MARKET DATA
Polling CNBC Indonesia

Siap-Siap! Besok Ada Pengumuman Besar Soal Nasib Ekonomi RI

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
04 August 2026 15:50
10 Provinsi dengan Mesin Ekonomi Paling Raksasa di RI
Foto: Infografis/ 10 Provinsi dengan Mesin Ekonomi Paling Raksasa di RI / Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 diperkirakan masih mampu bertahan di atas 5%. Namun, lajunya diproyeksi melambat dibandingkan kuartal pertama tahun ini.

Berdasarkan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 16 lembaga/institusi, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai 5,14% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal II-2026.

Sementara secara kuartalan, ekonomi diproyeksi tumbuh 3,58% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter to quarter/qtq).

Sebagai informasi, ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tumbuh 5,61% yoy dan terkontraksi 0,77% qtq. Dari sisi pengeluaran, komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah menjadi yang tertinggi dengan pertumbuhan 21,81% yoy.

Apabila polling tersebut sejalan dengan hasil pengumuman BPS, maka pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 akan lebih rendah dibandingkan kuartal I-2026.

Angka tersebut masih lebih tinggi sedikit dibandingkan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 yang mencapai 5,12% yoy dan 4,04% qtq.

Penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua tahun ini dibandingkan kuartal sebelumnya, sejalan dengan perkiraan Bank Danamon.

"Untuk PDB, seiring dengan perlambatan belanja pemerintah, meredanya faktor dorongan dari hari-hari besar di kuartal I, dan ekspor yang diperkirakan melambat, kami memperkirakan pertumbuhan kuartal II tahun ini melambat dari 5,61% pada kuartal I menjadi 5,18%," ujar Bank Danamon kepada CNBC Indonesia.

Danamon menjelaskan perlambatan belanja pemerintah dan ekspor dapat berdampak pada pendapatan masyarakat. Kondisi tersebut membuat konsumsi rumah tangga pada kuartal II-2026 tidak sekuat kuartal sebelumnya.

Senada dengan itu, Office of Chief Economist Bank Mandiri memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,20% yoy pada kuartal II-2026, melambat dari 5,61% yoy pada kuartal I-2026. Meski melambat, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 yang sebesar 5,12% yoy.

"Kami memperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia melambat menjadi 5,20% yoy pada kuartal II-2026, turun dari 5,61% yoy pada kuartal I-2026, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 5,12% yoy pada kuartal II-2025," tulis Office of Chief Economist Bank Mandiri dalam risetnya.

Konsumsi Masyarakat Melemah

Konsumsi masyarakat masih menjadi penopang utama ekonomi Indonesia.

Namun, dorongannya pada kuartal II-2026 diperkirakan tidak sekuat kuartal I karena momentum Ramadan dan Lebaran lebih banyak terjadi pada awal tahun.

Dalam hitungan Bank Mandiri, konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh 5,2% yoy pada kuartal II-2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan kuartal I-2026 yang sebesar 5,5% yoy.

Perlambatan tersebut sejalan dengan melemahnya sejumlah indikator konsumsi. Rata-rata pertumbuhan penjualan ritel berbalik negatif menjadi -4,0% yoy pada kuartal II-2026, dari sebelumnya tumbuh 5,2% yoy pada kuartal I-2026.

Sementara itu, rata-rata pertumbuhan Mandiri Spending Index (MSI) juga sedikit melandai menjadi 6,2% yoy, dari 6,3% yoy pada kuartal sebelumnya.

Dari sisi inflasi, tekanan harga pada kuartal II-2026 terlihat meningkat. BPS mencatat inflasi Indonesia sebesar 2,42% yoy pada April 2026, kemudian naik menjadi 3,08% yoy pada Mei 2026, dan kembali meningkat menjadi 3,34% yoy pada Juni 2026.

Secara bulanan, inflasi tercatat 0,13% mtm pada April, 0,28% mtm pada Mei, dan 0,44% mtm pada Juni.

Kenaikan inflasi pada kuartal II-2026 tidak hanya mencerminkan permintaan masyarakat yang masih berjalan, tetapi juga tekanan dari harga energi global.

Harga minyak dunia mengalami kenaikan tajam akibat konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran serta sejumlah negara di Timur Tengah.

Ketegangan tersebut turut menghambat jalur utama perdagangan minyak dunia di Selat Hormuz, sehingga pasar khawatir pasokan energi global terganggu.

Kenaikan harga minyak global dapat merembet ke inflasi domestik melalui harga BBM, biaya transportasi, distribusi barang, hingga harga pangan dan kebutuhan harian. Kondisi ini membuat tekanan inflasi pada kuartal II-2026 lebih tinggi dibandingkan awal kuartal.

Kendati demikian, inflasi Indonesia masih relatif terkendali karena pemerintah masih menahan kenaikan harga energi domestik, termasuk BBM. Dengan harga BBM yang relatif terjaga, dampak lonjakan harga minyak dunia terhadap inflasi domestik tidak sepenuhnya langsung terasa ke masyarakat.

Sinyal konsumsi yang mulai melambat juga terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). Bank Indonesia mencatat IKK April 2026 berada di level 123,0, lalu turun menjadi 120,9 pada Mei, dan kembali melemah ke 117,8 pada Juni.

Meski turun, seluruhnya masih berada di atas level 100 atau tetap di zona optimistis.

Penjualan eceran juga menunjukkan pola yang sama. BI memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) April 2026 sebesar 231,0, kemudian pada Mei 2026 tercatat 223,4, dan Juni 2026 diprakirakan sebesar 221,6.

Secara bulanan, penjualan eceran Juni diprakirakan turun 0,8% mtm, lebih baik dibandingkan Mei yang turun 1,5% mtm.

Kondisi ini menunjukkan konsumsi masyarakat masih terjaga, tetapi tenaganya mulai mengalami penurunan pasca puncak konsumsi domestik disaat momen lebaran. 

Investasi Tetap Menjadi Bantalan Pertumbuhan

Saat konsumsi mulai normal, investasi menjadi salah satu penahan perlambatan ekonomi pada kuartal II-2026.

Bank Mandiri memperkirakan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi tumbuh 7,0% yoy pada kuartal II-2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kuartal I-2026 yang sebesar 6,0% yoy.

Penguatan investasi tercermin dari penjualan semen yang meningkat tajam. Rata-rata penjualan semen tumbuh 15,8% yoy pada kuartal II-2026, jauh lebih tinggi dibandingkan kuartal I-2026 yang sebesar 5,0% yoy.

Kenaikan penjualan semen menunjukkan aktivitas konstruksi dan infrastruktur masih berjalan cukup kuat. Hal ini menjadi sinyal positif bagi investasi, terutama dari sisi pembangunan fisik.

Namun, tidak semua indikator bergerak kuat. Dari sisi manufaktur, momentumnya mulai melemah. Rata-rata PMI Manufaktur Indonesia turun ke 48,7 pada kuartal II-2026, dari 52,2 pada kuartal I-2026. Angka di bawah 50 menunjukkan aktivitas manufaktur masuk zona kontraksi.

Sementara itu, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi Indonesia sepanjang semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2% yoy dan menyerap 1.448.862 tenaga kerja Indonesia.

Jika mengacu pada realisasi investasi kuartal I-2026 sebesar Rp498,8 triliun, maka realisasi investasi pada kuartal II-2026 mencapai sekitar Rp511,8 triliun. Angka ini menunjukkan investasi masih tumbuh secara kuartalan.

Dari total realisasi investasi kuartal II-2026, PMA tercatat sebesar Rp257,7 triliun atau 50,4%, sementara PMDN mencapai Rp254,1 triliun atau 49,6%.


Dari sisi negara asal PMA, Hong Kong menjadi investor terbesar pada kuartal II-2026 dengan nilai sekitar US$5 miliar. Posisi berikutnya ditempati Singapura, China, Jepang, dan Malaysia.

Kuatnya realisasi investasi menjadi modal penting bagi ekonomi Indonesia. Investasi tidak hanya menopang pembentukan modal tetap bruto, tetapi juga memberi dampak ke pasar tenaga kerja dan aktivitas produksi.

Ekspor-Impor Mulai Menjadi Tekanan

Kinerja perdagangan Indonesia pada kuartal II-2026 mulai menghadapi tekanan. Penyebab utamanya adalah impor yang meningkat lebih cepat dibandingkan ekspor.

Bank Mandiri memperkirakan ekspor tumbuh 5,2% yoy pada kuartal II-2026, lebih tinggi dibandingkan kuartal I-2026 yang sebesar 0,9% yoy.

Namun, impor diperkirakan tumbuh lebih cepat, yakni 12,5% yoy, dibandingkan kuartal I-2026 yang sebesar 7,2% yoy. Kenaikan impor ini mencerminkan masih kuatnya kebutuhan barang terkait investasi dan konsumsi.

Pada April 2026, ekspor Indonesia tercatat sebesar US$25,30 miliar, sementara impor mencapai US$25,21 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan April masih surplus tipis sekitar US$0,09 miliar.

Pada Mei 2026, neraca perdagangan berbalik defisit US$1,61 miliar. Nilai ekspor tercatat sebesar US$23,20 miliar, sementara impor mencapai US$24,81 miliar.

Tekanan berlanjut pada Juni 2026. Indonesia kembali mencatat defisit neraca perdagangan sebesar US$450 juta, dengan ekspor sebesar US$25,46 miliar dan impor sebesar US$25,91 miliar.

Ekspor Juni masih tumbuh 8,84% yoy, tetapi impor melonjak lebih tajam sebesar 34,27% yoy.

Dengan perkembangan tersebut, neraca perdagangan Indonesia pada kuartal II-2026 mencatat defisit sekitar US$1,97 miliar. Total ekspor sepanjang April-Juni 2026 mencapai sekitar US$73,96 miliar, sedangkan impor mencapai sekitar US$75,93 miliar.

Kondisi ini membuat sektor eksternal tidak sekuat kuartal sebelumnya. Ekspor memang masih tumbuh, tetapi lonjakan impor membuat kontribusi ekspor bersih terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi lebih terbatas.

Belanja Pemerintah Tetap Naik, Tapi Tak Sekencang Kuartal I

Belanja pemerintah masih menjadi salah satu penopang ekonomi pada kuartal II-2026. Namun, lajunya tidak sekencang kuartal I yang mendapat dorongan besar dari pembayaran THR dan realisasi awal program prioritas.

Bank Mandiri memperkirakan konsumsi pemerintah tumbuh 11,3% yoy pada kuartal II-2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan kuartal I-2026 yang melonjak 21,8% yoy.

Perlambatan tersebut sejalan dengan meredanya dorongan belanja pemerintah setelah kuartal I yang banyak ditopang pembayaran THR, belanja barang, dan realisasi awal program prioritas.

Dari sisi APBN, pertumbuhan belanja pemerintah juga melambat tajam menjadi 3,3% yoy pada kuartal II-2026, dari sebelumnya 31,4% yoy pada kuartal I-2026.

Kementerian Keuangan mencatat realisasi belanja negara hingga semester I-2026 mencapai Rp1.656,0 triliun, atau 43,1% dari pagu APBN. Angka tersebut tumbuh 17,8% yoy dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Jika mengacu pada realisasi belanja negara kuartal I-2026 sebesar Rp815 triliun, maka belanja negara pada kuartal II-2026 mencapai sekitar Rp841 triliun.

Secara nilai, belanja negara masih meningkat, tetapi laju pertumbuhannya lebih rendah dibandingkan kuartal I-2026 yang melonjak 31,4% yoy.

Dari sisi belanja pemerintah pusat, realisasinya hingga semester I-2026 mencapai Rp1.298,6 triliun, meningkat 29,4% yoy.

Belanja tersebut diarahkan untuk program prioritas nasional, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG), bantuan sosial, Kartu Sembako, Program Keluarga Harapan, KIP Kuliah, serta pembayaran gaji aparatur termasuk THR dan gaji ke-13.

Belanja pemerintah masih memberi dorongan bagi ekonomi, tetapi efeknya tidak sebesar kuartal I. Pada kuartal sebelumnya, belanja pemerintah terdorong kuat oleh THR dan realisasi belanja barang.

Dengan konsumsi masyarakat yang mulai normal setelah Lebaran, neraca perdagangan yang mulai menekan, serta belanja pemerintah yang tidak sekencang kuartal pertama, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 diperkirakan melambat tapi masih berada di atas 5%.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular