Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan hari ini dan sepekan ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Dari pasar saham AS, Wall Street ditutup menguat pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (31/7/2026).
Saham menguat meski lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS masih membayangi pasar. Kenaikan tajam saham raksasa teknologi Amazon berhasil menopang sentimen investor dan mendorong tiga indeks utama berakhir di zona hijau.
Pada Jumat pekan lalu, indeks Nasdaq Composite melesat 1% ke level 25.373,85, sementara S&P 500 naik 0,7% menjadi 7.489,72. Adapun Dow Jones Industrial Average menguat 276,97 poin atau 0,53% ke posisi 52.485,03.
Di tengah reli saham, pasar tetap mencermati kenaikan yield obligasi AS.
Yield Treasury tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2007 di kisaran 5,25%, sedangkan yield Treasury tenor 10 tahun sempat menembus 4,7%, level tertinggi sejak Januari 2025.
Lonjakan yield terjadi setelah pelaku pasar mulai meragukan kemampuan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam menjinakkan inflasi.
Meski Warsh menegaskan komitmennya melawan inflasi, pernyataannya bahwa "tidak ada tongkat sihir" untuk menyelesaikan masalah tersebut membuat pasar tetap waspada.
Di sisi lain, harga minyak dunia terus menguat akibat konflik Timur Tengah yang belum mereda.
Minyak mentah WTI naik 1,3% ke US$84,67 per barel, sedangkan Brent menguat 1,2% ke US$90,12 per barel. Kenaikan harga energi ini kembali memunculkan kekhawatiran tekanan inflasi ke depan.
Â
Dari sisi korporasi, Amazon menjadi bintang utama pasar setelah sahamnya melonjak 15%. Lonjakan tersebut dipicu kinerja kuartal II yang melampaui ekspektasi, terutama berkat kuatnya bisnis komputasi awan (cloud) yang semakin memperkuat optimisme terhadap belanja kecerdasan buatan (AI).
Sebaliknya, saham Apple anjlok lebih dari 7%. Meski pendapatan kuartalan perusahaan melampaui perkiraan dengan dukungan lonjakan penjualan iPhone sebesar 22%, pasar kecewa terhadap pendapatan segmen layanan (services) yang berada di bawah ekspektasi.
Sebelumnya, reli besar juga terjadi pada Microsoft yang melonjak 16% setelah pertumbuhan bisnis cloud Azure melampaui perkiraan pasar. Penguatan saham-saham teknologi ini membantu Wall Street bangkit dari tekanan sehari sebelumnya, ketika Dow Jones sempat ambruk lebih dari 1.100 poin, penurunan harian terburuk sejak April 2025.
Â
Secara mingguan, ketiga indeks utama masih mencatat kenaikan. Dow Jones dan S&P 500 masing-masing naik sekitar 1%, sementara Nasdaq menguat 1,6%.
Namun secara bulanan, S&P 500 turun 0,1% dan Nasdaq terkoreksi 3,2%. Dow Jones menjadi satu-satunya indeks utama yang bertahan positif pada Juli dengan kenaikan 0,3%, sekaligus mencatat empat bulan penguatan beruntun.
Pasar keuangan Indonesia akan mengawali hari perdagangan di Agustus pada hari ini. Setelah kenaikan di pasar saham di Juli, pasar keuangan Indonesia diharapkan melanjutkan tren positifnya pada pekan ini.
Namun, sejumlah sentimen besar menghadang sejak awal pekan mulai dari data inflasi, PMI Manufaktur hingga data pertumbuhan.
1. Perkembangan Perang
Presiden AS Donald Trump mengaku membatalkan rencana serangan baru terhadap Iran setelah menerima permintaan dari Teheran dan sejumlah negara Timur Tengah untuk memberi ruang bagi upaya diplomasi.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump mengatakan kerangka kesepakatan telah mulai terbentuk, termasuk pembukaan penuh Selat Hormuz dan penghentian ancaman nuklir Iran. Meski demikian, ia menegaskan militer AS tetap siap melancarkan serangan jika negosiasi gagal.
Iran merespons dengan hati-hati. Teheran menyebut pernyataan Trump sebagai bagian dari perang psikologis, tetapi tetap memperingatkan bahwa setiap agresi dari AS dan Israel akan dibalas secara tegas.
Di tengah ketegangan, Arab Saudi mendorong dialog untuk meredakan konflik. Sementara itu, sejumlah Kedutaan Besar AS di Timur Tengah meminta warga negaranya bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi perang.
Pasar energi juga terus mencermati perkembangan situasi. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia, masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak global.
2. OPECÂ + Menambah Produksi
OPEC+ menyetujui kenaikan kuota produksi minyak sekitar 188.000 barel per hari (bph) mulai September 2026. Keputusan ini sekaligus menandai berakhirnya pembalikan pemangkasan sukarela sebesar 1,65 juta bph yang mulai diterapkan sejak 2023.
Meski pasokan ditambah, dampaknya ke pasar diperkirakan terbatas karena ekspor minyak masih terganggu akibat konflik Iran-Israel dan perang Rusia-Ukraina.
Analis Rystad Energy memperkirakan OPEC+ akan menahan kenaikan produksi lebih lanjut pada kuartal IV-2026 sambil menyiapkan negosiasi kuota baru untuk 2027.
Di tengah keputusan tersebut, harga minyak Brent ditutup naik lebih dari 1% ke US$90,12 per barel, sementara WTI menguat ke US$84,67 per barel. Namun secara mingguan, harga masih turun lebih dari 5% karena harapan meredanya konflik Timur Tengah.
3. Inflasi Indonesia Juli 2026
Badan Pusat Statistik (BPS)akan mengumumkan data inflasi Juli 2026 pada hari ini, Senin (3/8/2026).
Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 institusi memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi sebesar 0,11% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juli 2026.
Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi diperkirakan mencapai 3,2%. Sementara itu, inflasi inti diproyeksikan berada di level 2,77% (yoy).
Sebelumnya, pada rilis BPS terakhir, Indonesia mencatat inflasi sebesar 0,44% (mtm) dan 3,34% (yoy) pada Juni. Inflasi inti tercatat sebesar 2,76% (yoy), sedangkan kelompok harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi 1,41% (mtm).
Hasil polling tersebut menunjukkan inflasi umum diperkirakan melandai secara bulanan maupun tahunan pada Juli. Berbeda dengan inflasi umum, inflasi inti diproyeksikan naik tipis dari bulan sebelumnya.
Meredanya tekanan inflasi terutama ditopang oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan. Tim Office of Chief Economist Bank Mandiri memperkirakan kelompok volatile food mengalami deflasi 1,12% (mtm), berbalik dari inflasi 0,14% pada Juni.
"Kami memperkirakan harga volatile food turun 1,12% secara bulanan, terutama didorong oleh penurunan harga cabai merah dan bawang merah setelah memasuki puncak musim panen," tulis Tim Office of Chief Economist Bank Mandiri.
3. Neraca Perdagangan Juni 2026
Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan data neraca perdagangan Indonesia periode Juni 2026 pada Senin (3/8/2026) pukul 11.00 WIB. Analis memperkirakan neraca dagang akan kembali membukukan deficit pada Juni tahun ini.
Sebagai catatan, Indonesia mencatat defisit perdagangan pada Mei 2026 yang merupakan defisit pertama sejak April 2020.
Nilai ekspor Indonesia pada Mei 2026 mencapai US$23,20 miliar atau turun 5,73% sedangkan impor Indonesia Mei 2026 mencapai US$24,81 miliar, naik 22,16% sehingga terjadi defisit sebesar US$ 1,61 miliar.
Meski begitu, Indonesia masih membukukan surplus perdagangan kumulatif US$4,03 miliar sepanjang Januari-Mei 2026.
Pelaku pasar kini menunggu apakah Indonesia mampu kembali mencetak surplus atau setidaknya menunjukkan penyusutan defisit yang signifikan. Perbaikan neraca dagang dinilai dapat menjadi sentimen positif bagi rupiah dan ketahanan eksternal nasional.
Sebaliknya, jika defisit kembali melebar, terutama akibat lemahnya ekspor komoditas dan tingginya impor migas, tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat di tengah ketidakpastian pasar global.
4. PMI Manufaktur RI Juli 2026
S&P Global akan mengumumkan data PMI Manufaktur Indonesia untuk Juli 2026 pada hari ini.
Sebagai catatan, sektor manufaktur Indonesia kembali menunjukkan sinyal pelemahan. Data S&P Global mencatat Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke 46,9 pada Juni 2026, jauh di bawah level 50 yang menjadi batas antara ekspansi dan kontraksi.
Penurunan ini didorong melemahnya permintaan terhadap produk manufaktur dalam negeri.
S&P Global mencatat pesanan baru turun untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir, bahkan menjadi yang terdalam dalam setahun. Kondisi tersebut memaksa pabrikan memangkas produksi untuk bulan keempat berturut-turut, dengan laju penurunan tercepat sejak April 2025.
Melemahnya permintaan juga berdampak langsung pada pasar tenaga kerja. Banyak perusahaan mengurangi jumlah pekerja dan memangkas aktivitas pembelian bahan baku. S&P mencatat laju pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Juni menjadi yang tertinggi sejak September 2021.
Di sisi lain, tekanan biaya produksi masih tinggi. Kenaikan harga bahan baku membuat aktivitas pembelian semakin tertahan. S&P bahkan menyebut inflasi biaya input saat ini menjadi yang tertinggi kedua sepanjang sejarah survei.
5.Konferensi Pers KSSK
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan menggelar konferensi pers pada hari ini. Konferensi pers akan menghadirkan semua pemangku kepentingan di industri keuangan mulai dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Lembaga Penjamin Simpanan, hingga Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan.
Ini adalah konferensi pers pertama KSSK sejak Gubernur BI Perry Warjiyo mundur bulan lalu. Sejak Juli 2026, KSSK juga melibatkan Danantara untuk hadir di rapat.
Menarik dicermati apakah ada kebijakan baru di sektor keuangan mulai dari fiskal, moneter, pasar saham hingga industri asuransi.
Menteri Keuangan (Menkeu) sekaligus Ketua Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan tujuan BPI Danantara dilibatkan dalam rapat terbatas pada Selasa (28/7/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata) Foto: Menteri Keuangan (Menkeu) sekaligus Ketua Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan tujuan BPI Danantara dilibatkan dalam rapat terbatas pada Selasa (28/7/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata) |
6.RatingDog Manufacturing PMIÂ
Pelaku pasar akan mencermati rilis RatingDog Manufacturing PMI China pada hari ini. Indeks manufaktur Negeri Tirai Bambu diperkirakan turun tipis ke 51,5 dari 51,7 pada bulan sebelumnya, namun masih bertahan di zona ekspansi.
Meski aktivitas manufaktur China masih tumbuh, sejumlah sinyal perlambatan mulai terlihat. Pada Juni lalu, produksi dan pesanan baru masih meningkat, tetapi pesanan ekspor melemah. Optimisme pelaku usaha juga mulai menurun, menandakan pemulihan industri China belum sepenuhnya solid."
Data ini menjadi perhatian besar bagi Indonesia mengingat China merupakan pasar utama berbagai komoditas ekspor, mulai dari batu bara, nikel, tembaga hingga minyak sawit mentah (CPO).
Jika PMI China melampaui ekspektasi, sentimen terhadap saham-saham komoditas berpotensi menguat. Sebaliknya, jika angka PMI turun tajam atau bahkan mendekati zona kontraksi, kekhawatiran terhadap permintaan komoditas global dapat kembali membayangi pasar.
Bagi investor, data manufaktur China hari ini bisa menjadi salah satu penentu arah perdagangan saham komoditas dan pergerakan pasar Asia pada awal pekan.
7. ISM Manufacturing AS
Pasar global menanti rilis ISM Manufacturing PMI AS pada Senin malam (3/8/2026). Indeks manufaktur diperkirakan naik ke 54 dari 53,3, menandakan sektor industri masih ekspansif.
Investor akan mencermati apakah aktivitas pabrik yang menguat juga diikuti kenaikan harga. Jika ya, ekspektasi suku bunga tinggi The Fed bisa bertahan lebih lama, mendorong penguatan dolar AS dan imbal hasil US Treasury.
Selain angka utama, pasar juga akan melihat komponen pesanan baru, tenaga kerja, dan harga untuk membaca arah ekonomi serta inflasi AS ke depan.
8. Data JOLTs Amerika Serikat
Pelaku pasar akan mencermati rilis lowongan ekrja JOLTs Job Openings Amerika Serikat pada Selasa (4/8/2026) malam.
Jumlah lowongan kerja diperkirakan turun menjadi 7,25 juta pada Juni dari 7,59 juta pada bulan sebelumnya, yang merupakan level tertinggi sejak Mei 2024.
Meski lowongan kerja diproyeksikan menurun, permintaan tenaga kerja AS sejauh ini masih tergolong kuat. Pada Mei, jumlah perekrutan bertahan di sekitar 5,2 juta, sementara pekerja yang mengundurkan diri stabil di 3,1 juta.
Data JOLTs menjadi perhatian karena merupakan petunjuk awal kondisi pasar tenaga kerja menjelang rilis nonfarm payrolls pada akhir pekan. Jika penurunan lowongan kerja terjadi secara moderat, peluang pelonggaran kebijakan The Fed bisa semakin terbuka. Namun, jika penurunannya terlalu dalam, pasar justru dapat khawatir ekonomi AS mulai kehilangan momentum.
Hasil data ini berpotensi menjadi penggerak utama dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, dan sentimen pasar global dalam beberapa hari ke depan.
9. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal II-2026
Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 pada Rabu (5/8/2026). Trading Economics memperkirakan ekonomi nasional tumbuh 5,3% secara tahunan, melambat dari 5,61% pada kuartal I-2026.
Data ini akan menjadi ujian penting bagi daya tahan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Pasar ingin melihat apakah konsumsi rumah tangga, aktivitas liburan, dan investasi masih mampu menjaga laju pertumbuhan tetap berada di atas level 5%.
Tak hanya angka utama, investor juga akan mencermati kualitas pertumbuhan, terutama dari sektor manufaktur, perdagangan, konstruksi, dan investasi. Pertumbuhan yang ditopang banyak sektor dinilai lebih sehat dibanding hanya bergantung pada belanja pemerintah.
Jika pertumbuhan melampaui ekspektasi, sentimen terhadap saham perbankan, ritel, telekomunikasi, transportasi, dan konsumsi berpotensi menguat. Sebaliknya, angka di bawah 5% dapat memicu kekhawatiran mengenai daya beli masyarakat dan prospek ekonomi ke depan.
10. ISM Services Amerika Serikat
Pelaku pasar global akan mencermati rilis ISM Services PMI Amerika Serikat (AS) pada Rabu (5/8/2026) malam. Konsensus memperkirakan indeks sektor jasa naik tipis menjadi 54,2 dari 54 pada bulan sebelumnya.
Data ini sangat penting karena sektor jasa merupakan penyumbang terbesar perekonomian AS. Investor akan mencari petunjuk apakah konsumsi masyarakat dan aktivitas bisnis masih cukup kuat untuk menopang pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam.
Pada rilis sebelumnya, aktivitas bisnis dan pesanan baru melambat, tetapi penyerapan tenaga kerja kembali meningkat. Di saat yang sama, tekanan harga jasa masih bertahan tinggi, menjadi perhatian utama The Fed.
Jika aktivitas ekonomi tetap kuat dan tekanan harga kembali meningkat, dolar AS serta imbal hasil US Treasury berpotensi menguat. Sebaliknya, jika harga mulai mereda tanpa mengorbankan pertumbuhan, pasar dapat melihatnya sebagai sinyal positif bagi peluang pemangkasan suku bunga The Fed ke depan.
11. Cadangan Devisa RI
Bank Indonesia (BI) akan merilis data cadangan devisa Juli 2026 pada Jumat (7/8/2026). Data ini akan menjadi perhatian pasar di tengah tingginya volatilitas global dan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Sebagai gambaran, cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni naik menjadi US$145,6 miliar, setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional.
Investor akan mencermati apakah posisi cadangan devisa tetap kuat di tengah kebutuhan pembayaran utang luar negeri dan upaya stabilisasi rupiah. Kenaikan cadangan devisa berpotensi memperkuat kepercayaan terhadap rupiah dan obligasi pemerintah. Sebaliknya, penurunan tajam bisa menjadi sinyal meningkatnya kebutuhan intervensi BI di pasar valas.
Di tengah gejolak pasar global, data ini akan menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur ketahanan eksternal Indonesia dan kekuatan amunisi BI dalam menjaga stabilitas rupiah.
12. Neraca Perdagangan China untuk Juli
Pasar akan menyoroti rilis neraca perdagangan China pada Jumat (7/8/2026) untuk Juli 2026, yang dapat menjadi petunjuk penting bagi prospek komoditas global.
Surplus perdagangan Negeri Tirai Bambu diperkirakan turun menjadi US$112,5 miliar pada Juli dari US$125,62 miliar pada Juni.
Namun bagi Indonesia, perhatian utama bukan pada besarnya surplus, melainkan pada kinerja impor China. Sebagai konsumen terbesar berbagai komoditas dunia, kuat atau lemahnya impor China akan mencerminkan permintaan terhadap batu bara, nikel, tembaga, hingga minyak sawit.
Investor juga akan mengamati apakah kinerja ekspor China benar-benar didorong permintaan global yang kuat atau hanya akibat faktor harga dan percepatan pengiriman barang. Karena itu, data ekspor dan impor dinilai lebih penting dibanding angka surplus semata.
Jika impor China menunjukkan penguatan, sentimen terhadap saham komoditas di Bursa Efek Indonesia berpotensi membaik. Sebaliknya, pelemahan impor dapat memicu kekhawatiran baru terhadap prospek permintaan komoditas dari mitra dagang terbesar Indonesia tersebut.
13. Non-Farm Payrolls dan Data Pengangguran AS
Perhatian pelaku pasar dunia akan tertuju pada rilis nonfarm payrolls (NFP) Juli, tingkat pengangguran Juli, dan pertumbuhan upah AS pada Jumat (7/8/2026). Data ini menjadi indikator utama yang akan menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan ke depan.
Konsensus memperkirakan ekonomi AS menambah 91.000 lapangan kerja pada Juli, membaik dari 57.000 pada Juni yang menjadi angka terlemah dalam empat bulan terakhir. Sementara itu, tingkat pengangguran diperkirakan naik tipis menjadi 4,3%, sedangkan pertumbuhan upah bertahan di 0,3% per bulan.
Pasar tidak hanya akan melihat jumlah pekerjaan baru, tetapi juga kualitas pasar tenaga kerja melalui tingkat partisipasi dan pertumbuhan upah. Data yang kuat dapat memperkuat dolar AS dan mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury karena ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Kondisi ini berpotensi memberi tekanan pada rupiah dan IHSG.
Sebaliknya, perlambatan pasar tenaga kerja yang terukur dapat menjadi kabar baik bagi aset berisiko karena membuka peluang pelonggaran kebijakan The Fed. Namun, jika data terlalu lemah, pasar justru bisa kembali dihantui kekhawatiran perlambatan ekonomi hingga resesi di AS.
Ekonomi AS hanya menambah 57.000 lapangan kerja pada Juni 2026, jauh di bawah proyeksi pasar dan menjadi yang terendah dalam empat bulan terakhir. Data payroll April-Mei juga direvisi turun sebanyak 74.000 pekerjaan.
Meski demikian, tingkat pengangguran justru turun menjadi 4,2% dari 4,3%. Penurunan ini terjadi karena banyak warga keluar dari angkatan kerja, sehingga tingkat partisipasi tenaga kerja merosot ke 61,5%, level terendah sejak Maret 2021.
Penciptaan lapangan kerja masih ditopang sektor jasa profesional, bantuan sosial, dan kesehatan. Namun sektor rekreasi dan perhotelan kehilangan 61.000 pekerjaan.
Data ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS mulai mendingin, tetapi belum cukup lemah untuk menghilangkan kekhawatiran inflasi dan mengubah arah kebijakan The Fed secara drastis.
14. Inflasi China untuk Juli
China akan menutup rangkaian data ekonomi pekan ini dengan merilis inflasi Juli pada Minggu (9/8/2026). Inflasi tahunan diperkirakan melambat menjadi 0,9% dari 1% pada bulan sebelumnya, memperkuat sinyal bahwa pemulihan permintaan domestik Negeri Tirai Bambu masih belum solid.
Pada Juni, inflasi pangan masih berada di zona negatif sementara inflasi inti turun ke 1%, mencerminkan lemahnya konsumsi masyarakat. Kondisi ini memang dapat meningkatkan harapan pasar terhadap stimulus tambahan dari pemerintah China, tetapi juga memunculkan kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dan permintaan komoditas global.
Investor akan mencermati apakah tekanan harga yang rendah mulai menyebar ke sektor inti ekonomi. Jika itu terjadi, peluang pelonggaran kebijakan oleh pemerintah dan bank sentral China semakin besar.
Bagi Indonesia, data ini penting karena China merupakan pasar utama berbagai komoditas ekspor. Inflasi yang terus melemah dapat menjadi sinyal bahwa permintaan terhadap batu bara, nikel, dan CPO masih menghadapi tantangan ke depan.
15. Eropa
Jerman akan merilis data neraca perdagangan, produksi industri, pesanan pabrik, dan penjualan ritel. Pasar ingin melihat dampak kenaikan biaya energi terhadap sektor manufaktur kawasan Eropa.
Di Turki, inflasi tahunan diperkirakan turun ke 31,8%, level terendah dalam empat bulan. Sementara itu, musim laporan keuangan Eropa menghadirkan nama-nama besar seperti HSBC, BP, Novo Nordisk, Siemens Energy, Deutsche Telekom, dan Allianz.
2. Inflasi
Berikut agenda ekonomi hari ini:
- S&P Global akan mengumumkan data PMI Manufaktur RI dan negara-negara ASEAN untuk JuliÂ
BPS akan mengumumkan data inflasi Juni 2026 dan neraca perdagangan Mei 2026
- Rapat KSSKÂ dan konferensi pers hasil rapat
Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.
Seminar Nasional ISEI Jakarta "Brightspot Ekonomi Syariah Dunia" via YouTube ISEI Jakarta. Turut hadir Hasan Fawzi, Destry Damayanti dan Fadlul Imansyah.
Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK III Tahun 2026 yang akan diselenggarakan di kantor Lembaga Penjamin Simpanan, Gedung Pacific Century Place (PCP), Jakarta Selatan.
Konferensi pers Update XL Ultra 5G+ di Bengkel SCBD, Jakarta Selatan
- The RatingDog China Manufacturing PMI untuk Juli
- ISM Manufacturing Amerika Serikat Juli
Berikut agenda korporasi hari ini:
RUPS PT Wahana Inti Makmur Tbk
Tanggal ex Dividen Tunai Interim PT AKR Corporindo Tbk.
Berikut indikator ekonomi terbaru: