MARKET DATA
Newsletter

Tekanan Berlanjut: China & AS Umumkan Kabar Krusial Hari Ini

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
09 January 2026 06:17
Ilustrasi Trading (Stok Market)
Foto: Ilustrasi Trading (Stok Market)
  • Pasar keuangan Indonesia ditutup melemah, baik saham dan nilai tukar rupiah jatuh
  • Wall Street melemah, saham AI melandai
  • Data ekonomi dalam negeri dan AS menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan Indonesia berakhir di zona merah. Bursa saham dan rupiah sama-sama melemah.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih menghadapi tekanan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Pasar keuangan dalam negeri kompak ditutup melemah pada perdagangan Kamis (8/1/2025) meski IHSG sempat menyentuh rekor. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah dan berakhir di zona merah Kamis (8/1/2026).

Indeks tercatat turun 19,34 poin atau 0,22% ke level 8.925,47. Indeks pada sesi 1 sempat menguat dan menyentuh level 9.000.

Akan tetapi memasuki sesi 2 indeks mulai koreksi dan sempat menyentuh level terendah di 8.918,41.

Sebanyak 380 saham turun, 328 saham naik, dan 250 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 28,78 triliun, melibatkan 51,58 miliar saham dalam 3,71 juta kali transaksi.

Mengutip Refinitiv, sektor bahan baku anjlok paling dalam, yakni 1,88%. Hal ini seiring dengan saham-saham seperti Aneka Tambah (ANTM), Merdeka Copper Gold (MDKA), Bumi Resources Minerals (BRMS), hingga Amman Mineral International (AMMN) menjadi pemberat utama indeks.

Kendati demikian, perdagangan kemarin menjadi bersejarah karena untuk pertama kalinya IHSG menyentuh titik 9.000. Sebelumnya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat memperkirakan bahwa IHSG akan menyentuh level 9.000.

"To the moon," kata Purbaya menanggapi IHSG yang berhasil menyentuh level 9.000.

Beralih ke pasar valas, nilai tukar rupiah kembali melanjutkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), seiring dengan adanya sentimen dari dalam maupun luar negeri.

Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Kamis (8/1/2026) rupiah bertengger di posisi Rp16.785/US$ atau melemah 0,09%. Hal ini sekaligus melanjutkan tren penurunan dalam lima hari perdagangan beruntun atau sejak awal 2026.



Pelemahan rupiah pada perdagangan terjadi seiring pelaksanaan konferensi pers APBN KiTa Edisi Januari 2026 yang memaparkan realisasi penuh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun anggaran 2025.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan defisit APBN per Desember 2025 mencapai Rp695,1 triliun atau setara 2,92% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan defisit tahun 2024 yang tercatat sebesar 2,3% dari PDB, sekaligus melampaui target awal defisit APBN 2025 sebesar 2,53% dari PDB.

Dari sisi eksternal, pergerakan rupiah juga masih dibayangi oleh dinamika dolar Amerika Serikat (AS) yang relatif stabil terhadap mayoritas mata uang utama dunia. Pasar global saat ini mencermati rangkaian data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis sepanjang pekan ini.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun menguat menjadi 6,15% dari 6,09%. Kenaikan imbal hasil ini mencerminkan harga SBN yang tengah jatuh karena dijual investor.

Dari pasar saham AS, bursa Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.

Indeks Dow Jones Industrial Average yang beranggotakan 30 saham naik 270,03 poin atau 0,55% dan ditutup di level 49.266,11. S&P 500 menanjak 0,01% dan ditutup di 6.921,46. Dari 11 sektor dalam S&P 500, sektor teknologi informasi menjadi yang tertinggal dengan penurunan lebih dari 1%.

Sebaliknya, indeks Nasdaq yang sarat saham teknologi turun 0,44% dan berakhir di 23.480,02.

Saham favorit kecerdasan buatan (AI) Nvidia termasuk yang dilepas investor, ditutup turun lebih dari 2%. Saham AI lainnya, Oracle, terkoreksi hampir 2%. Saham pembuat iPhone, Apple, juga melemah dan mencatatkan hari ketujuh berturut-turut berada di zona merah.

Meski demikian, Rob Haworth, direktur senior strategi investasi di U.S. Bank Asset Management, menilai teknologi dan AI akan tetap menjadi tema penting pada 2026.

Namun, menurutnya, status perdagangan tersebut sebagai pendorong kenaikan akan bergantung pada apakah mulai muncul penggunaan nyata (use cases) dan di sektor apa saja.

"Kami melihat tanda-tanda awalnya di sektor kesehatan. Ketika kami memikirkan robotika, asuransi, diagnostik, semua jenis perusahaan ini akan menjadi penerima manfaat awal. Di situlah kami melihat cerita pertumbuhannya." Ujar Haworth, dikutip dari CNBC.

Haworth menambahkan bahwa kinerja pasar perlu meluas ke sektor lain, dengan menyebut industri dan keuangan sebagai dua area kunci yang perlu dicermati.

"Cerita di sektor-sektor itu mulai terlihat lebih baik tahun ini, dan saya pikir itu akan menjadi kunci agar reli ini berlanjut," katanya.

Saham-saham pertahanan menjadi sorotan positif pada hari itu, setelah Presiden Donald Trump menyerukan anggaran pertahanan sebesar US$1,5 triliun pada 2027, sebuah lonjakan besar dari US$901 miliar yang disetujui Kongres untuk 2026.

Saham Northrop Grumman melonjak lebih dari 2%, sementara Lockheed Martin menguat lebih dari 4%. Selain itu, RTX naik hampir 1%, dan Kratos Defense melesat hampir 14%.

S&P 500 dan Dow mengakhiri sesi Rabu di zona merah setelah sempat menyentuh rekor tertinggi baru sepanjang masa. Pelemahan tersebut terjadi ketika harga minyak mentah merosot usai Trump menyatakan bahwa otoritas sementara di Venezuela akan menyerahkan hingga 50 juta barel minyak ke Amerika Serikat, memicu kekhawatiran akan bertambahnya pasokan minyak.

Pasar keuangan perlu mencermati sejumlah sentimen hari ini, baik dari dalam ataupun luar negeri. Realisasi APBN menjadi salah satu sentimen yang bisa mempengaruhi pasar, terutama dengan realisasi defisit yang mendekati 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Dari AS, sejumlah data akan dirilis hari ini, termasuk data tenaga kerja.

Tutup Buku APBN 2025, Defisit Hampir 3%

Kementerian Keuangan memaparkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 dalam konferensi pers APBN KiTa, Kamis (8/1/2026). Laporan ini menjadi penutup kinerja fiskal sepanjang tahun lalu.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa secara umum asumsi makro dalam APBN 2025 masih berada di jalur yang dirancang pemerintah. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tercatat 5,2%, dengan laju pada kuartal IV diperkirakan menguat hingga 5,45%.

Di sisi stabilitas harga, inflasi berada sedikit di atas target pemerintah 2,5%. Pada Desember 2025, inflasi tercatat 2,92%. Sementara itu, nilai tukar rupiah juga melemah dibandingkan asumsi APBN di Rp16.000 per dolar AS, dengan realisasi berada di kisaran Rp16.475 per dolar AS.

Dari sisi fiskal, pendapatan negara hingga akhir Desember 2025 tercatat sebesar Rp2.756,3 triliun. Pada saat yang sama, belanja negara mencapai Rp2.602,3 triliun.

Dengan komposisi tersebut, defisit anggaran 2025 membengkak menjadi Rp695,1 triliun atau setara 2,92% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka ini lebih tinggi dibandingkan defisit 2024 yang tercatat sekitar 2,3% dari PDB.

Purbaya menjelaskan pelebaran defisit tersebut merupakan bagian dari strategi kebijakan fiskal countercyclical untuk menjaga momentum pertumbuhan di tengah tekanan global. Ia menilai langkah tersebut sekaligus menjadi penopang stabilitas ekonomi domestik.

Menurut Purbaya, penguatan fundamental ekonomi yang mulai terbentuk di 2025 diharapkan memberi ruang bagi konsolidasi fiskal pada 2026, termasuk peluang untuk kembali mempersempit defisit anggaran.


Klaim pengangguran AS

Klaim awal tunjangan pengangguran di Amerika Serikat naik 8.000 menjadi 208.000 pada pekan yang berakhir 3 Januari. Angka ini relatif sejalan dengan ekspektasi pasar di 210.000 dan tetap jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata sepanjang tahun sebelumnya.

Sementara itu, klaim berkelanjutan yang mencerminkan jumlah penganggur yang masih menerima tunjangan meningkat 56.000 menjadi 1.914.000. Capaian ini melampaui perkiraan pasar yang berada di kisaran 1.900.000.

Kombinasi antara rendahnya klaim baru dan meningkatnya jumlah penganggur yang masih bertahan dalam sistem tunjangan memperkuat sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS tengah bergerak dalam pola perekrutan yang melambat, meski tingkat pemutusan hubungan kerja relatif stabil.

Di sisi lain, klaim pengangguran yang diajukan oleh pegawai federal justru menurun. Pada pekan terakhir Desember, jumlahnya turun 333 menjadi 479, di tengah perhatian pasar terhadap dampak penutupan sebagian pemerintahan federal AS.

 


Ekspor Impor Amerika Serikat

Defisit perdagangan Amerika Serikat dalam barang dan jasa turun tajam pada Oktober 2025. Data Departemen Perdagangan AS menunjukkan defisit hanya sebesar US$ 29,4 miliar, menyusut drastis dari US$ 48,1 miliar pada bulan sebelumnya. Ini menjadi posisi defisit bulanan terendah sejak Juni 2009.

Penyempitan defisit ini terjadi di tengah tekanan besar dari kebijakan tarif yang diterapkan pemerintahan Presiden Donald Trump. Tarif impor yang semakin luas membuat arus perdagangan global tertahan, terutama dari sisi impor ke Amerika Serikat.

Secara rinci, nilai impor AS pada Oktober turun 3,2% menjadi US$ 331,4 miliar, sementara ekspor justru naik 2,6% menjadi US$ 302 miliar. Kenaikan ekspor yang lebih besar dibanding penurunan impor inilah yang membuat selisih perdagangan atau defisit menjadi lebih kecil, sejalan dengan target Trump untuk memperbaiki neraca perdagangan AS.

Meski begitu, gambaran tahunan masih menunjukkan tekanan. Akibat lonjakan impor pada paruh awal 2025, defisit perdagangan AS selama Januari-Oktober 2025 masih tercatat naik 7,7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Artinya, perbaikan Oktober belum cukup untuk membalikkan tren sepanjang tahun.

Perdagangan AS sepanjang 2025 bergerak tidak stabil karena kebijakan tarif yang berubah-ubah. Pada April, Trump mengumumkan tarif global besar-besaran, lalu menundanya selama beberapa bulan untuk membuka ruang negosiasi dagang. Namun, tarif tersebut kembali diberlakukan mulai 7 Agustus 2025.

 

Tekanan terhadap impor semakin kuat setelah pada 29 Agustus, pemerintah AS menghapus kebijakan "de minimis", yang sebelumnya memungkinkan barang impor senilai di bawah US$ 800 masuk ke AS tanpa bea masuk. Penghapusan aturan ini membuat jutaan paket impor kecil, terutama dari Asia, kini dikenai tarif.

Selain itu, pemerintahan Trump juga mengenakan tarif sektoral atas sejumlah komoditas strategis seperti baja, tembaga, dan furnitur berlapis (upholstered furniture) dengan alasan keamanan nasional dan perlindungan industri dalam negeri.

Akibat kombinasi kebijakan tersebut, tarif efektif AS per November 2025 telah menembus 16%, menurut perhitungan Budget Lab di Yale University. Ini merupakan tingkat tarif tertinggi sejak 1935, menjadikan biaya impor ke Amerika Serikat berada di level yang sangat mahal secara historis.

US Unemployment Rate

Inflasi China

Pasar menanti rilis inflasi China (yoy) pada Jumat, (9/1/2026), yang akan menjadi petunjuk arah pemulihan konsumsi dan stabilitas harga di tengah stimulus Beijing.

Sebelumnya, inflasi tahunan China naik ke 0,7% pada November 2025 dari 0,2% di bulan sebelumnya, sesuai ekspektasi pasar dan menjadi yang tertinggi sejak Februari 2024.

Kenaikan ini dipimpin sektor pangan. Harga makanan naik 0,2% yoy, berbalik dari kontraksi -2,9% pada Oktober, didorong oleh kenaikan harga sayur dan buah serta penurunan harga daging babi yang lebih terbatas.

Di luar pangan, inflasi non-makanan berada di 0,8%, terdorong oleh program trade-in konsumen yang meningkatkan permintaan barang dan jasa. Harga pakaian naik 1,9%, kesehatan 1,6%, dan pendidikan 0,8%.

Sementara itu, harga perumahan stagnan, sedangkan biaya transportasi turun lebih dalam ke -2,3%. Inflasi inti tercatat 1,2%, sama seperti Oktober dan masih tertinggi dalam 20 bulan.

Namun secara bulanan, CPI turun 0,1%, berlawanan dengan ekspektasi kenaikan 0,2% dan menjadi penurunan pertama dalam lima bulan, menandakan pemulihan permintaan masih rapuh.

 


Tingkat Pengangguran dan Non-Farm Payrolls
Hari ini, AS akan mengumumkan dua data ketenagakerjaan yakni tingkat pengangguran dan non-farm payroll untuk Desember 2025.

Nonfarm payrolls Amerika Serikat diperkirakan bertambah sekitar 60.000 pada Desember 2025, sedikit di bawah penambahan 64.000 lapangan kerja pada November. Laporan ini diperkirakan menjadi yang pertama yang relatif tidak terdistorsi oleh dampak penutupan pemerintahan (government shutdown) pada musim gugur. Tingkat pengangguran diproyeksikan turun tipis menjadi 4,5% dari level tertinggi empat tahun pada November sebesar 4,6%.

Tingkat pengangguran AS naik menjadi 4,6% pada November 2025 dari 4,4% pada September, melampaui ekspektasi pasar sebesar 4,4% dan menandai level tertinggi sejak September 2021. Jumlah penganggur tercatat 7,8 juta, relatif tidak berubah dibanding September, sementara tingkat penyerapan tenaga kerja juga secara umum stabil. Tingkat partisipasi angkatan kerja nyaris tidak berubah di 62,5%, mencerminkan kondisi angkatan kerja yang relatif stabil.

Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan menggelar konferensi pers RDK bulanan mengenai perkembangan sektor jasa keuangan terkini serta kebijakan OJK dalam menjaga stabilitas sektor keuangan dan pelindungan konsumen, OJK akan menyelenggarakan Konferensi Pers RDK Bulanan (RDKB) Desember 2025

  • Huawei menggelar acara Product Unveiling "HUAWEI MatePad 12 X 2026 & HUAWEI FreeClip 2" yang telah resmi hadir di pasar Indonesia

  • Konferensi pers perkembangan terkini penanganan bencana di wilayah Sumatra, khususnya jaminan ketersediaan dan distribusi pangan serta energi di wilayah terdampak bencana

  • Tingkat pengangguran AS Desember 2025

  • Non-farm payrolls AS Desember 2025

  • Inflasi China Desember 2025



Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

  • RUPS PT Woori Finance Indonesia Tbk
    Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Interim PT Bank Amar Indonesia Tbk.
    Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Interim PT Bank Amar Indonesia Tbk.
    Tanggal DPS Dividen Tunai Interim Gunawan Dianjaya Steel Tbk
    Tanggal akhir perdagangan hmetd PT PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk.
    Tanggal akhir perdagangan hmetd PT PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk.
    Tanggal ex Dividen Tunai Interim Roda Vivatex Tbk
    Tanggal ex Dividen Tunai Interim Rukun Raharja Tbk
    Tanggal cum Dividen Tunai Interim PT Chandra Daya Investasi Tbk
    Tanggal cum HMETD PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk



Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:



CNBC INDONESIA RESEARCH

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.





Most Popular
Features