Wall Street Pesta Pora, RI Masih Cemas Tunggu Data Pertumbuhan Ekonomi
Pasar keuangan Indonesia hari ini akan dihadapkan pada sentimen besar yakni pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026. Data ini sangat penting karena menjadi barometer daya beli masyarakat hingga laju investasi pada April-Juni 2026.
Dari luar negeri, perdamaian yang mendekat, melemahnya harga minyak, indeks dolar dan imbal hasil US Treasury serta rekor Wall Street diharapkan bisa menjadi katalis positif hari ini.
1. Perkembangan Perang, Damai Mendekat
Amerika Serikat (AS) dan Iran berpeluang mencapai kesepakatan pada untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menjamin kebebasan pelayaran bagi kapal komersial.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kedua negara sedang berunding dan peluang tercapainya kesepakatan cukup besar. Jika tercapai, kapal-kapal yang selama ini tertahan di Teluk Persia dapat kembali berlayar tanpa dikenakan biaya transit oleh Iran.
Harapan kesepakatan ini langsung menekan harga minyak. Minyak mentah AS anjlok hampir 6% ke bawah US$76 per barel. Bessent menilai harga energi, pupuk, produk kilang, dan gas industri berpotensi turun lebih lanjut jika arus pelayaran kembali normal.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga mengungkapkan pembicaraan antara Oman dan Iran menunjukkan kemajuan, meski belum mencapai kesepakatan final.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengaku membatalkan serangan besar ke Iran demi membuka ruang negosiasi terkait Selat Hormuz. Namun, kesepakatan yang sempat ditandatangani pada 17 Juni lalu gagal karena perbedaan pandangan mengenai jalur pelayaran yang boleh digunakan kapal di selat tersebut.
Sementara itu, Qatar menyatakan mediasi untuk mengakhiri konflik AS-Iran menunjukkan kemajuan, memicu harga minyak Brent jatuh lebih dari 5% karena pasar berharap Selat Hormuz segera dibuka kembali.
Presiden AS Donald Trump dan Emir Qatar Sheikh Tamim membahas upaya mempersempit perbedaan antara Washington dan Teheran. Namun Iran membantah klaim Trump bahwa negosiasi langsung sudah berlangsung.
Meski demikian, Selat Hormuz masih praktis tertutup dan risiko keamanan pelayaran tetap tinggi. AS menyebut pembicaraan untuk membuka kembali jalur strategis yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia itu terus mengalami kemajuan.
Di tengah upaya diplomasi, perang yang telah berlangsung lebih dari lima bulan juga memunculkan kekhawatiran soal menipisnya stok rudal jarak jauh militer AS. Sementara itu, Iran tetap menuntut kendali yang lebih besar atas lalu lintas kapal di Selat Hormuz.
2. Harga Minyak Melandai, Dolar dan Imbal Hasil US Treasury Melemah
Kabar baik datang dari komoditas energi.
Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup turun 5,% ke US$75,77 per barel. Sementara minyak Brent, patokan internasional, merosot 5,26% ke US$79,36 per barel.
Penurunan ini diharapkan ikut menekan inflasi AS dan global. Sebagai dampaknya, indeks dolar langsung jatuh ke 99,85 atau posisi terendahnya ejak 17 Juni 2026. Sementara itu, imbal hasil US Treasury juga jatuh ke 4,627% atau posisi terendahnya sejak 29 Juli 2026.
Indeks dolar yang melandai menandai investor tengah menjual dolar AS dan mengalihkannya ke instrumen lain. Mereka diharapkan kembali membeli aset dari Emerging Market, termasuk rupiah sehingga mata uang Garuda bisa menguat.
Melemahnya imbal hasil US Treasury juga menjadi kabar baik karena bisa menekan imbal hasil SBN karena diharapkan ada aliran inflow ke pasar keuangan dalam negeri.
3. Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2026
Pelaku pasar menunggu sentimen terbesar hari ini yakni pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026.
Ekonomi Indonesia diperkirakan masih tumbuh di atas 5% pada kuartal II-2026, meski lajunya mulai melambat. Berdasarkan konsensus CNBC Indonesia terhadap 15 lembaga, pertumbuhan ekonomi diproyeksi mencapai 5,12% secara tahunan (yoy).
Jika sesuai dengan data yang akan diumumkan BPS, angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5,61% pada kuartal I-2026. Perlambatan dipicu meredanya belanja pemerintah, melambatnya ekspor, serta konsumsi masyarakat yang tak lagi mendapat dorongan kuat dari momentum Ramadan dan Lebaran.
Ekonomi Indonesia diperkirakan melambat dipicu meredanya belanja pemerintah, melemahnya konsumsi pasca-Lebaran, serta tekanan dari sektor perdagangan.
"Kami memperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia melambat menjadi 5,20% yoy pada kuartal II-2026, turun dari 5,61% yoy pada kuartal I-2026, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 5,12% yoy pada kuartal II-2025," tulis Office of Chief Economist Bank Mandiri dalam risetnya.
Konsumsi masyarakat masih menjadi penopang utama ekonomi Indonesia.
Namun, dorongannya pada kuartal II-2026 diperkirakan tidak sekuat kuartal I karena momentum Ramadan dan Lebaran lebih banyak terjadi pada awal tahun.
Perlambatan tersebut sejalan dengan melemahnya sejumlah indikator konsumi, terutama penjualan ritel.
Saat konsumsi mulai normal, investasi menjadi salah satu penahan perlambatan ekonomi pada kuartal II-2026.
Kenaikan penjualan semen menunjukkan aktivitas konstruksi dan infrastruktur masih berjalan cukup kuat. Hal ini menjadi sinyal positif bagi investasi, terutama dari sisi pembangunan fisik.
Belanja pemerintah masih menjadi salah satu penopang ekonomi pada kuartal II-2026. Namun, lajunya tidak sekencang kuartal I yang mendapat dorongan besar dari pembayaran THR dan realisasi awal program prioritas.
3. Penduduk RI Bertambah Menjadi 290 Juta
Jumlah penduduk Indonesia resmi menembus 290 juta jiwa. Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri mencatat populasi Indonesia mencapai 290.125.073 jiwa pada Semester I-2026.
Data Kependudukan Bersih (DKB) dinamis yang dipaparkan dalam Rakornas Dukcapil 2026 menunjukkan jumlah penduduk RI terus bertambah. Dibandingkan DKB Semester II-2025 yang mencapai 288,3 juta jiwa, populasi Indonesia bertambah hampir 1,8 juta jiwa. Sementara dibandingkan data per 18 Mei 2026 yang sebanyak 289,7 juta jiwa, terjadi kenaikan lebih dari 400 ribu jiwa.
4. Awas, El Nino Datang Lebih Cepat
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan fenomena El Nino kini datang lebih cepat akibat anomali iklim global dan perubahan iklim.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan El Nino kuat pernah terjadi pada 2015, kembali muncul pada 2019 dan 2023, serta diperkirakan kembali menguat pada 2026. Padahal, fenomena ini selama ini dikenal memiliki siklus sekitar empat tahunan.
"Karena adanya anomali iklim dunia dan perubahan iklim, El Nino datang lebih cepat," ujar Faisal, Selasa (4/8/2026).
BMKG mencatat intensitas El Nino saat ini sudah masuk kategori kuat dengan indeks mencapai +1,59 dan berpotensi menjadi sangat kuat. Dampaknya diperkirakan paling terasa pada Agustus-September, ditandai curah hujan yang rendah hingga sangat rendah di sejumlah wilayah Indonesia.
Daerah yang berisiko terdampak antara lain Jawa, Bali, NTB, NTT, Sumatra bagian selatan, hingga Papua Selatan. Pemerintah pun telah menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi potensi kekeringan, gangguan pangan, krisis air bersih, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
5. Ekspor Nikel Cs Kembali Diijinkan
Kantor Staf Presiden (KSP) memastikan ekspor nikel dan mineral lainnya yang sempat tersendat akibat persoalan kandungan Logam Tanah Jarang (LTJ) kini kembali dibuka.
Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman mengatakan kesepakatan lintas kementerian dan lembaga telah dicapai, sehingga perusahaan yang memenuhi ketentuan dapat kembali melakukan ekspor.
Pemerintah menegaskan ekspor tidak akan dihambat selama hasil verifikasi surveyor resmi menunjukkan kandungan LTJ masih dalam batas yang disepakati. Di saat yang sama, pemerintah juga tengah merevisi Permendag terkait ekspor mineral untuk memberikan kepastian hukum bagi pelaku usaha.
Sebelumnya, ekspor sejumlah komoditas seperti nikel, timah, dan bauksit sempat terkendala karena adanya unsur LTJ yang secara alami melekat pada mineral tersebut.
6. WFH Buat ASN Diperpanjang
Pemerintah resmi memperpanjang kebijakan work from home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) selama satu hari dalam sepekan hingga akhir September 2026.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari mengatakan kebijakan yang berlaku sejak 1 April 2026 itu diperpanjang setelah pemerintah melihat hasil evaluasi yang positif. Selain mendorong budaya kerja yang lebih fleksibel, kebijakan ini juga menjadi bagian dari upaya penghematan energi.
Meski demikian, layanan publik tetap berjalan normal. Unit yang melayani masyarakat secara langsung, seperti layanan kesehatan, pendidikan, kependudukan, perizinan, hingga Mal Pelayanan Publik, tetap beroperasi penuh setiap hari kerja.
7. Utang Pinjol Tembus Rp 105 Triliun
Utang masyarakat melalui pinjaman online (pinjol) terus membengkak. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat outstanding pembiayaan industri pinjaman daring (pindar) mencapai Rp105,14 triliun per Juni 2026, melonjak 25,88% secara tahunan (yoy).
Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK Agusman mengatakan laju pertumbuhan pinjol menjadi yang tercepat di antara sektor jasa keuangan non-bank yang diawasi OJK.
Di tengah pertumbuhan pesat tersebut, OJK mencatat tingkat wanprestasi di atas 90 hari (TWP90) berada di level 4,26%. Menurut OJK, tren ini menunjukkan permintaan masyarakat terhadap pembiayaan digital masih tinggi.
8. Lowongan Kerja di AS Turun
Jumlah lowongan kerja di Amerika Serikat (AS) turun 178.000 menjadi 7,36 juta pada Juni 2026, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 7,40 juta. Data ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS mulai melambat.
Penurunan terbesar terjadi di sektor kesehatan, rekreasi dan perhotelan, perdagangan grosir, serta jasa bisnis. Sebaliknya, lowongan kerja di sektor transportasi, pergudangan, utilitas, dan pemerintah federal justru meningkat.
Secara regional, lowongan kerja berkurang di wilayah Timur Laut, Selatan, dan Midwest, namun naik di wilayah Barat.
Sementara itu, jumlah perekrutan tetap stabil di 5,3 juta orang, sedangkan total pekerja yang keluar dari pekerjaan juga relatif tidak berubah di 5,4 juta.
Angka pengunduran diri maupun pemutusan hubungan kerja (PHK) tercatat stabil, menandakan pasar tenaga kerja masih cukup kuat meski mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan.
9. Permintaan Pabrik dan Defisit AS Turun
Pesanan pabrik di Amerika Serikat (AS) turun 0,3% secara bulanan menjadi US$656,5 miliar pada Juni 2026. Angka ini memperpanjang penurunan 1,1% pada bulan sebelumnya dan lebih buruk dari ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 0,2%.
Ini menjadi penurunan dua bulan beruntun pertama dalam hampir setahun, mengindikasikan mulai terasa dampak lonjakan harga energi akibat perang di Timur Tengah serta efek lanjutan tarif perdagangan.
Penurunan terutama berasal dari pesanan barang non-tahan lama yang merosot 1,2% menjadi US$321,1 miliar, dipicu melemahnya permintaan produk kimia dan turunan minyak. Sementara itu, pesanan barang tahan lama masih naik tipis 0,5%.
Secara sektoral, pesanan produk logam turun 0,6% dan peralatan transportasi turun 0,1%. Sebaliknya, pesanan mesin naik 0,3%, sedangkan komputer dan produk elektronik melonjak 3,2%, menunjukkan permintaan teknologi masih relatif kuat.
AS Juga melaporkan defisit perdagangan Amerika Serikat (AS) menyusut menjadi US$73,3 miliar pada Juni 2026 dari US$77,6 miliar pada Mei, sejalan dengan ekspektasi pasar. Penyempitan terjadi karena impor turun lebih dalam dibandingkan ekspor.
Impor AS turun 1,8% menjadi US$388 miliar, terutama akibat berkurangnya pembelian barang modal dan barang konsumsi seperti komputer serta produk farmasi. Sementara itu, ekspor turun 0,9% menjadi US$314,7 miliar karena melemahnya pengiriman komoditas industri, termasuk minyak mentah dan bahan bakar.
Secara kumulatif, defisit perdagangan AS sepanjang semester I-2026 mencapai US$371,2 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan rekor US$560,5 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Data ini menunjukkan arus perdagangan AS mulai kembali normal setelah lonjakan impor yang terjadi menjelang penerapan tarif dagang pada tahun sebelumnya.
(mae/mae)