Harga Kopi Dunia Mendidih! RI dan 9 Negara Ini Bisa Panen Cuan Jumbo
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga sejumlah komoditas pertanian kembali menanjak memasuki Agustus. Beras masih mencatat kenaikan bulanan tertinggi, disusul oat, kopi, keju, dan kakao.
Di antara lima komoditas tersebut, kopi menjadi yang paling menarik perhatian karena kenaikannya terjadi ketika pasar masih dibayangi ketatnya pasokan, cuaca yang sulit diprediksi, dan ancaman El Niño.
Menurut Trading Economics, harga arabika kini bertahan di kisaran US$3,34 per pon atau sekitar US$7,36 per kilogram atau setara Rp 132.480 per kg (US$1= Rp 18.000). Level ini masih dekat dengan harga tertinggi sejak Januari 2026.
Kenaikan tersebut juga terlihat dari pergerakan harga harian.
Berdasarkan Refinitiv, kontrak kopi arabika (KCc1) ditutup di level 332,1 sen AS per pon pada 31 Juli 2026, naik sekitar 7,3% dibanding penutupan 23 Juli yang berada di 309,4 sen AS per pon. Dalam sepekan terakhir harga sempat menyentuh 339,4 sen AS per pon pada 28 Juli sebelum terkoreksi tipis di akhir pekan, menandakan volatilitas pasar masih tinggi.
Bagi Indonesia, situasi tersebut datang pada saat yang tepat. Negara ini kini berada di kelompok empat besar produsen kopi dunia.
Berdasarkan trading economics, beras memimpin kenaikan harga bulanan dengan lonjakan Kenaikan kopi memiliki cerita yang berbeda dibanding komoditas lain.
Harga tidak terdorong oleh lonjakan permintaan semata. Pasar lebih banyak bereaksi terhadap gangguan pasokan dari negara-negara penghasil utama.
Hujan deras yang terus mengguyur Minas Gerais, wilayah penghasil kopi terbesar Brasil, membuat panen berjalan lebih lambat. Arus pasokan biji kopi ke pasar ikut tertahan. Pada saat yang sama, stok kopi arabika bersertifikat di bursa ICE turun ke level terendah dalam sekitar dua setengah tahun sehingga pasokan fisik di pasar global semakin ketat.
Pelaku pasar juga mulai memperhitungkan potensi El Niño yang dapat mengganggu pembungaan tanaman kopi untuk musim berikutnya. Faktor cuaca inilah yang masih menjadi premi risiko utama di pasar kopi.
Di sisi lain, tekanan penurunan harga sebenarnya mulai muncul. Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memperkirakan produksi kopi dunia musim 2026/2027 akan mencapai rekor tertinggi, didorong panen arabika Brasil yang lebih besar. Ekspor robusta Vietnam juga terus mengalir sehingga membantu meredakan keketatan pasokan.
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) dalam laporan terbarunya bahkan menghitung lebih dari 90% pergerakan harga kopi berasal dari perubahan kondisi pasokan dan permintaan. Pengaruh faktor makro seperti suku bunga atau nilai tukar relatif kecil dalam jangka pendek. Cuaca ekstrem, penyakit tanaman, biaya produksi, hingga gangguan logistik menjadi penggerak utama harga.
Bagi Indonesia, harga yang masih tinggi membuka peluang tambahan penerimaan ekspor meski volume pengiriman belum sepenuhnya pulih.
Data Dinas Perdagangan Lampung yang dikutip Reuters memperlihatkan ekspor kopi robusta Sumatra mencapai 29.275 ton pada Juni 2026. Angka tersebut melonjak 62% dibanding Mei yang hanya 18.072 ton. Namun dibanding Juni tahun lalu, volumenya masih turun 4,8%.
Artinya, nilai ekspor berpotensi terdongkrak oleh harga yang lebih mahal, sementara sisi produksi masih menghadapi tantangan.
Posisi Indonesia di pasar global sebenarnya jauh dari kecil. Laporan USDA yang diolah Visual Capitalist menempatkan Indonesia sebagai produsen kopi terbesar keempat dunia pada musim 2025/2026.
Brasil masih mendominasi pasar dengan produksi 63 juta karung atau sekitar 35% pasokan dunia. Produksinya bahkan lebih besar dibanding gabungan Vietnam, Kolombia, dan Indonesia. Vietnam bertahan di posisi kedua berkat robusta, sementara persaingan posisi ketiga hingga kelima berlangsung ketat. Selisih produksi Kolombia, Indonesia, dan Ethiopia hanya sekitar satu juta karung.
Selama harga bertahan tinggi, negara-negara produsen utama menjadi pihak yang paling diuntungkan.
Brasil tetap menjadi penerima manfaat terbesar karena menguasai lebih dari sepertiga produksi dunia. Vietnam ikut menikmati kenaikan nilai ekspor robusta. Indonesia berada di kelompok yang sama. Tantangannya kini bergeser ke sisi produksi. Jika hasil panen dapat ditingkatkan ketika harga global masih tinggi, ruang kenaikan penerimaan ekspor kopi nasional masih terbuka lebar.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)