MARKET DATA

2 Wajah Ekonomi RI: Industri Mesin Melaju Kencang, Tembakau Terpuruk

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
06 May 2026 11:30
Pabrik mobil listrik BYD. (REUTERS/Rafael Martins/File Photo)
Foto: Pabrik mobil listrik BYD. (REUTERS/Rafael Martins/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri pengolahan kembali menjadi salah satu penopang utama ekonomi Indonesia pada awal 2026.

Badan Pusat Statistik mencatat industri pengolahan tumbuh 5,04% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I-2026. Angka ini memang lebih rendah dibandingkan kuartal IV-2025 yang sebesar 5,40% yoy, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan kuartal I-2025 yang sebesar 4,55% yoy.

Perbaikan tersebut terlihat lebih jelas jika dilihat sejak pertengahan 2025. Industri pengolahan tumbuh 5,68% yoy pada kuartal II-2025, lalu tetap solid di 5,54% yoy pada kuartal III-2025 dan 5,40% yoy pada kuartal IV-2025.

Dengan capaian kuartal I-2026, sektor ini sudah tumbuh di atas 5% selama empat kuartal beruntun.

Pemulihan juga terlihat pada industri pengolahan nonmigas. Pada kuartal I-2026, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,14% yoy, lebih tinggi dibandingkan kuartal I-2025 yang sebesar 4,31% yoy.

Sementara itu, industri batu bara dan pengilangan migas tumbuh 3,88% yoy pada kuartal I-2026. Kinerjanya melambat dibandingkan kuartal IV-2025 yang sebesar 8,72% yoy, tetapi masih berada di zona positif.

Dari sisi kontribusi terhadap ekonomi, industri pengolahan tetap memegang peran besar. Pada kuartal I-2026, distribusi industri pengolahan terhadap PDB mencapai 19,07%, menjadikannya sektor terbesar dalam struktur ekonomi nasional.

Kontribusi terbesar datang dari industri pengolahan nonmigas yang menyumbang 17,41% terhadap PDB, sedangkan industri batu bara dan pengilangan migas berkontribusi 1,66%.

Besarnya kontribusi ini membuat industri pengolahan menjadi sektor yang cukup krusial.

Industri pengolahan adalah aktivitas ekonomi yang mengubah bahan baku menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Cakupannya luas, mulai dari makanan dan minuman, tekstil, tembakau, furnitur, logam dasar, kendaraan, barang elektronik, hingga mesin dan perlengkapan.

Karena rantainya panjang, pergerakan industri pengolahan tidak hanya berdampak pada pabrik.

Sektor ini juga berkaitan dengan tenaga kerja, permintaan bahan baku, logistik, investasi, ekspor, hingga konsumsi masyarakat.

Banyak Subsektor Menguat, Furnitur Mulai Bangkit

Perbaikan industri pengolahan tidak hanya terlihat dari angka utama, tetapi juga dari sejumlah subsektornya yang mencatat pertumbuhan positif pada kuartal I-2026.

Pertumbuhan tertinggi dicatat oleh industri mesin dan perlengkapan yang melesat 21,93% yoy.

Subsektor ini mencakup produksi berbagai mesin dan alat pendukung kegiatan usaha, mulai dari mesin pabrik, pertanian, konstruksi, pertambangan, hingga peralatan industri lainnya. Kenaikan tajam di subsektor ini bisa menjadi sinyal meningkatnya kebutuhan alat produksi dan ekspansi kapasitas usaha.

Kinerja kuat juga terlihat pada industri barang galian bukan logam yang tumbuh 9,12% yoy, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional sebesar 7,41% yoy, serta industri makanan dan minuman sebesar 7,04% yoy.

Dari sisi distribusi, industri makanan dan minuman masih menjadi subsektor terbesar dalam industri pengolahan. Pada kuartal I-2026, kontribusinya mencapai 7,31% terhadap PDB.

Kinerja subsektor ini juga masih kuat. Industri makanan dan minuman tumbuh 7,04% yoy pada kuartal I-2026, lebih tinggi dibandingkan kuartal IV-2025 yang sebesar 6,81% yoy dan kuartal I-2025 yang sebesar 6,04% yoy.

Artinya, subsektor makanan dan minuman tidak hanya besar secara kontribusi, tetapi juga masih mampu menjadi motor pertumbuhan.

Perkembangan positif juga datang dari industri furnitur. Subsektor ini tumbuh 4,32% yoy pada kuartal I-2026, dengan distribusi 0,20% terhadap PDB. Kontribusinya memang tidak sebesar makanan dan minuman, tetapi arah pemulihannya menarik karena industri furnitur sempat terpukul pada 2025.

Pada kuartal I-2025, industri furnitur masih tumbuh tinggi 9,86% yoy. Namun, tekanannya mulai terlihat setelah eskalasi perang dagang Amerika Serikat pada 2025. Pertumbuhan industri furnitur turun tajam menjadi -0,05% yoy pada kuartal II-2025, lalu semakin dalam ke -4,34% yoy pada kuartal III-2025.

Tekanan pada industri furnitur mulai terasa setelah AS menerapkan tarif resiprokal pada awal April 2025.

Kebijakan tersebut membuat banyak eksportir Indonesia, termasuk pelaku industri furnitur, menghadapi beban tambahan dari sisi tarif, biaya, hingga ketidakpastian permintaan.

Akibatnya, industri berbasis ekspor seperti furnitur sempat tertekan karena pembeli global cenderung menahan pesanan atau menegosiasikan ulang harga.

Namun, pertumbuhan positif dalam dua kuartal terakhir menunjukkan tekanan mulai mereda.

Industri Tembakau Masih Tertekan, Kontraksi Berlanjut

Meski industri pengolahan secara umum membaik, pemulihannya belum merata. Salah satu subsektor yang masih berada dalam tekanan adalah industri pengolahan tembakau.

Pada kuartal I-2026, subsektor ini terkontraksi 4,05% yoy, melanjutkan kontraksi 4,97% yoy pada kuartal sebelumnya.

Tekanan ini menunjukkan pemulihan tembakau belum kuat. Sepanjang 2025, kinerjanya sempat membaik pada kuartal II dengan pertumbuhan 4,59% yoy, tetapi kembali melemah pada kuartal III dan IV-2025, masing-masing sebesar -0,93% yoy dan -4,97% yoy.

Dari sisi distribusi, industri pengolahan tembakau menyumbang 0,59% terhadap PDB pada kuartal I-2026. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan subsektor industri pengolahan lain tetapi tembakau memiliki rantai ekonomi yang tidak bisa diabaikan.

Industri ini berkaitan langsung dengan petani tembakau, tenaga kerja pabrik, distribusi, perdagangan ritel, hingga penerimaan negara melalui cukai.

Karena itu, kontraksi pada industri tembakau tidak hanya menggambarkan tekanan di level pabrik, tetapi juga berpotensi memengaruhi ekosistem ekonomi yang lebih luas.

Tekanan pada industri tembakau juga perlu dibaca berbeda dari subsektor lain yang mulai menguat.

Ketika industri makanan dan minuman, kimia-farmasi, logam, serta mesin dan perlengkapan mampu tumbuh solid, industri tembakau masih menghadapi tantangan dari sisi permintaan, daya beli, perubahan pola konsumsi, hingga kebijakan cukai.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular