4 dari 10 Lulusan Muda Menganggur, Begini Beratnya Cari Kerja di India
Jakarta, CNBC Indonesia - Hampir 40% atau 1 dari 4 lulusan berusia 15-25 tahun di India belum mendapatkan pekerjaan. Padahal, negara tersebut menjadi salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia.
Laporan State of Working India 2026 menunjukkan lulusan perguruan tinggi menyumbang sekitar dua pertiga dari total pengangguran India pada 2023. Di tengah ketatnya persaingan kerja, jutaan anak muda justru menggantungkan harapan pada segelintir ujian masuk yang dianggap sebagai tiket menuju pekerjaan bergaji layak.
Tekanan itulah yang kemudian menjadi latar di balik gelombang protes mahasiswa setelah kebocoran soal National Eligibility cum Entrance Test (NEET). Bagi banyak ekonom, persoalannya tidak berhenti pada ujian, tetapi pada semakin sempitnya akses menuju pekerjaan yang stabil.
Lapangan Kerja Tak Mengejar Jumlah Lulusan
Persoalan tersebut sebenarnya sudah terbentuk jauh sebelum kebocoran soal terjadi.
Sepanjang 2004-2023, India menghasilkan sekitar 5 juta lulusan setiap tahun. Namun menurut State of Working India 2026, hanya sekitar 2,8 juta yang berhasil memperoleh pekerjaan setiap tahunnya. Jumlah yang mendapatkan pekerjaan bergaji tetap bahkan lebih sedikit.
Akibatnya, tingkat pengangguran lulusan usia 15-25 tahun kini mendekati 40%. Lulusan perguruan tinggi juga menyumbang sekitar dua pertiga dari total pengangguran India pada 2023.
Semakin banyak anak muda menyelesaikan pendidikan tinggi. Namun pertumbuhan pekerjaan berkualitas belum mampu mengimbanginya.
Satu Ujian, Jutaan Harapan
Di tengah kondisi tersebut, ujian masuk menjadi lebih dari sekadar proses seleksi pendidikan.
Jutaan pelajar bersaing mengikuti National Eligibility cum Entrance Test (NEET) untuk masuk fakultas kedokteran.
Persaingan serupa juga terjadi pada Joint Entrance Examination (JEE) menuju Indian Institutes of Technology (IIT), Common University Entrance Test (CUET), hingga ujian pegawai negeri yang diselenggarakan Union Public Service Commission (UPSC).
Jumlah peserta NEET sendiri meningkat sekitar 50% sejak 2019 hingga menembus lebih dari 2,2 juta peserta pada 2026, menurut National Testing Agency.
Semakin sulit memperoleh pekerjaan, semakin besar pula arti satu kursi di perguruan tinggi maupun satu posisi sebagai aparatur pemerintah.
Ketika Gelar Tak Lagi Menjamin
Persaingan yang tinggi juga tercermin dari pengalaman para lulusan muda.
Seorang desainer grafis di Bengaluru mengatakan perusahaan "pay peanuts" atau "membayar murah", sementara ruang untuk meminta kenaikan gaji nyaris tidak ada karena "ada ratusan orang di luar sana" yang siap menerima pekerjaan dengan bayaran lebih rendah.
Cerita serupa datang dari lulusan lain yang mengaku telah melamar banyak pekerjaan tanpa mendapat respons. Bagi sebagian anak muda India, memperoleh gelar sarjana tidak lagi otomatis membuka jalan menuju pekerjaan yang layak.
Protes Dipicu Ujian, Masalahnya Lebih Dalam
Ekonom menilai kebocoran soal hanya menjadi pemicu.
Alexandra Hermann Prasad, Lead Economist Oxford Economics, mengatakan persoalan mendasarnya adalah terbatasnya pasokan "secure, well-paid jobs" di India.
Pandangan serupa disampaikan Neelanjan Sircar, Associate Professor Ahmedabad University. Menurutnya, di negara ketika hampir satu dari dua lulusan belum memperoleh pekerjaan, jalur seperti NEET menjadi salah satu dari sedikit cara untuk mendapatkan pekerjaan yang relatif terjamin.
Karena itu, ketika integritas ujian dipertanyakan, yang muncul bukan hanya kemarahan terhadap proses seleksi, tetapi juga kecemasan atas masa depan.
Pertumbuhan Ekonomi Belum Mengubah Pasar Kerja
Masalah tersebut berkembang di tengah pertumbuhan ekonomi India yang terus menjadi sorotan dunia.
Namun menurut laporan State of Working India 2026, perluasan pendidikan tinggi belum diikuti penciptaan lapangan kerja yang cukup cepat.
Laporan Bernstein juga menilai transformasi ekonomi India masih menghadapi tantangan. Sekitar 45% tenaga kerja masih bekerja di sektor pertanian yang hanya menyumbang sekitar 15-16% produk domestik bruto (PDB), sementara kontribusi sektor manufaktur relatif belum banyak berubah.
Bernstein juga memperingatkan perkembangan kecerdasan buatan berpotensi memberi tekanan baru terhadap industri layanan teknologi informasi dan business process outsourcing, dua sektor yang selama ini menjadi salah satu jalur mobilitas ekonomi bagi lulusan muda.
Pemerintah Bergerak
Di tengah tekanan tersebut, Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan mengundurkan diri. Pemerintah kemudian menunjuk Pralhad Joshi sebagai penggantinya sekaligus membentuk satuan tugas reformasi pendidikan yang dipimpin pendiri Infosys, Nandan Nilekani.
Parlemen India juga mengesahkan perubahan aturan anti kebocoran soal dengan ancaman hukuman penjara hingga 10 tahun serta denda maksimal 50 lakh rupee bagi pihak yang terlibat.
Bagi jutaan lulusan muda India, tantangannya kini bukan hanya lolos ujian. Persaingan yang sesungguhnya justru dimulai ketika memasuki pasar kerja yang semakin padat, sementara jumlah pekerjaan yang aman dan bergaji layak belum bertambah secepat jumlah pencari kerja.
(mae/mae)