4 Jersey Lokal Dikenang di Piala Dunia: Cheetah Iran-Mosaik Uzbekistan
Jakarta, CNBCÂ Indonesia - Adidas, Nike, dan Puma masih menjadi penguasa jersey Piala Dunia 2026. Namun, kehadiran jersey lokal di Piala Dunia 2026 juga mencuri perhatian.
Dari 48 negara peserta, sebanyak 37 tim menggunakan seragam buatan tiga merek olahraga tersebut. Namun, di balik dominasi itu, semakin banyak negara memilih produsen yang lebih kecil, bahkan merek lokal, untuk tampil di panggung sepak bola terbesar di dunia.
Data dari Tonton Sports menunjukkan Adidas menjadi pemasok terbanyak dengan 14 tim nasional, disusul Nike (12) dan Puma (11). Sementara itu, 11 negara lainnya terbagi ke dalam 10 produsen berbeda.
Kelme menjadi satu-satunya merek di luar tiga besar yang memasok lebih dari satu tim, sedangkan sisanya hanya menaungi satu negara.
Â
Menariknya, sebagian produsen tersebut bukan perusahaan global, melainkan merek lokal yang sudah lama tumbuh bersama sepak bola negaranya.
Marathon dari Ekuador, Majid dari Iran, Saeta dari Haiti, hingga 7Saber dari Uzbekistan memanfaatkan Piala Dunia bukan sekadar sebagai ajang olahraga, tetapi juga etalase identitas nasional melalui desain jersey yang mereka usung.
 Brand Lokal Mulai Unjuk Gigi
Meski tiga raksasa masih mendominasi, Piala Dunia 2026 juga memberi panggung bagi produsen yang lebih kecil.
Sebanyak 11 negara memilih 10 merek di luar Adidas, Nike, dan Puma. Kelme menjadi pengecualian dengan memasok dua tim, yakni Bosnia dan Herzegovina serta Yordania.
Sisanya masing-masing hanya memasok satu negara, mulai dari Marathon (Ekuador), Majid (Iran), Saeta (Haiti), Capelli (Cape Verde), Umbro (DR Kongo), Jako (Irak), Reebok (Panama), Kappa (Tunisia), hingga 7Saber (Uzbekistan).
Pilihan tersebut menunjukkan bahwa tidak semua federasi sepak bola mengejar nama besar. Sejumlah negara justru mempertahankan kemitraan dengan produsen dalam negeri yang dinilai lebih leluasa mengangkat identitas nasional melalui desain jersey.
Iran Pilih Majid, Bawa Misi Konservasi ke Piala Dunia
Di antara seluruh merek lokal yang tampil di Piala Dunia 2026, Majid dari Iran menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian. Alih-alih menggandeng Adidas atau Nike, Tim Melli kembali mempercayakan jersey mereka kepada produsen dalam negeri.
Desain terbaru Majid mempertahankan warna putih khas Iran, tetapi menghadirkan kembali gambar Asiatic cheetah berwarna abu-abu di bagian depan jersey.
Motif tersebut bukan sekadar elemen visual, melainkan simbol kampanye pelestarian cheetah Asia yang populasinya terus menyusut dan kini termasuk satwa paling terancam punah di dunia.
Jersey Timnas Iran produksi dari Majid. (Instagram/iran.jersey) Foto: Jersey Timnas Iran produksi dari Majid. (Instagram/iran.jersey) |
Selain itu, kedua lengan jersey diberi pola menyerupai tutul cheetah, sementara ujung lengan dihiasi warna bendera Iran. Sentuhan tersebut membuat identitas nasional tetap terasa tanpa mengubah karakter klasik jersey Iran yang sudah dikenal selama bertahun-tahun.
Bagi Iran, jersey Piala Dunia kali ini bukan hanya perlengkapan pertandingan. Seragam tersebut juga menjadi media untuk membawa isu konservasi ke panggung olahraga yang disaksikan miliaran orang.
Uzbekistan Angkat Warisan Arsitektur
Uzbekistan juga memilih bertahan dengan produsen lokal, 7Saber, untuk penampilan perdananya di Piala Dunia dengan format 48 peserta.
Jersey Timnas Uzbekistan produksi dari 7Saber. (Instagram/uzbekistanfa) Foto: Jersey Timnas Uzbekistan produksi dari 7Saber. (Instagram/uzbekistanfa) |
Alih-alih menggunakan pola grafis generik, 7Saber memasukkan motif mosaik berukuran besar di bagian bawah jersey. Desain tersebut terinspirasi dari arsitektur bersejarah Uzbekistan, termasuk bangunan-bangunan bermosaik yang menjadi ciri kota-kota seperti Samarkand.
Identitas nasional juga muncul melalui kombinasi warna bendera Uzbekistan di bagian kerah, sementara tulisan "TIME TO WIN" ditempatkan pada bagian dalam jersey. Pendekatan ini membuat desain Uzbekistan lebih dekat dengan identitas budaya dibanding sekadar mengikuti tren desain global.
Marathon Sudah Bersama Ekuador Sejak 1996
Berbeda dengan banyak tim nasional yang beberapa kali berganti pemasok apparel, Ekuador mempertahankan kemitraannya dengan Marathon Sports yang telah berlangsung sejak 1996.
Untuk Piala Dunia 2026, Marathon memperkenalkan tiga jersey, yakni kandang, tandang, dan third kit, dengan pendekatan desain yang serupa. Ketiganya menggunakan pola geometris timbul dan garis-garis bertekstur yang terinspirasi dari kekayaan alam serta keanekaragaman hayati Ekuador.
Jersey Timnas Ekuador produksi dari marathon sports. (Instagram/marathon_Ecuador) Foto: Jersey Timnas Ekuador produksi dari marathon sports. (Instagram/marathon_Ecuador) |
Di bagian dalam jersey, Marathon menyematkan kalimat "Soñar, Trascender y Hacer Historia" atau "Dream, Transcend and Make History". Pesan tersebut ditujukan bagi pemain maupun suporter sebagai pengingat bahwa Piala Dunia bukan sekadar kompetisi, tetapi kesempatan menciptakan sejarah.
Jersey Haiti Sempat Ditolak FIFA
Tidak semua cerita jersey Piala Dunia berakhir mulus. Haiti justru harus mengubah desain resminya setelah melalui proses persetujuan FIFA.
Produsen lokal Saeta semula memasukkan ilustrasi Pertempuran Vertières pada 1803, pertempuran terakhir dalam Revolusi Haiti yang menjadi bagian penting menuju kemerdekaan negara tersebut. Namun FIFA meminta gambar tersebut dihapus karena dinilai mengandung unsur politik.
Saeta menyatakan desain itu bukan dimaksudkan sebagai pernyataan politik, melainkan penghormatan kepada laki-laki dan perempuan yang telah berkontribusi bagi masa depan Haiti. Meski demikian, perusahaan akhirnya mengikuti keputusan FIFA dan mengganti desain tersebut sebelum turnamen dimulai.
Kasus Haiti memperlihatkan bahwa di panggung Piala Dunia, jersey tidak tentang desain atau teknologi bahan. Simbol sejarah dan identitas nasional pun tetap harus berada dalam batas aturan yang ditetapkan FIFA.
Jersey Timnas Haiti produksi dari Saeta USA. (Instagram/saetausa) Foto: Jersey Timnas Haiti produksi dari Saeta USA. (Instagram/saetausa) |
source on Google



