imbal hasil SBNÂ terpantau mengalami penurunan ke level 7,442% sedikit menguat dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang hampir menyentuh level 7,5% di posisi 7,479% atau menguat 0,50% dari penutupan hari sebelumnya.
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street ditutup menguat pada Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.
Kenaikan saham didorong oleh rebound saham sektor chip, setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan serangan terhadap Iran yang semula dijadwalkan kemarin dan mengatakan bahwa AS akan segera menandatangani kesepakatan dengan negara tersebut.
Indeks S&P 500 naik 1,75% dan ditutup di level 7.394,30, sementara Nasdaq Composite melonjak 2,54% menjadi 25.809,66. Adapun Dow Jones Industrial Average naik 929,97 poin atau 1,86% ke posisi 50.848,75.
Trump mengatakan kepada wartawan di Ruang Oval bahwa dia memiliki kesepakatan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
Dia melanjutkan AS akan segera melakukan penandatanganan, dan dokumen-dokumennya sudah hampir final. Ini akan selesai dan seharusnya selesai dengan sangat cepat.
Saham-saham sebenarnya sudah menguat lebih awal pada Kamis setelah Trump menulis di Truth Social bahwa dia membatalkan serangan dan pemboman terhadap Iran yang dijadwalkan malam ini.
Blokade Angkatan Laut akan tetap diberlakukan sepenuhnya hingga transaksi ini selesai, waktu dan tempat penandatanganan akan diumumkan segera.
Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 2,58% dan ditutup di US$87,71 per barel setelah pengumuman Trump. Sementara itu, minyak mentah Brent merosot 2,92% menjadi US$90,38 per barel. Keduanya terus melemah setelah penutupan perdagangan.
Sebelum komentar tersebut muncul, pasar berada dalam kondisi waspada.
Harga minyak sempat naik setelah Trump dalam unggahan Truth Social lainnya mengatakan bahwa AS akan menyerang Iran dengan "SANGAT KERAS MALAM INI."
Dia juga mengatakan dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, kami akan mengambil alih Pulau Kharg dan titik-titik infrastruktur minyak lainnya, serta menguasai sepenuhnya pasar minyak dan gas mereka.
"Pasar tampaknya tidak terlalu terganggu oleh konflik Timur Tengah. Laporan inflasi yang kami terima tidak menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak benar-benar menyebar ke sektor-sektor lain, sehingga fondasi ekonomi masih cukup kuat. Secara umum, kondisi pasar masih relatif normal." , kata Thomas Martin, manajer portofolio senior di Globalt Investments, kepada CNBC International.
Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) AS naik 1,1% pada Mei, menurut laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS pada Kamis. Angka ini lebih tinggi dibandingkan perkiraan ekonom yang disurvei Dow Jones sebesar 0,7%. Sementara inflasi inti (core inflation), yang tidak memasukkan harga pangan dan energi yang berfluktuasi, tercatat 0,4%, lebih rendah dari perkiraan Dow Jones sebesar 0,5%.
Pemulihan saham-saham seperti Micron Technology, Advanced Micro Devices (AMD), dan Intel memberikan dorongan bagi pasar. ETF iShares Semiconductor (SOXX) melonjak lebih dari 8%.
ETF sektor chip tersebut sebelumnya tertekan setelah anjlok 10% pada Jumat lalu, yang membuat banyak investor mempertanyakan apakah reli luar biasa di sektor tersebut telah berakhir.
Intel juga mendapat peningkatan rekomendasi dari Bank of America, dari "underperform" menjadi "buy", sehingga sahamnya melonjak 9%.
Antusiasme investor juga meningkat menjelang debut SpaceX pada Jumat, yang diperkirakan akan menyoroti pertumbuhan besar-besaran pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Namun, sebagian pelaku pasar menilai pelemahan saham chip belakangan ini disebabkan oleh investor yang menjual saham-saham teknologi dalam portofolionya untuk menyediakan dana bagi IPO tersebut, yang diperkirakan menjadi debut terbesar sepanjang sejarah dengan valuasi sekitar US$1,8 triliun.
Meski demikian, tidak semua saham teknologi menjadi bintang pada Kamis. Saham Oracle turun 8% setelah perusahaan perangkat lunak tersebut mengumumkan rencana menghimpun tambahan dana sebesar US$20 miliar melalui ekuitas dan utang untuk membiayai ekspansi bisnis kecerdasan buatannya.
Pada sesi sebelumnya, pasar saham AS ditutup melemah akibat aksi jual besar-besaran di sektor chip serta meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Pasar keuangan Indonesia pada hari ini masih akan dihadapkan dengan dinamika mulai dari perang hingga investor yang terus mencermati ketahanan fiskal dalam negeri maupun kelanjutan sentimen geopolitik dan ekonomi global.
IHSG dan rupiah nampak mulai melemah seiring dengan rilis data inflasi AS yang kembali menanjak sehingga meningkatkan potensi kenaikan suku bunga oleh The Fed yang memiliki kecenderungan melumpuhkan aset beresiko seperti saham terutama di negara berkembang seperti Indonesia.
Berikut adalah beberapa sentimen pasar hari ini yang perlu diperhatikan oleh investor:
Perkembangan Perang
Presiden Donald Trump mengatakan AS dan Iran berpotensi menandatangani perjanjian damai pada akhir pekan ini yang akan membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran. Namun, Iran menegaskan belum mengambil keputusan final meski sebagian besar isi kesepakatan telah diselesaikan.
Trump mengklaim kesepakatan tersebut akan mengakhiri perang yang telah berlangsung tiga bulan dan memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir. Ia juga menyebut Selat Hormuz akan dibuka kembali segera setelah perjanjian ditandatangani.
Pernyataan Trump muncul setelah ia membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran karena adanya kemajuan dalam negosiasi. Kabar itu mendorong kenaikan saham AS dan penurunan harga minyak.
Meski pembicaraan berlangsung, konflik masih memanas. Dalam beberapa hari terakhir, AS dan Iran tetap saling melancarkan serangan, termasuk di sekitar Selat Hormuz. Perang yang dimulai sejak akhir Februari itu telah menewaskan ribuan orang dan memicu lonjakan harga energi global.
Iran menuntut pencabutan sanksi internasional, pencairan aset yang dibekukan, serta pengakuan atas kendalinya terhadap Selat Hormuz. Sementara itu, Trump menghadapi tekanan politik di dalam negeri akibat tingginya harga bensin dan kekhawatiran Partai Republik terhadap dampak perang menjelang pemilu sela November mendatang.
Trump mengklaim kesepakatan tersebut telah mendapat dukungan sejumlah negara Timur Tengah, termasuk Israel, Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Namun, Israel menegaskan bukan pihak dalam nota kesepahaman yang sedang dibahas antara AS dan Iran.
Piala Dunia 2026 Dimulai
Gelaran Piala Dunia 2026 di beberapa negara di benua Amerika telah dimulai hari ini pada Jumat dini hari tadi pukul 02.00 WIB dengan pertandingan kedua pada pukul 09.00 WIB.
Namun perlu diingat bahwa Piala Dunia memiliki kecenderungan dalam menurunkan likuiditas di bursa saham, sebuah fenomena yang terus terjadi melihat data historis IHSG sejak tahun 2002.
Namun, kemungkinan lesunya aktivitas transaksi kali ini tidak sekadar disebabkan oleh pergeseran fokus investor ke hiburan, melainkan cerminan dari langkah risk-off dalam merespons ketidakpastian makroekonomi global terutama seiring masih berjalannya perang di kawasan Timur Tengah.
Di dalam negeri, pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see akibat masa transisi regulasi free float 15% oleh BEI dan MSCI Classification dan Accessibility Review yang akan diumumkan beberapa waktu ke depan pada bulan Juni 2026 ini.
Selain itu, likuiditas global juga terserap oleh agenda IPO masif seperti SpaceX dan peningkatan rasio kas oleh para manajer investasi. Meskipun turnamen ini tetap berdampak positif bagi sektor konsumsi dan telekomunikasi, sepinya transaksi IHSG secara umum merupakan wujud mitigasi risiko investor terhadap disrupsi global.
Penjualan Eceran Indonesia
BI merilis data penjualan eceran. Pada April 2026, Indeks Penjualan Riil (IPR) tercatat sebesar 226,9. Kinerja tersebut didorong oleh tetap tumbuhnya penjualan secara tahunan pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya, serta Barang Budaya dan Rekreasi.
Secara bulanan, penjualan eceran pada April 2026 tercatat terkontraksi sebesar 11,6% (mtm), sejalan dengan normalisasi permintaan masyarakat setelah periode HBKN Ramadan dan Idulfitri 1447 H.
Penjualan eceran pada Mei 2026 diprakirakan terjaga. IPR Mei 2026 diprakirakan sebesar 225,0, ditopang terutama oleh peningkatan penjualan secara tahunan pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya, dan Barang Lainnya.
Secara bulanan, penjualan eceran pada Mei 2026 diprakirakan sebesar -0,9% (mtm), lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya sebesar -11,6% (mtm). Sementara secara tahunan, penjualan eceran mengalami penurunan cukup signifikan sebesar -3,7% (yoy)
Perkembangan ini dipengaruhi oleh permintaan masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak.
Dari sisi harga, tekanan inflasi tiga bulan yang akan datang, yaitu Juli 2026, diprakirakan relatif stabil, sementara pada enam bulan yang akan datang, yaitu Oktober 2026, diprakirakan meningkat.
Hal ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juli 2026 sebesar 175,8, relatif stabil dibandingkan IEH pada Juni 2026 sebesar 175,6. Sementara itu, IEH Oktober 2026 diprakirakan sebesar 167,6, lebih tinggi dibandingkan IEH September 2026 sebesar 163,2 didorong oleh kenaikan harga bahan baku.
Penjualan Eceran Riil April 2026 Survei Penjualan Eceran (SPE) April 2026 mengindikasikan kinerja penjualan eceran masih terjaga. Secara tahunan, Indeks Penjualan Riil (IPR) April 2026 tercatat sebesar 226,9.
Sejumlah kelompok tercatat masih tumbuh dan menjadi penopang pada periode laporan, antara lain Kelompok Suku Cadang dan Aksesori (indeks 157,5; tumbuh 14,7% (yoy)); Kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya (indeks 82,8; tumbuh 0,6% (yoy)); serta Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi (indeks 60,1; tumbuh 0,7% (yoy)).
Namun demikian, penjualan kelompok lain diindikasikan berada pada zona kontraksi, terutama pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau; Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi; serta Subkelompok Sandang masing-masing dengan indeks sebesar 322,0 (-3,8%, yoy); 68,0 (-26,4%, yoy); dan 88,9 (-7,0%, yoy).
Selanjutnya, secara bulanan, kinerja penjualan eceran juga tercatat menurun sejalan dengan berakhirnya periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 1447 H. IPR April 2026 tercatat sebesar -11,6% (mtm), setelah tumbuh sebesar 10,3% (mtm) pada periode sebelumnya.
Penurunan terjadi pada mayoritas cakupan kelompok dengan kontraksi terdalam pada Kelompok Barang Lainnya (-16,6%, mtm); Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi (-12,5%, mtm); dan Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau (-12,3%, mtm).
PPI AS Mei 2026
Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat kemarin merilis data Indeks Harga Produsen (PPI) periode Mei 2026 yang menunjukkan akselerasi secara tahunan ke level 6,5%.
Capaian ini melampaui ekspektasi pasar yang sebelumnya berada di angka 6,4% dan meningkat dari data bulan April yang direvisi ke bawah menjadi 5,7%.
Kenaikan ini menandai tren laju akselerasi selama empat bulan berturut-turut di tingkat produsen. Selain itu, realisasi di bulan Mei tersebut sekaligus menjadi tingkat inflasi produsen tertinggi yang tercatat di Amerika Serikat sejak November 2022.
Data Klaim Pengangguran AS
Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat kemarin melaporkan bahwa jumlah klaim tunjangan pengangguran awal naik sebanyak 4.000 menjadi 229.000 pada minggu pertama bulan Juni.
Angka ini menyentuh titik tertinggi dalam tiga bulan terakhir dan berada tegas di atas ekspektasi pasar yang awalnya memproyeksikan penurunan ke angka 219.000.
Sementara itu, klaim pengangguran lanjutan turut mencatat kenaikan sebanyak 24.000 menjadi 1.795.000, sedikit di atas estimasi pasar di level 1.780.000.
Di segmen lain, klaim awal yang diajukan oleh pegawai federal juga naik sebanyak 89 menjadi 553, yang saat ini tengah menjadi sorotan seiring upaya pemerintah mengurangi jumlah pekerja publik.
Kendati menjauh dari angka terendah di awal Mei, data ini secara historis masih merefleksikan fundamental pasar tenaga kerja yang cukup solid dan mempertahankan tren tingkat pemutusan hubungan kerja yang rendah.
Kenaikan Suku Bunga ECB
Bank Sentral Eropa kemarin secara resmi memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 2,4%. Langkah pengetatan ini merupakan kenaikan yang pertama kalinya sejak tahun 2023, yang didorong oleh komitmen para pembuat kebijakan untuk menjangkar inflasi agar kembali ke target jangka menengah sebesar 2%.
Keputusan ini merespons langsung lonjakan biaya energi dan risiko inflasi persisten akibat eskalasi perang di Timur Tengah serta gangguan jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Menyusul kebijakan tersebut, Bank Sentral Eropa merevisi naik proyeksi inflasi utama tahun 2026 menjadi 3,0% dari sebelumnya 2,6%, dan proyeksi 2027 menjadi 2,3%.
Inflasi inti juga direvisi naik menjadi 2,5% untuk tahun 2026 dan 2027. Sebaliknya, prospek pertumbuhan ekonomi zona euro justru dipangkas menjadi 0,8% untuk tahun 2026 dan 1,2% untuk tahun 2027.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- Pertumbuhan PDB Inggris Q1 2026
- Neraca Perdagangan Inggris April 2026
- Inflasi Prancis Mei 2026
- Inflasi Spanyol Mei 2026
- Inflasi India Mei 2026
- Inflasi Jerman Mei 2026
- Penganugerahan Grab Bintang 5 Awards, ajang penghargaan kuliner yang dihadirkan oleh Grab Indonesia bersama Kementerian Pariwisata Republik Indonesia
-
Menteri Perdagangan menghadiri acara Campuspreneur di kampus IPB University
-
Kadin Diplomatic Economic Breakfast Meeting di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat. Turut hadir Ketua Umum Kadin Indonesia dan Duta Besar Singapura untuk Indonesia
-
Menteri Komunikasi dan Digital menghadiri acara "Tunggu Anak Siap Jakarta" di Taman Bendera Pusaka, Jakarta Selatan.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
- Pemberitahuan RUPS Rencana Singleterra Tbk (SING)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Surya Dumai Industri Tbk (SUDI)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Mineral Sumberdaya Mandiri Tbk (AKSI)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Panca Global Kapital Tbk (PEGE)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Bumi Citra Permai Tbk (BCIP)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Planet Properindo Jaya Tbk (PLAN)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Greenwood Sejahtera Tbk (GWSA)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Bank China Construction Bank Indonesia Tbk (MCOR)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Galva Technologies Tbk (GLVA)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Timah Tbk (TINS)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Pikko Land Development Tbk (RODA)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Bakrie & Brothers Tbk (BNBR)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Indo Oil Perkasa Tbk (OILS)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Pelangi Indah Canindo Tbk (PICO)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Megalestari Epack Sentosaraya Tbk (EPAC)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Berdikari Pondasi Perkasa Tbk (BDKR)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Cahayaputra Asa Keramik Tbk (CAKK)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Koka Indonesia Tbk (KOKA)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Lotte Chemical Titan Tbk (FPNI)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Murni Sadar Tbk (MTMH)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Newport Marine Services Tbk (BOAT)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Tembaga Mulia Semanan Tbk (TBMS)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Esta Multi Usaha Tbk (ESTA)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Arkadia Digital Media Tbk (DIGI)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Andalan Sakti Primaindo Tbk (ASPI)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Metro Realty Tbk (MTSM)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk (OBAT)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Prima Multi Usaha Indonesia Tbk (PMUI)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Cita Mineral Investindo Tbk (CITA)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Wijaya Karya Beton Tbk (WTON)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Surya Pertiwi Tbk (SPTO)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Emdeki Utama Tbk (MDKI)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai Vale Indonesia Tbk (INCO)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Trimitra Trans Persada Tbk (BLOG)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Estee Gold Feet Tbk (EURO)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Temas Tbk (TMAS)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Intra GolfLink Resorts Tbk (GOLF)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai Pudjiadi Prestige Tbk (PUDP)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai PT Mega Perintis Tbk (ZONE)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai Argha Karya Prima Ind Tbk (AKPI)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai PT Malacca Trust Wuwungan Insurance Tbk (MTWI)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai FKS Multi Agro Tbk (FISH)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai Unilever Indonesia Tbk (UNVR)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai Surya Toto Indonesia Tbk (TOTO)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk (JKON)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk (ATLA)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai Indo Kordsa Tbk (BRAM)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai Mayora Indah Tbk (MYOR)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai Jaya Real Property Tbk (JRPT)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI)
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]