Piala Dunia Datang 4 Tahun Sekali, IHSG Bikin Deg-Degan Tiap Hari
Pasar keuangan Indonesia pada hari ini masih akan dihadapkan dengan dinamika mulai dari perang hingga investor yang terus mencermati ketahanan fiskal dalam negeri maupun kelanjutan sentimen geopolitik dan ekonomi global.
IHSG dan rupiah nampak mulai melemah seiring dengan rilis data inflasi AS yang kembali menanjak sehingga meningkatkan potensi kenaikan suku bunga oleh The Fed yang memiliki kecenderungan melumpuhkan aset beresiko seperti saham terutama di negara berkembang seperti Indonesia.
Berikut adalah beberapa sentimen pasar hari ini yang perlu diperhatikan oleh investor:
Perkembangan Perang
Presiden Donald Trump mengatakan AS dan Iran berpotensi menandatangani perjanjian damai pada akhir pekan ini yang akan membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran. Namun, Iran menegaskan belum mengambil keputusan final meski sebagian besar isi kesepakatan telah diselesaikan.
Trump mengklaim kesepakatan tersebut akan mengakhiri perang yang telah berlangsung tiga bulan dan memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir. Ia juga menyebut Selat Hormuz akan dibuka kembali segera setelah perjanjian ditandatangani.
Pernyataan Trump muncul setelah ia membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran karena adanya kemajuan dalam negosiasi. Kabar itu mendorong kenaikan saham AS dan penurunan harga minyak.
Meski pembicaraan berlangsung, konflik masih memanas. Dalam beberapa hari terakhir, AS dan Iran tetap saling melancarkan serangan, termasuk di sekitar Selat Hormuz. Perang yang dimulai sejak akhir Februari itu telah menewaskan ribuan orang dan memicu lonjakan harga energi global.
Iran menuntut pencabutan sanksi internasional, pencairan aset yang dibekukan, serta pengakuan atas kendalinya terhadap Selat Hormuz. Sementara itu, Trump menghadapi tekanan politik di dalam negeri akibat tingginya harga bensin dan kekhawatiran Partai Republik terhadap dampak perang menjelang pemilu sela November mendatang.
Trump mengklaim kesepakatan tersebut telah mendapat dukungan sejumlah negara Timur Tengah, termasuk Israel, Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Namun, Israel menegaskan bukan pihak dalam nota kesepahaman yang sedang dibahas antara AS dan Iran.
Piala Dunia 2026 Dimulai
Gelaran Piala Dunia 2026 di beberapa negara di benua Amerika telah dimulai hari ini pada Jumat dini hari tadi pukul 02.00 WIB dengan pertandingan kedua pada pukul 09.00 WIB.
Namun perlu diingat bahwa Piala Dunia memiliki kecenderungan dalam menurunkan likuiditas di bursa saham, sebuah fenomena yang terus terjadi melihat data historis IHSG sejak tahun 2002.
Namun, kemungkinan lesunya aktivitas transaksi kali ini tidak sekadar disebabkan oleh pergeseran fokus investor ke hiburan, melainkan cerminan dari langkah risk-off dalam merespons ketidakpastian makroekonomi global terutama seiring masih berjalannya perang di kawasan Timur Tengah.
Di dalam negeri, pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see akibat masa transisi regulasi free float 15% oleh BEI dan MSCI Classification dan Accessibility Review yang akan diumumkan beberapa waktu ke depan pada bulan Juni 2026 ini.
Selain itu, likuiditas global juga terserap oleh agenda IPO masif seperti SpaceX dan peningkatan rasio kas oleh para manajer investasi. Meskipun turnamen ini tetap berdampak positif bagi sektor konsumsi dan telekomunikasi, sepinya transaksi IHSG secara umum merupakan wujud mitigasi risiko investor terhadap disrupsi global.
Penjualan Eceran Indonesia
BI merilis data penjualan eceran. Pada April 2026, Indeks Penjualan Riil (IPR) tercatat sebesar 226,9. Kinerja tersebut didorong oleh tetap tumbuhnya penjualan secara tahunan pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya, serta Barang Budaya dan Rekreasi.
Secara bulanan, penjualan eceran pada April 2026 tercatat terkontraksi sebesar 11,6% (mtm), sejalan dengan normalisasi permintaan masyarakat setelah periode HBKN Ramadan dan Idulfitri 1447 H.
Penjualan eceran pada Mei 2026 diprakirakan terjaga. IPR Mei 2026 diprakirakan sebesar 225,0, ditopang terutama oleh peningkatan penjualan secara tahunan pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya, dan Barang Lainnya.
Secara bulanan, penjualan eceran pada Mei 2026 diprakirakan sebesar -0,9% (mtm), lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya sebesar -11,6% (mtm). Sementara secara tahunan, penjualan eceran mengalami penurunan cukup signifikan sebesar -3,7% (yoy)
Perkembangan ini dipengaruhi oleh permintaan masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak.
Dari sisi harga, tekanan inflasi tiga bulan yang akan datang, yaitu Juli 2026, diprakirakan relatif stabil, sementara pada enam bulan yang akan datang, yaitu Oktober 2026, diprakirakan meningkat.
Hal ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juli 2026 sebesar 175,8, relatif stabil dibandingkan IEH pada Juni 2026 sebesar 175,6. Sementara itu, IEH Oktober 2026 diprakirakan sebesar 167,6, lebih tinggi dibandingkan IEH September 2026 sebesar 163,2 didorong oleh kenaikan harga bahan baku.
Penjualan Eceran Riil April 2026 Survei Penjualan Eceran (SPE) April 2026 mengindikasikan kinerja penjualan eceran masih terjaga. Secara tahunan, Indeks Penjualan Riil (IPR) April 2026 tercatat sebesar 226,9.
Sejumlah kelompok tercatat masih tumbuh dan menjadi penopang pada periode laporan, antara lain Kelompok Suku Cadang dan Aksesori (indeks 157,5; tumbuh 14,7% (yoy)); Kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya (indeks 82,8; tumbuh 0,6% (yoy)); serta Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi (indeks 60,1; tumbuh 0,7% (yoy)).
Namun demikian, penjualan kelompok lain diindikasikan berada pada zona kontraksi, terutama pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau; Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi; serta Subkelompok Sandang masing-masing dengan indeks sebesar 322,0 (-3,8%, yoy); 68,0 (-26,4%, yoy); dan 88,9 (-7,0%, yoy).
Selanjutnya, secara bulanan, kinerja penjualan eceran juga tercatat menurun sejalan dengan berakhirnya periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 1447 H. IPR April 2026 tercatat sebesar -11,6% (mtm), setelah tumbuh sebesar 10,3% (mtm) pada periode sebelumnya.
Penurunan terjadi pada mayoritas cakupan kelompok dengan kontraksi terdalam pada Kelompok Barang Lainnya (-16,6%, mtm); Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi (-12,5%, mtm); dan Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau (-12,3%, mtm).
PPI AS Mei 2026
Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat kemarin merilis data Indeks Harga Produsen (PPI) periode Mei 2026 yang menunjukkan akselerasi secara tahunan ke level 6,5%.
Capaian ini melampaui ekspektasi pasar yang sebelumnya berada di angka 6,4% dan meningkat dari data bulan April yang direvisi ke bawah menjadi 5,7%.
Kenaikan ini menandai tren laju akselerasi selama empat bulan berturut-turut di tingkat produsen. Selain itu, realisasi di bulan Mei tersebut sekaligus menjadi tingkat inflasi produsen tertinggi yang tercatat di Amerika Serikat sejak November 2022.
Data Klaim Pengangguran AS
Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat kemarin melaporkan bahwa jumlah klaim tunjangan pengangguran awal naik sebanyak 4.000 menjadi 229.000 pada minggu pertama bulan Juni.
Angka ini menyentuh titik tertinggi dalam tiga bulan terakhir dan berada tegas di atas ekspektasi pasar yang awalnya memproyeksikan penurunan ke angka 219.000.
Sementara itu, klaim pengangguran lanjutan turut mencatat kenaikan sebanyak 24.000 menjadi 1.795.000, sedikit di atas estimasi pasar di level 1.780.000.
Di segmen lain, klaim awal yang diajukan oleh pegawai federal juga naik sebanyak 89 menjadi 553, yang saat ini tengah menjadi sorotan seiring upaya pemerintah mengurangi jumlah pekerja publik.
Kendati menjauh dari angka terendah di awal Mei, data ini secara historis masih merefleksikan fundamental pasar tenaga kerja yang cukup solid dan mempertahankan tren tingkat pemutusan hubungan kerja yang rendah.
Kenaikan Suku Bunga ECB
Bank Sentral Eropa kemarin secara resmi memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 2,4%. Langkah pengetatan ini merupakan kenaikan yang pertama kalinya sejak tahun 2023, yang didorong oleh komitmen para pembuat kebijakan untuk menjangkar inflasi agar kembali ke target jangka menengah sebesar 2%.
Keputusan ini merespons langsung lonjakan biaya energi dan risiko inflasi persisten akibat eskalasi perang di Timur Tengah serta gangguan jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Menyusul kebijakan tersebut, Bank Sentral Eropa merevisi naik proyeksi inflasi utama tahun 2026 menjadi 3,0% dari sebelumnya 2,6%, dan proyeksi 2027 menjadi 2,3%.
Inflasi inti juga direvisi naik menjadi 2,5% untuk tahun 2026 dan 2027. Sebaliknya, prospek pertumbuhan ekonomi zona euro justru dipangkas menjadi 0,8% untuk tahun 2026 dan 1,2% untuk tahun 2027.
(gls/gls) Addsource on Google