Xi Jinping Berambisi Mengikat Rakyat China Lewat Festival Mooncake
Jakarta, CNBC Indonesia - China sedang menghidupkan kembali tradisi yang dulu sempat dianggap sebagai simbol masa lalu.
Mid-Autumn Festival, yang pernah tersisih dalam dorongan negara menuju modernitas, kini kembali dirayakan secara meriah.
Di Zhangzhou, Provinsi Fujian, perayaan tak lagi sebatas menyantap kue bulan atau mooncake. Kota dihiasi ornamen bulan, sementara masyarakat bisa menikmati makan malam di tempat perkemahan mewah.
Namun, di balik kemeriahan tersebut, ada agenda yang lebih besar. Pemerintah China menjadikan festival tradisional sebagai instrumen untuk memperkuat identitas budaya nasional sekaligus menampilkan Partai Komunis China sebagai penjaga tradisi dan warisan bangsa.
Dari Tradisi yang Ditekan Menjadi Identitas Nasional China
Kebangkitan festival tradisional menandai perubahan besar dalam sejarah modern China.
Pada awal abad ke-20, kaum reformis menganggap kalender lunar dan berbagai festival tradisional sebagai simbol keterbelakangan. Setelah Republik China berdiri pada 1912, negara tersebut mulai mengadopsi kalender Gregorian.
Partai Komunis China kemudian mengambil sikap lebih keras dengan melabeli sejumlah tradisi sebagai "takhayul feodal".
Tahun Baru Imlek bahkan sempat dilarang selama Revolusi Kebudayaan, sebelum akhirnya dipulihkan pada 1980.
Kue bulan yang baru dipanggang ditata dalam wadah plastik satuan untuk dikemas di dapur pembuatan kue menjelang Festival Pertengahan Musim Gugur—saat kue tradisional ini akan dibagikan kepada keluarga dan teman sebagai simbol reuni dan kebersamaan—di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 10 September 2026. (REUTERS/Annice Lyn) Foto: Kue bulan yang baru dipanggang ditata dalam wadah plastik satuan untuk dikemas di dapur pembuatan kue menjelang Festival Pertengahan Musim Gugur—saat kue tradisional ini akan dibagikan kepada keluarga dan teman sebagai simbol reuni dan kebersamaan—di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 10 September 2026. (REUTERS/Annice Lyn) |
Dua dekade kemudian, sikap tersebut berbalik. Pada 2005, Partai Komunis menyerukan pelestarian sejumlah festival tradisional, termasuk Mid-Autumn Festival, Qingming Festival atau Festival Bersih-Bersih Makam, serta Dragon Boat Festival.
Di bawah kepemimpinan Xi Jinping, kebangkitan tradisi mendapat dimensi politik yang semakin kuat. Festival tradisional diposisikan sebagai bagian dari upaya membangun "kepercayaan diri budaya China".
Media pemerintah turut menggunakan narasi seperti "hidup di bawah bulan yang sama" untuk menekankan ikatan antar-etnis, keluarga, hingga masyarakat di kedua sisi Selat Taiwan.
Dengan demikian, festival tidak lagi sekadar menjadi warisan masa lalu. Tradisi tersebut kini menjadi bagian dari cara China mendefinisikan identitas nasionalnya di masa kini.
Festival Tradisional China Kini Jadi Mesin Ekonomi
Meski mendapat dukungan pemerintah, kebangkitan festival tidak sepenuhnya digerakkan oleh negara. Bagi masyarakat, perayaan tetap memiliki hubungan erat dengan keluarga dan tradisi.
Di Fujian, misalnya, banyak anak muda yang bekerja atau belajar di kota lain kembali ke kampung halaman untuk merayakan festival bersama keluarga.
Pada saat yang sama, berbagai kota di China mulai mengembangkan festival tradisional menjadi daya tarik wisata.
Seorang pekerja toko roti membawa nampan berisi kue bulan yang baru dipanggang melintasi area produksi di dapur pembuatan kue menjelang Festival Pertengahan Musim Gugur—saat kue tradisional ini akan dibagikan kepada keluarga dan teman sebagai simbol reuni dan kebersamaan—di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 10 September 2026. (REUTERS/Annice Lyn) Foto: Seorang pekerja toko roti membawa nampan berisi kue bulan yang baru dipanggang melintasi area produksi di dapur pembuatan kue menjelang Festival Pertengahan Musim Gugur—saat kue tradisional ini akan dibagikan kepada keluarga dan teman sebagai simbol reuni dan kebersamaan—di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 10 September 2026. (REUTERS/Annice Lyn) |
Zhangzhou menggelar pertunjukan budaya, Xi'an menyelenggarakan pertunjukan puisi bertema bulan, sementara kota-kota lainnya menawarkan pengalaman kuliner dan tradisi lokal.
Potensi ekonominya terlihat dari perayaan berskala besar seperti Spring Festival atau Tahun Baru Imlek. Dalam empat tahun terakhir, jumlah perjalanan domestik dan pengeluaran masyarakat selama libur tersebut terus meningkat.
Festival pun berkembang menjadi titik temu antara budaya, pariwisata, dan konsumsi.
Pemerintah daerah memiliki insentif ekonomi untuk membuat perayaan semakin menarik, sementara masyarakat memperoleh lebih banyak pilihan untuk menikmati tradisi lama dengan cara yang lebih modern.
Kebangkitan festival akhirnya tidak hanya memperkuat pelestarian budaya, tetapi juga membuka peluang bagi sektor pariwisata, kuliner, dan ekonomi lokal.
Saat Tradisi yang Dihidupkan Negara Mulai Sulit Dikendalikan
Namun, kebangkitan tradisi juga menghadirkan dilema bagi Partai Komunis China. Semakin masyarakat kembali menggali tradisi, semakin sulit negara menentukan makna dan arah perkembangannya.
Di Zhangzhou, misalnya, kuil masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Namun, pengembangannya membutuhkan persetujuan otoritas agama, ajarannya harus mengikuti interpretasi negara, dan tempat ibadah diwajibkan memasang bendera nasional.
Persoalan identitas juga muncul. Banyak festival yang dipromosikan pemerintah berakar pada budaya Han, sementara kelompok etnis lain memiliki tradisi yang berbeda.
Tahun Baru Imlek, misalnya, bukan merupakan festival tradisional utama bagi masyarakat Uyghur yang mayoritas beragama Islam.
Sejumlah aktivis menyebut sebagian warga Uyghur menghadapi tekanan untuk meminum alkohol dan menyantap pangsit berisi daging babi sebagai bentuk partisipasi dalam perayaan tersebut.
Di sisi lain, kebangkitan tradisi juga berpotensi menghidupkan kembali peran kuil, guru Konfusianisme, dan komunitas lokal sebagai sumber otoritas moral di luar negara.
Di sinilah paradoks kebijakan Xi Jinping muncul. Partai Komunis berupaya menghidupkan kembali tradisi lama untuk memperkuat identitas nasional sekaligus membangun citra sebagai penjaga budaya China.
Namun, tradisi yang telah hidup jauh sebelum berdirinya Partai Komunis tidak selalu dapat sepenuhnya dikendalikan oleh negara.
(mae/mae)
