MARKET DATA
Newsletter

Ekonomi RI Tumbuh Kencang, Tapi Ada Kabar Buruk: IHSG & Rupiah Aman?

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
06 February 2026 06:21
Ilustrasi Trading (Stok Market)
Foto: Ilustrasi Trading (Stok Market)
  • Pasar keuangan Indonesia ambruk, IHSG dan rupiah sama-sama melemah
  • Wall Street melemah karena kekhawatiran saham AI
  • Pertumbuhan ekonomi serta keputusan rating Moodys serta data ekonomi global akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri kompak ditutup melemah pada Kamis (5/2/2026). Bursa saham dan nilai tukar sama-sama melemah.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih tertekan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah pada perdagangan Kamis (5/2/2026). Setelah berulang kali mencoba keluar dari zona merah, indeks ditutup turun 0,53% atau 42,84 poin.

Indeks bertengger di level 8.103,88 pada akhir perdagangan kemarin. Padahal pada awal perdagangan, IHSG sempat tampil meyakinkan dengan penguatan hingga 0,83%.

Sebanyak 299 saham menguat, 349 melemah dan 172 stagnan. Koreksi IHSG sejalan dengan aliran dana asing yang masih mengalir keluar. Asing mencatatkan net sell sebesar Rp 469,75 miliar pada perdagangan kemarin.

Beralih ke pasar valas, nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), meski data pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tercatat solid.

Merujuk data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan Kamis (5/2/2026), di level Rp16.825/US$ atau terdepresiasi 0,36%. Pelemahan ini melanjutkan tekanan dari perdagangan sebelumnya, ketika rupiah melemah tipis 0,06% dan ditutup di posisi Rp16.765/US$.



Pelemahan rupiah terjadi di tengah rilis data ekonomi terbaru. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal IV-2025 sebesar 5,39% secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dari ekspektasi pasar.

Dengan capaian tersebut, ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tercatat tumbuh 5,11% yoy. Secara kuartalan, ekonomi tumbuh 0,86% (quarter-on-quarter/qoq).

Namun, rupiah belum mampu memanfaatkan sentimen positif tersebut karena tekanan eksternal masih dominan, seiring penguatan dolar AS di pasar global. Indeks dolar bertahan di atas level 97,5 atau mendekati level tertingginya dalam dua pekan, di tengah penyesuaian ekspektasi pasar terhadap laju pemangkasan suku bunga The Fed yang dinilai bisa lebih lambat.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke 6,32% pada perdagangan kemarin, dari 6,2% pada hari sebelumnya. 

Imbal hasil yang menguat menandai harga SBN yang turun karena dijual investor.

Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street ambruk pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.

Bursa ambruk karena investor mengambil sikap risk-off yang membuat perdagangan populer di sektor teknologi dan bitcoin mulai terurai.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun sekitar 592,58 poin atau 1,20% dan ditutup di level 48.908,72. S&P 500 turun 1,23% ke 6.798,40 dan masuk ke wilayah negatif untuk kinerja tahun berjalan. Nasdaq Composite merosot 1,59% dan berakhir di 22.540,59. Pada titik terendah sesi, Dow sempat anjlok hampir 700 poin atau sekitar 1,4%, sementara S&P 500 dan Nasdaq masing-masing melemah 1,5% dan 1,9%.

Alphabet menjadi perusahaan terbaru dari kelompok "Magnificent Seven" yang merilis laporan kinerja keuangan.

Perusahaan tersebut memproyeksikan lonjakan tajam belanja kecerdasan buatan (AI) yang mengejutkan sebagian investor, dengan belanja modal (capex) 2026 diperkirakan bisa mencapai hingga US$185 miliar.

Saham Alphabet turun 0,5%. Namun, saham Broadcom justru naik hampir 1% menyusul kabar rencana belanja Alphabet tersebut, memberikan sedikit harapan bagi perdagangan bertema AI saat pasar mulai memilah pemenang dan pihak yang kalah.

"Fakta bahwa beberapa perusahaan ini merilis laporan dan mengumumkan tambahan belanja capex dan jumlahnya sangat besar pada titik ini justru kami pandang sebagai sinyal positif bagi kesehatan pasar secara umum, karena ... ini menunjukkan pasar kini lebih selektif, bukan sekadar euforia irasional," kata Stephen Tuckwood, Director of Investments di Modern Wealth Management, kepada CNBC.

Selain Alphabet, Qualcomm juga berada di bawah tekanan dan anjlok lebih dari 8% setelah merilis proyeksi yang lebih lemah dari perkiraan akibat kekurangan memori global.



Di sisi lain, aksi jual di pasar kripto terus berlanjut, dengan bitcoin turun di bawah US$64.000 setelah sebelumnya sempat jatuh menembus level US$70.000 yang dianggap sebagai level support penting. Di pasar logam mulia, tekanan terhadap perak kembali terjadi. Harga perak menghentikan reli dua hari dan anjlok hingga 16%, setelah sebelumnya merosot hampir 30% pada Jumat lalu.

Kabar buruk dari pasar tenaga kerja

Menambah sentimen negatif, kekhawatiran terhadap melemahnya pasar tenaga kerja meningkat setelah perusahaan penempatan kerja Challenger, Gray & Christmas melaporkan bahwa perusahaan-perusahaan AS mengumumkan 108.435 pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Januari, yang merupakan jumlah tertinggi untuk bulan Januari sejak krisis keuangan global.

Selain itu, klaim awal tunjangan pengangguran untuk pekan yang berakhir 31 Januari naik lebih tinggi dari perkiraan, sementara jumlah lowongan pekerjaan pada Desember turun ke level terendah sejak September 2020.

 

Kondisi ini terjadi menjelang rilis laporan ketenagakerjaan Januari dari Bureau of Labor Statistics (BLS) pekan depan, yang sempat tertunda akibat penutupan sebagian pemerintahan yang berakhir pada Selasa.

"Rasanya kita mulai bergeser dari periode no-hire, no-fire yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir," kata Tuckwood.

Dia menambahkan bahwa laporan pekerjaan BLS mendatang kemungkinan besar akan mengonfirmasi apa yang kita lihat sekarang, di mana tren pemecatan dan PHK mulai bergerak ke arah negatif.

Jika itu terjadi, ia meyakini The Federal Reserve akan menurunkan suku bunga pada akhir setidaknya salah satu dari pertemuan bulan Maret atau April.

Wall Street baru saja melewati sesi perdagangan yang bergejolak, ditandai aksi jual pada saham perangkat lunak dan semikonduktor yang mendorong S&P 500 mencatatkan penurunan dua hari berturut-turut. Saham-saham tersebut terpukul karena kekhawatiran disrupsi AI di industri mendorong investor keluar dari sektor teknologi secara masif dan beralih ke bagian pasar lain yang dinilai lebih menarik dari sisi valuasi.

 

Tuckwood mengatakan aksi jual pada saham perangkat lunak, yang memasuki fase bear market pekan lalu, bisa jadi sudah berlebihan.

"Kita memang belum sepenuhnya berada pada titik untuk menghindari risiko 'menangkap pisau jatuh', tetapi pada suatu saat, untuk subsektor tertentu ini, akan muncul peluang ketika tekanan jual sudah terlalu berlebihan."ujarnya.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan mengalami tekanan pada hari ini setelah lembaga pemeringkat Moody's Investors Service (Moody's) menurunkan outlook kredit Indonesia.

Ambruknya bursa Wall Street, melandainya pasar tenaga kerja hingga anjloknya harga emas juga diperkirakan akan menekan pasar keuangan Indonesia.

Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:

Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal IV-2025 Tembus 5,39%

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 mencapai 5,39% secara tahunan (year on year/yoy).
Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan pada kuartal III-2025 yakni 5,04%.

Pertumbuhan kuartal IV-2025 juga menjadi yang tertinggi sejak kuartal III-2022 (5,73%) atau dalam 13 kuartal atau lebih dari tiga tahun.

Dibandingkan kuartal sebelumnya (kuartal to kuartal/qtq), ekonomi Indonesia 0,86% pada periode Oktober-Desember 2025 melandai dibandingkan kuartal III-2025 yang tercatat 1,43%.

Sepanjang 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,11%, lebih tinggi dibandingkan 2024 yang mencapai 5,03%.

Dari sisi nominal, besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada 2025 mencapai Rp23.821,1 triliun. Sementara itu, PDB per kapita tercatat sebesar Rp83,7 juta atau setara US$ 5.083,4, mencerminkan peningkatan aktivitas ekonomi dan pendapatan rata-rata masyarakat.


Secara sektoral, dari sisi produksi, Lapangan Usaha Jasa Lainnya mencatatkan pertumbuhan tertinggi sepanjang 2025 dengan laju 9,93%. Sementara dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa menjadi motor utama dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 7,03%, mencerminkan peran perdagangan luar negeri dalam menopang ekonomi nasional.

Memasuki akhir tahun, ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 mencatatkan pertumbuhan 5,39% secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan kuartal III-2025 maupun periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini menandai penguatan momentum ekonomi di penghujung tahun.

Pada periode tersebut, dari sisi produksi, Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 8,98%, sejalan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat dan distribusi barang menjelang akhir tahun.

Dari sisi pengeluaran, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh paling tinggi sebesar 6,12%, mencerminkan berlanjutnya aktivitas investasi.

Sementara itu, secara kuartalan, ekonomi Indonesia tumbuh 0,86% pada kuartal IV-2025 dibanding kuartal III-2025 (quarter on quarter/qoq). Akselerasi ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas ekonomi jangka pendek menjelang tutup tahun.

Dari sisi produksi secara qoq, Lapangan Usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 13,59%. Dari sisi pengeluaran, Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) menjadi pendorong utama dengan lonjakan pertumbuhan sebesar 37,68%, seiring peningkatan realisasi belanja negara di akhir tahun.

Secara spasial, sepanjang 2025 kelompok provinsi di Pulau Jawa masih mendominasi struktur ekonomi nasional dengan kontribusi mencapai 56,93% terhadap PDB. Kawasan ini juga mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,30% (year on year), menegaskan peran Jawa sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pertemuan Tahunan OJK

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kontribusi sektor jasa keuangan terhadap pembiayaan pembangunan nasional mencapai sekitar Rp9.540 triliun hingga akhir 2025. Kinerja ini ditopang pertumbuhan kredit perbankan 9,53% yoy, yang mencerminkan likuiditas dan permodalan industri keuangan tetap solid.

Menurut Pjs Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, capaian tersebut tidak lepas dari sinergi OJK dengan KSSK termasuk Kemenko Perekonomian,

BI, Kemenkeu, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) serta pelaku usaha jasa keuangan. Selain perbankan, subsektor seperti perusahaan pembiayaan, modal ventura, pergadaian, dan pinjaman daring turut memperdalam pasar keuangan nasional.

 

Memasuki 2026, OJK mewaspadai meningkatnya fragmentasi geopolitik dan geoekonomi global yang berpotensi memengaruhi arus modal. Meski demikian, OJK optimistis ekonomi Indonesia tetap tangguh dengan proyeksi pertumbuhan sekitar 5,5% pada 2026, ditopang stabilitas sistem keuangan dan kuatnya pembiayaan domestik.

Di sisi pasar modal, OJK bersama pemangku kepentingan akan membentuk Satgas Reformasi Pasar Modal untuk mengawal 8 rencana aksi pembenahan yang terbagi dalam empat klaster utama, yakni kebijakan free float, transparansi, tata kelola dan penegakan (enforcement), serta penguatan sinergi antarotoritas.

Lebih jauh, berikut 8 rencana aksi reformasi pasar modal Indonesia:

  • Peningkatan batas minimum free float emiten menjadi 15%, naik dari ketentuan saat ini sebesar 7,5% dan diterapkan secara bertahap. Untuk IPO baru, ketentuan 15% dapat langsung diberlakukan, sementara emiten eksisting diberikan masa transisi.

  • Penguatan peran investor institusi domestik dan perluasan basis investor, baik domestik maupun asing. Pemerintah akan mendukung melalui penyesuaian limit investasi, termasuk di sektor asuransi dan dana pensiun, sesuai prinsip manajemen risiko dan tata kelola.

  • Peningkatan transparansi ultimate beneficial owner (UBO) dan keterbukaan afiliasi pemegang saham. OJK mendorong pengaturan yang tegas berbasis best practices internasional guna meningkatkan kredibilitas pasar.

  • Demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) sesuai amanat undang-undang untuk memperbaiki tata kelola dan mengurangi konflik kepentingan. OJK akan terus membahas persiapan implementasinya bersama pemerintah dan BEI.

  • Penguatan penegakan peraturan dan sanksi terhadap pelanggaran di pasar modal. Fokus enforcement mencakup manipulasi transaksi saham dan penyebaran informasi menyesatkan yang merugikan investor ritel.

  • Penguatan tata kelola emiten, termasuk kewajiban pendidikan berkelanjutan bagi direksi, komisaris, dan komite audit. Selain itu, akan diberlakukan kewajiban sertifikasi bagi penyusun laporan keuangan emiten.

  • Pendalaman pasar secara terintegrasi melalui sinergi lintas otoritas, antara OJK, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan stakeholder lainnya. Langkah ini bertujuan memperkuat pasar modal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang.

  • Penguatan kolaborasi berkelanjutan dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, SRO, dan pelaku industri. Sinergi ini ditujukan untuk memastikan reformasi pasar modal berjalan konsisten dan berkesinambungan.

Reformasi ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan, kredibilitas, dan daya tarik pasar modal Indonesia agar semakin investable dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Bank Mandiri Salurkan Kredit Rp 1.895 T di 2025, Tumbuh 13,4%

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp 1.895 triliun sepanjang 2025. Realisasi tersebut tumbuh 13,4% secara tahunan (year on year/yoy), seiring dengan strategi ekspansi yang tetap dibarengi pengelolaan risiko secara pruden.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menegaskan, pertumbuhan kredit tersebut diikuti dengan kualitas aset yang tetap terjaga. "Konsistensi kami terhadap kualitas bisnis prudent, hal ini tercermin NPL bank only terjaga 0,96%," ujar Novita dalam konferensi pers, Kamis (5/2/2026).

Ia menambahkan, akselerasi bisnis Bank Mandiri turut ditopang oleh penguatan kanal digital yang terus berkembang dan menjangkau berbagai lapisan ekonomi. Pada segmen bisnis, Kopra by Mandiri telah digunakan oleh sekitar 320.000 nasabah, dengan sekitar 85% di antaranya berasal dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Sementara itu, Direktur Corporate Banking Bank Mandiri Mochamad Rizaldi menjelaskan bahwa pertumbuhan kredit korporasi ditopang oleh ekosistem BUMN atau pelat merah, dengan kontribusi rasio mencapai sekitar 40%. Ia menegaskan penerapan prinsip kehati-hatian tetap dijalankan secara konsisten di seluruh lini bisnis.

"Kredit dalam risiko atau loan at risk (LAR) terus membaik, secara tahunan turun dari 6,76% menjadi 6,05%. Sementara rasio pencadangan NPL kuat di level 223%, sebagai kesiapan Bank Mandiri menghadapi restrukturisasi," kata Rizaldi.

Dari sisi kinerja keuangan, Bank Mandiri membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 56,3 triliun sepanjang 2025. Angka tersebut tumbuh 0,93% secara tahunan dibandingkan capaian 2024.

Pendapatan bunga bersih Bank Mandiri tercatat meningkat 4,36% yoy menjadi Rp 106 triliun, sedangkan pendapatan non-bunga melonjak 14,5% yoy menjadi Rp 48,5 triliun, mencerminkan diversifikasi sumber pendapatan yang semakin solid.

Moody's Turunkan Outlook RI ke Negatif, BI Tegaskan Fundamental Tetap Kuat

Moody's Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2, namun menurunkan outlook dari stabil menjadi negatif pada 5 Februari 2026. Penyesuaian outlook tersebut didorong oleh penilaian Moody's atas menurunnya kepastian dan prediktabilitas kebijakan, khususnya dari sisi tata kelola, yang dinilai berpotensi menekan kredibilitas kebijakan dan kinerja ekonomi jika berlanjut.

Moody's menilai meningkatnya ketidakpastian kebijakan telah melemahkan kepercayaan investor, tercermin dari volatilitas pasar saham dan nilai tukar.

Meski outlook diturunkan, Moody's menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih solid. Ketahanan ekonomi ditopang oleh pertumbuhan yang stabil, kekuatan struktural seperti sumber daya alam dan demografi yang menguntungkan, serta kredibilitas kebijakan moneter dan kehati-hatian fiskal yang menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Moody's memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap di kisaran 5% dalam jangka pendek hingga menengah, dengan defisit fiskal di bawah 3% PDB dan rasio utang pemerintah yang tetap rendah dibanding negara sekelas.

Menanggapi keputusan tersebut, melansir dari publikasi Bank Indonesia, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa penyesuaian outlook tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi nasional.

Perry menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi triwulan IV-2025 mencapai 5,39%, sehingga secara keseluruhan tahun 2025 tumbuh 5,1%. Inflasi tercatat 2,92%, berada dalam sasaran, sementara stabilitas nilai tukar Rupiah terus diperkuat melalui kebijakan Bank Indonesia. Stabilitas sistem keuangan juga terjaga, ditopang likuiditas memadai, permodalan perbankan yang kuat, serta risiko kredit yang rendah.

Dari sisi eksternal, ketahanan ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat. Neraca perdagangan Desember 2025 mencatat surplus US$2,51 miliar, didukung ekspor nonmigas.

Cadangan devisa akhir Desember 2025 mencapai US$156,5 miliar, setara 6,4 bulan impor, berada di atas standar kecukupan internasional. Untuk 2026, defisit transaksi berjalan diperkirakan tetap rendah di kisaran 0,9-0,1% PDB, sementara nilai tukar Rupiah diprakirakan stabil dengan kecenderungan menguat.

Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 4,9-5,7%, dan meningkat menjadi 5,1-5,9% pada 2027, dengan inflasi tetap terkendali. BI menegaskan akan terus memperkuat bauran kebijakan, bersinergi dengan KSSK dan Pemerintah, serta memperkuat komunikasi kebijakan guna menjaga kepercayaan pasar di tengah ketidakpastian global.

Pasar Tenaga Kerja (JOLTS) di AS Melemah

Lowongan kerja di AS turun 386 ribu ke 6,542 juta per Desember 2025, terendah sejak Sep 2020, di bawah ekspektasi 7,2 juta.
Penurunan terbesar adalah di jasa profesional & bisnis (-257 ribu), ritel (-195 ribu), dan keuangan & asuransi (-120 ribu).

Pendinginan permintaan tenaga kerja menguatkan narasi pelemahan ekonomi, berpotensi mendukung pelonggaran kebijakan ke depan jika tren berlanjut.

Bank Sentral Eropa dan Inggris Tahan Suku Bunga

Bank sentral Eropa dan Inggris sama-sama menahan suku bunga, namun dengan nuansa kebijakan yang berbeda. ECB mempertahankan suku bunga acuannya (refi 2,15%, deposit 2,0%, lending 2,4%) dan menegaskan inflasi berada di jalur target 2% dalam jangka menengah.

Ekonomi zona euro dinilai masih resilien, meski risiko dari kebijakan perdagangan global dan geopolitik tetap tinggi. Presiden Lagarde menekankan pendekatan wait-and-see, dengan keputusan kebijakan tidak akan bergantung pada satu rilis data.

Sementara itu, Bank of England menahan Bank Rate di 3,75% dengan voting tipis 5-4, mencerminkan perpecahan internal. Inflasi diperkirakan turun mendekati 2% mulai April, seiring melambatnya pertumbuhan upah, inflasi jasa, dan melemahnya pasar tenaga kerja. Setelah memangkas suku bunga 150 bps sejak Agustus 2024, BoE memberi sinyal pemangkasan lanjutan masih terbuka, namun sangat bergantung pada data ke depan.

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • Sidang Terbuka Satgas Debottlenecking pada Jumat, 6 Februari 2026 pukul 09.00 WIB di Aula Juanda Gedung Juanda 1 Lt. M Kementerian Keuangan
  • Pemberitahuan RUPS Rencana Bank Sinarmas Tbk 
  • Rapat Koordinasi Pembahasan pengaduan PT.Pertamina Patra Niaga
  • Pertemuan bilateral Presiden Indonesia dengan Perdana Menteri Australia di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat

  • Menteri Perdagangan akan menggelar "Konferensi Pers Capaian Kinerja Indonesia 2025 dan Program Kerja 2026 Kementerian Perdagangan" di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat

  • Press Conference Kinerja Tahun 2025 PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk

  • Media Update Fitur Anti-Spam dan Anti-Scam yang akan dilaksanakan di kantor Pusat Indosat, Jakarta Pusat. Narasumber antara lain President Director & CEO Indosat, Wakil Menteri Komdigi, dan Independent Director Tanla Platforms


Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:



CNBC INDONESIA RESEARCH

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandanganCNBCIndonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.



Most Popular
Features