Harga Minyak Ambruk, Fed "Galak": Dunia Tunggu 2 Kabar Genting dari AS
Memasuki perdagangan hari ini, pelaku pasar dalam negeri masih akan dihadapkan pada berbagai sentimen baik dari dalam maupun luar negeri.
Pelemahan harga minyak bisa mengurangi tekanan pasar hari ini tetapi pernyataan hawkish The Fed bisa membuat investor cemas.
Pasar global juga menunggu dua kabar penting dari AS hari ini yakni inflasi PCE dan data pertumbuhan ekonomi.
Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:
1. Harga Minyak Dunia Ambruk
Harga minyak dunia melemah pada Selasa (29/9/2026), seiring pemulihan ekspor minyak Timur Tengah meredakan kekhawatiran pasokan akibat perang AS-Israel dengan Iran.
Minyak Brent turun 2,6% menjadi US$102,59 per barel, sedangkan WTI merosot 3,5% ke US$89,38 per barel. Meski terkoreksi, Brent masih menuju kenaikan bulanan sekitar 13% dan WTI sekitar 4%.
Pemulihan aliran minyak melalui pipa East-West Arab Saudi dan kembali beroperasinya pelabuhan Yanbu menopang prospek ekspor. Ekspor minyak Timur Tengah mencapai 16,328 juta barel per hari pada September, tertinggi sejak perang dimulai akhir Februari.
Namun, ketidakpastian konflik dan potensi gangguan pasokan masih membayangi pasar. Presiden AS Donald Trump juga mempertimbangkan sejumlah langkah untuk menekan harga diesel, termasuk pelonggaran aturan penjualan bahan bakar.
3. The Fed Sinyalkan Bunga AS Bisa Naik Lagi
Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams menyatakan The Fed masih memiliki waktu untuk mencermati data ekonomi sebelum kembali menaikkan suku bunga. Namun, satu kenaikan tambahan kemungkinan diperlukan sebelum akhir 2026.
"Jika perekonomian berkembang sesuai proyeksi, satu kenaikan suku bunga tambahan mungkin tepat dilakukan pada akhir tahun ini," ujar Williams, Selasa.
Pernyataan tersebut muncul setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4% pada September.
Sebelum pidatonya, pasar memperkirakan peluang besar kenaikan bunga pada pertemuan 27-28 Oktober. Namun, setelah pernyataan Williams, taruhan tersebut turun menjadi sekitar 50%.
Williams menegaskan inflasi tetap menjadi fokus utama, dengan target The Fed sebesar 2%. Ia memperkirakan inflasi AS mencapai 3,5% pada akhir tahun ini, sebelum mereda pada 2027 dan kembali ke target pada 2028.
Tekanan inflasi dipicu tarif perdagangan Presiden Donald Trump, kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah, serta investasi AI.
Williams juga memperkirakan ekonomi AS tumbuh 2,25% pada 2026, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan mencapai 4% pada 2027.
3. Airlangga: Pelemahan IHSG dan Rupiah Masih Dinamika Pasar
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pelemahan IHSG dan rupiah masih merupakan dinamika pasar yang perlu dilihat dalam perspektif jangka menengah. Pemerintah bersama Bank Indonesia disebut terus memantau pergerakan nilai tukar, sementara di pasar saham BEI juga telah kembali mengaktifkan transaksi short selling sejak 15 September 2026.
"Ya, itu juga biasa. Kalau kita lihat kan kita ambil mid-termnya, tapi tidak short day," ujar Airlangga.
Terkait rupiah yang sempat menembus Rp18.000 per dolar AS, Airlangga juga menekankan bahwa penguatan dan pelemahan merupakan bagian dari mekanisme pasar.
"Ya ini kan namanya market, ya market selalu menguat dan melemah dan pemerintah terus memonitor dan tentu BI juga melihat semuanya," tegasnya.
4. DPR Sahkan UU APBN 2027, Ini Catatan Tiap Fraksi
DPR RI resmi mengesahkan RUU APBN 2027 menjadi undang-undang. Seluruh fraksi menyatakan menerima, namun masing-masing memberikan sejumlah catatan terhadap arah dan pelaksanaan anggaran tahun depan.
- PDIP: Menekankan bahwa APBN merupakan uang rakyat, sehingga pelaksanaannya harus tertib, transparan, efisien, efektif, bertanggung jawab, serta memperhatikan keadilan dan kepatutan.
- Golkar: Mendukung kelanjutan hilirisasi, industrialisasi, serta penguatan kedaulatan pangan dan energi. Golkar juga meminta penguatan Coretax, efektivitas transfer ke daerah, local taxing power, dan pengelolaan pembiayaan.
- Gerindra: Mendukung target tax ratio 10,4% terhadap PDB pada 2027. Pemerintah didorong memperluas basis pajak dan mencari sumber penerimaan baru secara hati-hati tanpa membebani dunia usaha.
- NasDem: Menilai keberhasilan APBN tidak cukup dilihat dari besarnya anggaran, tetapi dari dampaknya terhadap pertumbuhan, penciptaan lapangan kerja, daya beli, dan pemerataan kesejahteraan. Belanja pendidikan Rp824 triliun juga diminta berorientasi pada peningkatan kualitas modal manusia.
- PKB: Menyoroti target rasio gini 0,360-0,365 dan pentingnya memastikan pertumbuhan sektor bernilai tambah tinggi tidak terkonsentrasi di wilayah atau kelompok tertentu. Penguatan ekonomi pedesaan dan perlindungan kelompok menengah bawah juga menjadi perhatian.
- PKS: Menekankan bahwa target pertumbuhan ekonomi 6% harus bersifat inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan. Pemerintah juga didorong memperkuat penerimaan perpajakan Rp2.911 triliun serta menekan praktik illegal transfer pricing, under-invoicing, dan penggelapan pajak.
- PAN: Mendukung agenda kedaulatan pangan, penguatan ekonomi desa, serta peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan. PAN juga menekankan agar pajak tidak menekan usaha kecil, subsidi tepat sasaran, dan program prioritas memberi manfaat langsung kepada masyarakat.
- Demokrat: Mendorong APBN 2027 menjaga stabilitas ekonomi sekaligus menjadi bagian dari strategi transformasi ekonomi nasional. Pembangunan dinilai perlu menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat, membuka kesempatan, dan memperkuat kemandirian.
5. Lowongan Kerja AS Turun ke Level Terendah 5 Bulan
Jumlah lowongan pekerjaan di Amerika Serikat (AS) turun menjadi 7,079 juta pada Agustus 2026, berkurang 256.000 dibandingkan posisi Juli yang direvisi naik menjadi 7,335 juta.
Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 7,23 juta dan menjadi level terendah dalam lima bulan terakhir.
Penurunan lowongan terutama terjadi pada sektor kesehatan dan bantuan sosial yang berkurang 115.000, jasa profesional dan bisnis turun 119.000, manufaktur turun 54.000, serta konstruksi berkurang 48.000.
Sementara itu, jumlah perekrutan relatif stabil di 5,2 juta, sedangkan total pemutusan hubungan kerja dan pekerja yang keluar tetap sekitar 5,1 juta. Jumlah pekerja yang mengundurkan diri (quits) bertahan di 3,1 juta, sementara PHK dan pemberhentian berada di sekitar 1,6 juta.
Data tersebut menunjukkan permintaan tenaga kerja AS mulai mendingin, meski pergerakan perekrutan dan pemutusan hubungan kerja relatif stabil.
6. PMI Manufaktur China
China akan merilis data RatingDog Manufacturing PMI periode September pada hari ini, Rabu (30/9/2026) pukul 08.45 WIB.
Pada Agustus 2026, RatingDog Manufacturing PMI China naik menjadi 51,5, dari 50,9 pada Juli, sekaligus melampaui ekspektasi pasar sebesar 51,0. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada di zona ekspansi.
Kenaikan tersebut ditopang oleh pertumbuhan output dan pesanan baru yang lebih cepat. Pesanan baru meningkat selama 15 bulan berturut-turut, periode terpanjang sejak 2018, sementara penjualan luar negeri mencatat kenaikan tercepat dalam enam bulan. Produksi juga tumbuh selama sembilan bulan beruntun dan mencatat ekspansi terkuat dalam tiga bulan.
Rilis September akan dicermati untuk melihat apakah momentum manufaktur China dapat bertahan. PMI yang tetap berada di atas 50 dapat memperkuat sinyal pemulihan aktivitas industri dan permintaan China, yang penting bagi Indonesia sebagai salah satu mitra dagang utama. Sebaliknya, penurunan kembali mendekati atau di bawah 50 dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi China dan permintaan komoditas global.
7. Inflasi PCE AS
Amerika Serikat (AS) akan merilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) periode Agustus pada hari ini, Rabu (30/9/2026) pukul 19.30 WIB. Data ini menjadi salah satu indikator utama yang dicermati Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Pada Juli 2026, inflasi PCE tercatat 3,7% secara tahunan (year-on-year/yoy), tidak berubah dari bulan sebelumnya dan lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 3,6%. Sementara itu, inflasi inti PCE yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi berada di 3,3% yoy, sesuai ekspektasi pasar tetapi masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.
Tingginya inflasi PCE menunjukkan tekanan harga di AS masih belum sepenuhnya mereda. Inflasi inti bahkan masih berada di atas 3%, sehingga pasar akan mencermati apakah data Agustus mulai menunjukkan tren penurunan atau justru tekanan harga tetap persisten.
Rilis Agustus akan menjadi penting bagi ekspektasi arah suku bunga The Fed.
Inflasi yang lebih rendah dapat memperkuat ruang bagi bank sentral AS untuk melonggarkan kebijakan moneter, sementara inflasi yang tetap tinggi atau kembali meningkat dapat membuat The Fed lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.
Perubahan ekspektasi tersebut berpotensi mempengaruhi dolar AS, yield US Treasury, serta arus modal ke pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
8. Pertumbuhan Ekonomi AS
Amerika Serikat (AS) akan merilis estimasi lanjutan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II-2026 pada hari ini, Rabu (30/9/2026) pukul 19.30 WIB.
Pada estimasi sebelumnya, ekonomi AS tumbuh 1,5% secara annualized pada kuartal II-2026, melambat dari 2,1% pada kuartal sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut ditopang konsumsi rumah tangga yang melonjak 3,4% dan investasi tetap yang tumbuh 7,0%, termasuk investasi nonresidensial sebesar 8,5% seiring kuatnya belanja peralatan dan produk kekayaan intelektual yang didorong permintaan terkait kecerdasan buatan (AI).
Di sisi lain, belanja pemerintah turun 1,0%, sedangkan perdagangan internasional menjadi penekan pertumbuhan setelah impor melonjak 12,5%, lebih tinggi dibandingkan kenaikan ekspor sebesar 4,5%.
Rilis terbaru akan dicermati untuk melihat apakah ekonomi AS masih menunjukkan ketahanan di tengah inflasi yang tetap tinggi dan dinamika pasar tenaga kerja.
Revisi pertumbuhan yang lebih kuat dapat menunjukkan ekonomi masih solid dan membuat The Fed memiliki ruang untuk lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.
Sebaliknya, revisi turun dapat memperkuat kekhawatiran perlambatan ekonomi dan meningkatkan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter.
(slm/slm)