MARKET DATA

Tiba-tiba Keyakinan Warga RI Soal Ekonomi Turun, Ada Apa?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
11 June 2026 11:00
5 Jajanan Kelas Menengah yang Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Foto: Infografis/ 5 Jajanan Kelas Menengah yang Tak Pernah Dibeli Orang Kaya/ Edward Ricardo

Jakarta, CNBC Indonesia - Harapan masyarakat terhadap ekonomi Indonesia mulai berhadapan dengan realita yang tidak sepenuhnya sesuai ekspektasi.

Bank Indonesia (BI) baru saja merilis laporan Survei Konsumen periode Mei 2026. Hasilnya, keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tercatat melemah dibandingkan bulan sebelumnya.

BI melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Mei 2026 turun menjadi 120,9, lebih rendah 2,1 poin dibandingkan April 2026 yang berada di level 123,0. Meski melemah, posisi IKK masih berada di zona optimistis karena tetap berada di atas level 100.

Namun, penurunan ini tetap perlu dicermati. Pasalnya, IKK Mei 2026 menjadi yang terendah sejak September 2025. Pada periode tersebut, keyakinan konsumen ikut tertekan seiring meningkatnya ketidakpastian di dalam negeri akibat demonstrasi besar yang terjadi di berbagai daerah di Tanah Air.

Dengan kondisi sosial dan ekonomi yang sempat kurang stabil, kepercayaan masyarakat terhadap prospek perekonomian kala itu ikut mengalami tekanan. Kini, meski situasinya berbeda, penurunan IKK kembali menunjukkan bahwa optimisme konsumen mulai sedikit terkikis.


Pelemahan keyakinan konsumen kali ini juga tak lepas dari kondisi pasar keuangan domestik yang sedang berada dalam tekanan. Nilai tukar rupiah masih dibayangi pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga sempat terjun cukup dalam.

Kondisi tersebut membuat persepsi masyarakat terhadap perekonomian ikut lebih berhati-hati. Sebab, tekanan pada rupiah dan pasar saham kerap menjadi sinyal bahwa ekonomi sedang menghadapi ketidakpastian yang lebih besar, baik dari sisi global maupun domestik.

Selain IKK, laporan Survei Konsumen BI juga menunjukkan tekanan pada sejumlah indeks pembentuknya. Pelemahan tidak hanya terlihat dari ekspektasi masyarakat ke depan, tetapi juga dari penilaian konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini.

Salah satu yang cukup mencolok adalah Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE). Pada Mei, IKE turun menjadi 112,2, dari sebelumnya 115,1 pada April. 

Penurunan IKE mengindikasikan bahwa persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini mulai melemah. Indeks ini mencerminkan penilaian masyarakat terhadap kondisi penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan pembelian barang tahan lama dibandingkan enam bulan sebelumnya.

Masyarakat mulai merasakan kondisi ekonomi saat ini tidak sekuat bulan sebelumnya.

Meski masih berada di zona optimistis, pelemahan yang cukup besar memberi sinyal bahwa daya beli, persepsi terhadap pendapatan, hingga kondisi pasar tenaga kerja mulai terasa lebih berat.

Indeks Penghasilan Saat Ini Turun Paling Dalam

Jika dilihat lebih rinci, penurunan terbesar terjadi pada Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI). Indeks ini turun 4,9 poin menjadi 123,2 pada Mei 2026, dari 128,1 pada April 2026.

IPSI menggambarkan penilaian konsumen terhadap kondisi penghasilan saat ini dibandingkan enam bulan sebelumnya, atau dalam konteks Mei 2026 berarti dibandingkan sekitar Desember 2025.

Penurunan ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat mulai menilai kondisi penghasilannya saat ini tidak sebaik ekspektasi sebelumnya. Padahal, pada akhir 2025 atau awal 2026, optimisme masyarakat terhadap tahun baru masih cukup kuat.

Namun, realitas pada Mei 2026 menunjukkan bahwa persepsi terhadap pendapatan mulai menurun.

Hal ini bisa menjadi sinyal bahwa masyarakat mulai lebih berhati-hati dalam melihat kondisi keuangan rumah tangga, terutama di tengah tekanan harga, pelemahan rupiah, serta ketidakpastian ekonomi yang masih membayangi.

Ketersediaan Lapangan Kerja Ikut Melemah

Tekanan juga terlihat pada Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK). Indeks ini turun menjadi 105,0 pada Mei 2026, dari 108,8 pada April atau turun 3,8 poin.

Penurunan IKLK mengindikasikan bahwa persepsi masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja saat ini juga ikut menurun dibandingkan enam bulan sebelumnya. Ini berarti konsumen mulai melihat peluang kerja tidak sekuat sebelumnya.

Kondisi ini penting dicermati karena persepsi terhadap lapangan kerja sangat berkaitan dengan keyakinan konsumen.

Ketika masyarakat merasa peluang kerja lebih terbatas, mereka cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.

Jika pelemahan persepsi terhadap penghasilan dan lapangan kerja terus berlanjut, maka konsumsi rumah tangga berpotensi ikut tertahan. Padahal, konsumsi masyarakat merupakan salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular