MARKET DATA
Newsletter

IHSG-Rupiah Lagi On Fire, Jangan Dirusak Drama Amerika & China

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
11 February 2026 06:25
Raja Bursa! Ini 10 Saham Paling Moncer 2025, Ada yang Terbang 8.000%
Foto: Infografis/ Raja Bursa! Ini 10 Saham Paling Moncer 2025, Ada yang Terbang 8.000%/Aristya Rahadian
  • Pasar keuangan Indonesia ditutup kompak menguat baik dari IHSG, Rupiah, maupun harga SBN
  • Wall Street ditutup beragam di tengah kekhawatiran mengenai penjualan ritel
  • Rilis data pengangguran AS dan rilis data inflasi China akan menjadi penggerak pasar pada hari ini.

Jakarta, CNBC Indonesia -  Pasar keuangan Indonesia berakhir menguat secara keseluruhan pada perdagangan hari Selasa (10/2/2026).

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan volatile pada perdagangan hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen pasar keuangan Indonesia pada hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 1% lebih pada perdagangan kemarin, Selasa (10/2/2026). pada penutupan perdagangan, IHSG melesat 100 poin atau lompat 1,24% ke level 8.131,74.

Sebanyak 556 saham naik, 144 turun, dan 116 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 20,37 triliun, melibatkan 45,77 miliar saham dalam 2,45 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun terkerek naik menjadi Rp 14.778 triliun.

Berdasarkan data pasar, Bumi Resources (BUMI) menjadi saham yang paling banyak ditransaksikan pagi ini, mencapai Rp 5 triliun. Saham BUMI tercatat naik 3,33% ke level 248. Selanjutnya nilai transaksi jumbo juga dicatatkan saham  BBCA (PT Bank Central Asia Tbk), BMRI  (PT Bank Mandiri (Persero) Tbk), BBRI (PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk), dan DEWA (PT Darma Henwa Tbk). 

Seluruh sektor perdagangan menguat kemarin, dengan apresiasi terbesar dibukukan oleh sektor properti, konsumer non-primer dan industri. Adapun sektor kesehatan dan infrastruktur mencatatkan kenaikan paling kecil kemarin.

Saham-saham blue chip serta emiten milik konglomerat kompak tercatat menjadi penopang kinerja IHSG kemarin, dengan kontribusi indeks poin paling besar disumbang oleh Astra International (ASII) yang melesat 3,01% dan menyumbang 8,19 indeks poin.

Lalu disusul oleh Bank Mandiri (BMRI) yang menyumbang 8 indeks poin, Capital Finance Indonesia (CASA) dan Amman Mineral Internasional (AMMN) dengan sumbangan sekitar 5 indeks poin.

Sementara itu sejumlah saham yang hari tercatat menjadi pemberat utama kinerja IHSG termasuk BYAN, BBCA dan EMAS.

Nilai tukar rupiah kembali ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan kemarin, Selasa (10/2/2026).

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup pada posisi Rp16.790/US$ atau terapresiasi tipis 0,03%. Hal ini sekaligus melanjutkan penguatan rupiah di perdagangan sebelumnya, dikala rupiah menguat 0,39% di level Rp16.795/US$.

Selama perdagangan kemarin, rupiah bergerak di rentang level Rp16.769 - Rp16.790/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) per pukul 15.00 WIB terpantau mengalami penguatan 0,08% di level 96,898. Meski demikian, pada perdagangan sebelumnya DXY ditutup melemah tajam sebesar 0,83% di level 96,816.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada kemarin disebabkan mulai terbentuknya kepercayaan pelaku pasar keuangan terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang memang kuat.

"Ini posisi kita year to date, setelah rupiah melemah dalam 3 hari kini mulai menguat. Kemarin Rp 16.700-an," kata Destry dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa.

Destry menegaskan, dalam meningkatkan kepercayaan pelaku pasar keuangan, pemerintah dan BI terus konsisten membangun komunikasi yang jelas beberapa hari terakhir. Komunikasi terkait kondisi fundamental ekonomi yang kuat inilah kata dia yang sudah diterima pelaku pasar keuangan.

"Dua hari lalu saat MSCI ada laporan dan gejolak, ada apa ini? Tapi ada bold communication dari pemerintah dan regulator yang membuat market confidence lagi dan BI selalu sampaikan bahwa BI tetap di pasar menjaga stabilitas rupiah dan BI lakukan smart intervention," paparnya.

Destry pun memastikan, BI akan terus berada di pasar keuangan untuk memastikan stabilitas pergerakan nilai tukar rupiah terjaga ke arah penguatan, sesuai dengan fundamental ekonomi, yang ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi makin cepat hingga tekanan inflasi yang terkendali di kisaran target 2,5% plus minus 1%.

Lanjut ke pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun tercatat melandai setelah 3 masa perdagangan mengalami penurunan. Pada perdagangan kemarin, yield SBN ditutup di level 6,436% atau turun 0,44% dari hari sebelumnya yang ditutup pada level 6,464%. Imbal hasil yang melandai ini menandai harga SBN tengah naik karena diburu investor.

Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street berakhir beragam pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.

Investor bereaksi terhadap data penjualan ritel yang lebih lemah dari perkiraan dan meningkatnya kekhawatiran terhadap ancaman kecerdasan buatan (AI) bagi sektor keuangan.

Indeks S&P turun 0,33% dan ditutup di 6.941,81, sementara Nasdaq Composite anjlok 0,59% dan berakhir di 23.102,47.

Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average justru naik 52,27 poin atau 0,10%, mencetak rekor penutupan di 50.188,14. Indeks tersebut sempat mencatat rekor intraday untuk hari ketiga berturut-turut sebelumnya, melanjutkan momentum setelah pekan lalu untuk pertama kalinya menembus level 50.000.

Saham ritel berada di bawah tekanan pada Selasa, terutama Costco dan Walmart, yang masing-masing turun lebih dari 2% dan lebih dari 1%. Hal ini menyusul laporan penjualan ritel terbaru yang menunjukkan belanja konsumen pada Desember stagnan, meleset dari ekspektasi kenaikan bulanan 0,4% yang diperkirakan para ekonom dalam jajak pendapat Dow Jones. Sebelumnya, penjualan ritel meningkat 0,6% pada November.

Investor kini menantikan laporan ketenagakerjaan utama pada Rabu, serta indeks harga konsumen (CPI) pada Jumat.

"Komponen lain dari konsumen berpendapatan rendah dan menengah yang saat ini tertekan adalah bagaimana perasaan mereka terhadap kondisi pasar kerja, dan kita tahu ketidakpastian mereka meningkat," ujar Anthony Saglimbene, kepala strategi pasar Ameriprise Financial, kepada CNBC.

"Jika kita melihat pertumbuhan lapangan kerja Januari yang lebih lemah dari perkiraan, hal itu bisa sedikit membebani tema pelebaran (broadening) ini."imbuhnya.

Saham-saham sektor keuangan juga terpukul pada Selasa setelah platform teknologi Altruist meluncurkan alat perencanaan pajak berbasis AI. Saham LPL Financial merosot 8,3%, Charles Schwab turun 7,4%, dan Morgan Stanley melemah lebih dari 2%.

"Sepertinya ada rotasi ke area lain yang mungkin lebih terlindungi dari perdagangan bertema AI," tambah Saglimbene, seraya mencatat kenaikan terbaru di sektor-sektor seperti material dan utilitas.

Wall Street datang dari dua hari berturut-turut penguatan seiring reli saham teknologi, melanjutkan kebangkitan pada Jumat. Dow khususnya mencetak level tertinggi baru baik secara intraday maupun penutupan. Investor berharap pasar dapat mempertahankan tren kenaikannya setelah aksi jual pekan lalu gagal memberikan dampak berarti secara teknikal.

Faktanya, S&P 500 berhasil kembali bertahan di atas rata-rata pergerakan 50 hari dan 100 hari setelah sempat turun di bawahnya pekan lalu, dan banyak kelas aset mengungguli indeks tersebut-sinyal bullish menurut para trader.

Pelaku pasar hari ini bakal fokus mencermati beberapa sentimen penting, baik dari dalam maupun luar negeri. Mulai dari target besar Danantara untuk BUMN, strategi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong penyaluran kredit, hingga data terbaru soal ekonomi AS dan China.

Selain itu, situasi geopolitik di Timur Tengah juga jadi perhatian karena bisa berdampak ke harga minyak dunia. Isu-isu ini bakal menentukan arah pasar keuangan kita ke depannya.

Lonjakan IHSG dan penguatan rupiah kemarin menjadi modal positif bagi pergerakan pasar keuangan Indonesia hari ini. Melemahnya indeks dolar juga menjadi kabar baik bagi rupiah dan bisa menopang penguatan lebih lanjut hari ini. Namun, sejumlah kabar genting dan perkembangan dari Amerika Serikat serta China bisa membebani pasar keuangan Indonesia hari ini.

Berikut adalah rangkuman berita dan analisis pasar hari ini:

Aspirasi Danantara Menembus Jajaran Fortune 500

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, baru saja memaparkan visi korporasi yang menargetkan Danantara Asset Management untuk bersaing secara langsung dengan perusahaan-perusahaan global dalam daftar Fortune 500.

Optimisme ini didukung oleh fondasi permodalan yang sangat kuat. Saat ini, Danantara tercatat memiliki ekuitas mencapai Rp 3.000 triliun dengan total aset kelolaan sebesar Rp 14.000 triliun.

Valuasi aset yang masif ini menempatkan Danantara pada posisi yang sangat kompetitif untuk menembus jajaran 10 besar perusahaan investasi terbesar di dunia, dengan potensi pendapatan setara US$ 110 miliar.

Dari sisi profitabilitas, target yang ditetapkan juga cukup agresif namun terukur. Untuk berjalan ini, konsolidasi laba seluruh BUMN di bawah naungan DAM ditargetkan mencapai Rp 360 triliun.

Angka ini diproyeksikan akan terus meningkat menjadi Rp 400 triliun pada 2027, dan mencapai puncaknya pada 2029 dengan target laba sebesar Rp 600 triliun, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Dony Oskaria mengakui bahwa pengelolaan aset negara sebesar ini memiliki tantangan kompleksitas yang tinggi.

Namun, strategi utamanya akan berfokus pada penetrasi ke sektor-sektor industri strategis yang selama ini belum dioptimalkan oleh negara, serta peningkatan efisiensi operasional untuk memaksimalkan return on asset bagi kas negara.

Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Dony Oskaria saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)Foto: Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Dony Oskaria saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Restrukturisasi Radikal BUMN: Efisiensi Tanpa Pemutusan Hubungan Kerja

Masih dalam koridor transformasi BUMN, Danantara mengumumkan rencana perampingan struktural yang signifikan. Jumlah entitas BUMN, yang saat ini mencapai 1.043 entitas (mencakup induk, anak, hingga cucu perusahaan), akan dipangkas secara drastis menjadi hanya 300 entitas.

Rasionalisasi di balik kebijakan ini adalah untuk meningkatkan efektivitas pengawasan dan rentang kendali manajemen. Dengan struktur yang lebih ramping, 300 entitas tersebut nantinya akan dikelompokkan ke dalam sekitar 16 klaster atau sektor industri, sehingga fokus bisnis menjadi lebih tajam dan meminimalisir tumpang tindih operasional antar-perusahaan pelat merah.

Terkait dampak sosial dari kebijakan ini, manajemen Danantara memberikan jaminan bahwa proses konsolidasi tidak akan berdampak pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Mekanisme yang akan ditempuh adalah penggabungan usaha, di mana sumber daya manusia dari entitas yang ditutup akan diserap ke dalam perusahaan induk atau entitas lain yang bertahan.

Dari perspektif fiskal, langkah restrukturisasi ini diproyeksikan memberikan nilai tambah efisiensi sebesar Rp 50 triliun bagi negara. Angka tersebut berasal dari penghapusan inefisiensi proyek antar-anak usaha senilai Rp 30 triliun, serta penghentian beban operasional dari anak-anak usaha yang selama ini mencatatkan kerugian sebesar Rp 20 triliun.

Paradoks Likuiditas Perbankan dan Strategi "Indonesia Incorporated"

Beralih ke sektor jasa keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti fenomena paradoksal dalam sistem perbankan nasional. Meskipun likuiditas perbankan saat ini sangat melimpah, penyaluran kredit ke sektor riil masih menghadapi hambatan.

Hal ini tecermin dari tingginya angka undisbursed loan atau fasilitas kredit yang telah disetujui namun belum ditarik oleh debitur, yang nilainya mencapai Rp 2.400 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menegaskan bahwa stagnasi ini bukan disebabkan oleh keterbatasan suplai dana dari bank, melainkan lemahnya permintaan (demand) kredit yang berkelanjutan dari dunia usaha. Pelaku bisnis tampaknya masih mengambil sikap wait and see akibat ketidakpastian iklim usaha.

Sebagai solusi struktural, OJK mendorong implementasi konsep "Indonesia Incorporated". Konsep ini mengadopsi model orkestrasi kebijakan yang sukses diterapkan oleh negara-negara Asia Timur seperti Jepang dan Korea Selatan, di mana seluruh elemen kebijakan negara bergerak secara sinergis.

Dalam kerangka ini, kebijakan industri, kebijakan investasi, dan kebijakan pembiayaan harus selaras dan bebas dari ego sektoral. Kerap kali terjadi ketidaksinkronan di mana insentif industri tidak didukung oleh kemudahan regulasi investasi, sehingga menghambat ekspansi bisnis.

Dengan penyelarasan total melalui "Indonesia Incorporated", diharapkan sumbatan pada undisbursed loan sebesar Rp 2.400 triliun tersebut dapat terurai dan mengalir deras ke sektor produktif untuk memacu pertumbuhan ekonomi.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan merangkap Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)Foto: Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan merangkap Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae saat menyampaikan paparan dalam acara Economic Outlook 2026 bertema “Consolidating Growth, Accelerating the Transformation” di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Pertumbuhan Tahunan Melambat, Momentum Bulanan Menguat

Bank Indonesia merilis data penjualan ritel pada Selasa kemarin. Data ekonomi makro domestik kemarin dibuka dengan rilis Indeks Penjualan Ritel (IPR) oleh Bank Indonesia untuk periode Desember 2025. Penjualan ritel tercatat tumbuh 3,5% secara tahunan YoY, menandai ekspansi selama delapan bulan berturut-turut yang didukung oleh berbagai insentif pemerintah untuk menjaga daya beli.

Namun, laju pertumbuhan ini mengalami perlambatan signifikan dibandingkan bulan November yang mampu tumbuh 6,3%, sekaligus menjadi kenaikan tahunan terendah sejak Agustus lalu.

Secara sektoral, perlambatan ini dipicu oleh melandainya pertumbuhan pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau (5,9%) serta Suku Cadang dan Aksesori Otomotif (14,8%).

Penurunan tajam bahkan terjadi pada kategori Peralatan Informasi dan Komunikasi yang terkontraksi hingga -30,0%, serta Sandang yang minus 7,0%, mengindikasikan adanya penahan belanja pada barang-barang sekunder dan tersier.

Meskipun secara tahunan terlihat melambat, terdapat optimisme dari sisi pertumbuhan bulanan. Aktivitas ritel pada Desember melonjak 3,1% dibandingkan bulan sebelumnya, jauh lebih tinggi dari pertumbuhan 1,5% di bulan November.

Angka ini merupakan laju bulanan terkuat dalam sembilan bulan terakhir. Lonjakan ini mengonfirmasi bahwa momentum konsumsi rumah tangga masih cukup resilient, terutama didorong oleh faktor musiman akhir tahun.

Data ini memberikan sinyal bauran bagi pasar: daya beli masyarakat masih ada, namun pola belanja menjadi lebih selektif dengan memprioritaskan kebutuhan pokok dibandingkan durable goods.

Sektor Manufaktur China

Dari lanskap ekonomi global, data terbaru dari China menunjukkan adanya perbaikan moderat pada sektor manufaktur, meskipun tekanan deflasi belum sepenuhnya hilang. Indeks Harga Produsen (PPI) China pada bulan Desember 2025 tercatat terkontraksi sebesar 1,9% secara YoY.

Meskipun masih berada di zona negatif-menandai penurunan harga di tingkat pabrik selama 39 bulan berturut-turut-angka ini menunjukkan perbaikan dibandingkan bulan November yang terkontraksi 2,2%.

Realisasi ini juga sedikit lebih baik daripada ekspektasi pasar, mengindikasikan bahwa tekanan harga di sektor hulu mulai mereda secara bertahap.

Perbaikan data PPI ini didorong oleh melandainya penurunan harga pada sektor bahan baku dan pertambangan. Hal ini menjadi indikasi awal bahwa persaingan harga yang ekstrem di antara produsen domestik China mulai berkurang seiring dengan upaya pemerintah Beijing menstabilkan pasar.

Bagi pasar internasional, perkembangan ini memiliki implikasi penting. Stabilnya harga produsen di China dapat mengurangi risiko "ekspor deflasi" ke pasar global, yang berarti tekanan harga barang impor bagi mitra dagang utama China mungkin akan mulai normalisasi. Selain itu, ini menjadi sinyal bahwa permintaan industri di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut perlahan mulai menemukan titik keseimbangan baru.

Manuver Strategis Beijing Membatasi Eksposur Utang AS

Perkembangan lain yang patut dicermati dari China adalah perubahan strategi pengelolaan cadangan devisa yang berpotensi mempengaruhi pasar obligasi global. Presiden Xi Jinping dilaporkan telah menginstruksikan lembaga keuangan domestik untuk membatasi eksposur terhadap surat utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasury).

Data menunjukkan tren divestasi yang konsisten, di mana kepemilikan China atas utang AS telah menyusut dari puncaknya sebesar US$ 1,3 triliun pada satu dekade lalu menjadi kisaran US$ 650-700 miliar saat ini.

Kebijakan ini didasari oleh langkah mitigasi risiko terhadap volatilitas pasar obligasi AS yang meningkat serta ketidakpastian geopolitik menjelang interaksi dengan pemerintahan Presiden AS.

Langkah Beijing ini mencerminkan strategi diversifikasi aset untuk mengurangi ketergantungan pada Dolar AS. Jika institusi keuangan China secara kolektif menahan pembelian atau melanjutkan aksi jual obligasi AS, hal ini dapat memberikan tekanan pada harga obligasi dan mendorong kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury.

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, fenomena ini perlu diwaspadai karena kenaikan yield obligasi AS seringkali memicu capital outflow dan memberikan tekanan depresiasi terhadap nilai tukar Rupiah.

Pasar Tenaga Kerja AS: Pendinginan Menuju "Soft Landing"

Dari data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis Selasa kemarin,  data ketenagakerjaan bulan Januari 2026 memberikan konfirmasi bahwa ekonomi AS sedang mengalami fase pendinginan. Ekonomi AS tercatat menambahkan 70.000 lapangan kerja non-pertanian (non-farm payrolls), meningkat tipis dibandingkan bulan Desember.

Tingkat pengangguran terpantau stabil di level 4,4%. Data ini menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja masih tumbuh, namun dengan laju yang jauh lebih lambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Pertumbuhan upah juga melambat menjadi 3,6% secara tahunan, yang merupakan indikator positif bagi The Fed karena menandakan meredanya tekanan inflasi dari sisi upah.

Poin krusial lain dalam laporan tersebut adalah revisi data historis tahun 2025, yang menunjukkan bahwa jumlah perekrutan tenaga kerja sebenarnya lebih rendah daripada estimasi awal. Revisi ini mengonfirmasi bahwa perlambatan ekonomi AS sudah terjadi lebih dalam dari yang diperkirakan pasar.

Namun, hal ini justru ditanggapi positif sebagai sinyal soft landing-sebuah skenario di mana inflasi dapat ditekan tanpa memicu resesi ekonomi yang parah.

Kondisi ini memperbesar probabilitas bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga yang stabil atau bahkan melonggarkannya di masa depan, yang akan menjadi sentimen positif bagi aset berisiko.

Eskalasi Geopolitik dan Risiko Jalur Distribusi Energi

Isu terakhir yang menjadi perhatian utama pasar komoditas adalah peningkatan ketegangan di Selat Hormuz. Administrasi Maritim Amerika Serikat (MARAD) telah mengeluarkan peringatan resmi kepada seluruh kapal berbendera AS untuk menjauhi perairan Iran dan menolak izin bagi pasukan asing yang berupaya menaiki kapal.

Peringatan ini dikeluarkan menyusul serangkaian insiden keamanan yang melibatkan kapal komersial dan militer Iran di wilayah tersebut, meskipun di saat yang sama terdapat upaya diplomasi nuklir yang sedang berlangsung.

Selat Hormuz memiliki peran strategis yang sangat vital bagi ekonomi global, mengingat sekitar sepertiga dari total minyak mentah yang diperdagangkan melalui jalur laut melewati selat ini.

Segala bentuk gangguan keamanan, blokade, atau konflik fisik di wilayah ini akan berdampak langsung pada lonjakan harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga minyak yang signifikan akan memberikan tekanan inflasi global dan memperberat beban subsidi energi bagi negara importir minyak, termasuk Indonesia.

Oleh karena itu, perkembangan situasi di Timur Tengah tetap menjadi faktor risiko eksternal terbesar yang perlu dimitigasi oleh para pelaku pasar.

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • Inflasi China - Januari 2026
  • PPI China - Januari 2026
  • Tingkat Pengangguran Amerika Serikat - Januari 2026
  • Non Farm Payroll Amerika Serikat - Januari 2026
  • Konferensi pers Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Wilayah Sumatera di Gedung Sasana Bhakti Praja, kantor pusat Kemendagri, Jakarta Pusat. Narasumber antara lain Menteri Dalam Negeri, Menteri Sekretaris Negara, dan Menteri Pekerjaan Umum

  • Komisi V DPR menggelar Rapat Kerja dengan Menteri Perhubungan di ruang rapat Komisi V DPR, Senayan, Jakarta Pusat

  • Komisi VI DPR menggelar Rapat Dengar Pendapat dengan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) beserta Subholding di ruang rapat Komisi VI DPR, Senayan, Jakarta Pusat

  • Pengumuman Pendaftaran Seleksi Pemilihan Calon Pengganti Antarwaktu Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan dengan narasumber Sahli Jasa Keuangan yang akan diselenggarakan press room Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat

  • Komisi VI DPR menggelar Rapat Dengar Pendapat dengan antara lain Direktur Utama DEFEND ID dan Direktur Utama PINDAD di ruang rapat Komisi VI DPR, Senayan, Jakarta Pusat

  • Press Conference Avrist Group Financial Forum 2026 yang akan diselenggarakan di Hotel Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta Selatan

  • Media Update XLSMART terkait Kesiapan Jaringan Jelang Ramadan dan Lebaran2026yang akan berlangsung di XLSMART Tower, Jakarta Selatan

  • Peluncuran Program Akademi Pengajar Shopee di BBPVP Bekasi, CEVEST, Kota Bks, Jawa Barat. Turut hadir antara lain Menteri Ketenagakerjaan dan Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Buana Artha Anugerah Tbk.
  • Tanggal ex Dividen Tunai Interim PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]



Most Popular
Features