Tekanan Berlanjut: China & AS Umumkan Kabar Krusial Hari Ini
Pasar keuangan perlu mencermati sejumlah sentimen hari ini, baik dari dalam ataupun luar negeri. Realisasi APBN menjadi salah satu sentimen yang bisa mempengaruhi pasar, terutama dengan realisasi defisit yang mendekati 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Dari AS, sejumlah data akan dirilis hari ini, termasuk data tenaga kerja.
Tutup Buku APBN 2025, Defisit Hampir 3%
Kementerian Keuangan memaparkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 dalam konferensi pers APBN KiTa, Kamis (8/1/2026). Laporan ini menjadi penutup kinerja fiskal sepanjang tahun lalu.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa secara umum asumsi makro dalam APBN 2025 masih berada di jalur yang dirancang pemerintah. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tercatat 5,2%, dengan laju pada kuartal IV diperkirakan menguat hingga 5,45%.
Di sisi stabilitas harga, inflasi berada sedikit di atas target pemerintah 2,5%. Pada Desember 2025, inflasi tercatat 2,92%. Sementara itu, nilai tukar rupiah juga melemah dibandingkan asumsi APBN di Rp16.000 per dolar AS, dengan realisasi berada di kisaran Rp16.475 per dolar AS.
Dari sisi fiskal, pendapatan negara hingga akhir Desember 2025 tercatat sebesar Rp2.756,3 triliun. Pada saat yang sama, belanja negara mencapai Rp2.602,3 triliun.
Dengan komposisi tersebut, defisit anggaran 2025 membengkak menjadi Rp695,1 triliun atau setara 2,92% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka ini lebih tinggi dibandingkan defisit 2024 yang tercatat sekitar 2,3% dari PDB.
Purbaya menjelaskan pelebaran defisit tersebut merupakan bagian dari strategi kebijakan fiskal countercyclical untuk menjaga momentum pertumbuhan di tengah tekanan global. Ia menilai langkah tersebut sekaligus menjadi penopang stabilitas ekonomi domestik.
Menurut Purbaya, penguatan fundamental ekonomi yang mulai terbentuk di 2025 diharapkan memberi ruang bagi konsolidasi fiskal pada 2026, termasuk peluang untuk kembali mempersempit defisit anggaran.
Klaim pengangguran AS
Klaim awal tunjangan pengangguran di Amerika Serikat naik 8.000 menjadi 208.000 pada pekan yang berakhir 3 Januari. Angka ini relatif sejalan dengan ekspektasi pasar di 210.000 dan tetap jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata sepanjang tahun sebelumnya.
Sementara itu, klaim berkelanjutan yang mencerminkan jumlah penganggur yang masih menerima tunjangan meningkat 56.000 menjadi 1.914.000. Capaian ini melampaui perkiraan pasar yang berada di kisaran 1.900.000.
Kombinasi antara rendahnya klaim baru dan meningkatnya jumlah penganggur yang masih bertahan dalam sistem tunjangan memperkuat sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS tengah bergerak dalam pola perekrutan yang melambat, meski tingkat pemutusan hubungan kerja relatif stabil.
Di sisi lain, klaim pengangguran yang diajukan oleh pegawai federal justru menurun. Pada pekan terakhir Desember, jumlahnya turun 333 menjadi 479, di tengah perhatian pasar terhadap dampak penutupan sebagian pemerintahan federal AS.
Ekspor Impor Amerika Serikat
Defisit perdagangan Amerika Serikat dalam barang dan jasa turun tajam pada Oktober 2025. Data Departemen Perdagangan AS menunjukkan defisit hanya sebesar US$ 29,4 miliar, menyusut drastis dari US$ 48,1 miliar pada bulan sebelumnya. Ini menjadi posisi defisit bulanan terendah sejak Juni 2009.
Penyempitan defisit ini terjadi di tengah tekanan besar dari kebijakan tarif yang diterapkan pemerintahan Presiden Donald Trump. Tarif impor yang semakin luas membuat arus perdagangan global tertahan, terutama dari sisi impor ke Amerika Serikat.
Secara rinci, nilai impor AS pada Oktober turun 3,2% menjadi US$ 331,4 miliar, sementara ekspor justru naik 2,6% menjadi US$ 302 miliar. Kenaikan ekspor yang lebih besar dibanding penurunan impor inilah yang membuat selisih perdagangan atau defisit menjadi lebih kecil, sejalan dengan target Trump untuk memperbaiki neraca perdagangan AS.
Meski begitu, gambaran tahunan masih menunjukkan tekanan. Akibat lonjakan impor pada paruh awal 2025, defisit perdagangan AS selama Januari-Oktober 2025 masih tercatat naik 7,7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Artinya, perbaikan Oktober belum cukup untuk membalikkan tren sepanjang tahun.
Perdagangan AS sepanjang 2025 bergerak tidak stabil karena kebijakan tarif yang berubah-ubah. Pada April, Trump mengumumkan tarif global besar-besaran, lalu menundanya selama beberapa bulan untuk membuka ruang negosiasi dagang. Namun, tarif tersebut kembali diberlakukan mulai 7 Agustus 2025.
Tekanan terhadap impor semakin kuat setelah pada 29 Agustus, pemerintah AS menghapus kebijakan "de minimis", yang sebelumnya memungkinkan barang impor senilai di bawah US$ 800 masuk ke AS tanpa bea masuk. Penghapusan aturan ini membuat jutaan paket impor kecil, terutama dari Asia, kini dikenai tarif.
Selain itu, pemerintahan Trump juga mengenakan tarif sektoral atas sejumlah komoditas strategis seperti baja, tembaga, dan furnitur berlapis (upholstered furniture) dengan alasan keamanan nasional dan perlindungan industri dalam negeri.
Akibat kombinasi kebijakan tersebut, tarif efektif AS per November 2025 telah menembus 16%, menurut perhitungan Budget Lab di Yale University. Ini merupakan tingkat tarif tertinggi sejak 1935, menjadikan biaya impor ke Amerika Serikat berada di level yang sangat mahal secara historis.
US Unemployment Rate
Inflasi China
Pasar menanti rilis inflasi China (yoy) pada Jumat, (9/1/2026), yang akan menjadi petunjuk arah pemulihan konsumsi dan stabilitas harga di tengah stimulus Beijing.
Sebelumnya, inflasi tahunan China naik ke 0,7% pada November 2025 dari 0,2% di bulan sebelumnya, sesuai ekspektasi pasar dan menjadi yang tertinggi sejak Februari 2024.
Kenaikan ini dipimpin sektor pangan. Harga makanan naik 0,2% yoy, berbalik dari kontraksi -2,9% pada Oktober, didorong oleh kenaikan harga sayur dan buah serta penurunan harga daging babi yang lebih terbatas.
Di luar pangan, inflasi non-makanan berada di 0,8%, terdorong oleh program trade-in konsumen yang meningkatkan permintaan barang dan jasa. Harga pakaian naik 1,9%, kesehatan 1,6%, dan pendidikan 0,8%.
Sementara itu, harga perumahan stagnan, sedangkan biaya transportasi turun lebih dalam ke -2,3%. Inflasi inti tercatat 1,2%, sama seperti Oktober dan masih tertinggi dalam 20 bulan.
Namun secara bulanan, CPI turun 0,1%, berlawanan dengan ekspektasi kenaikan 0,2% dan menjadi penurunan pertama dalam lima bulan, menandakan pemulihan permintaan masih rapuh.
Tingkat Pengangguran dan Non-Farm Payrolls
Hari ini, AS akan mengumumkan dua data ketenagakerjaan yakni tingkat pengangguran dan non-farm payroll untuk Desember 2025.
Nonfarm payrolls Amerika Serikat diperkirakan bertambah sekitar 60.000 pada Desember 2025, sedikit di bawah penambahan 64.000 lapangan kerja pada November. Laporan ini diperkirakan menjadi yang pertama yang relatif tidak terdistorsi oleh dampak penutupan pemerintahan (government shutdown) pada musim gugur. Tingkat pengangguran diproyeksikan turun tipis menjadi 4,5% dari level tertinggi empat tahun pada November sebesar 4,6%.
Tingkat pengangguran AS naik menjadi 4,6% pada November 2025 dari 4,4% pada September, melampaui ekspektasi pasar sebesar 4,4% dan menandai level tertinggi sejak September 2021. Jumlah penganggur tercatat 7,8 juta, relatif tidak berubah dibanding September, sementara tingkat penyerapan tenaga kerja juga secara umum stabil. Tingkat partisipasi angkatan kerja nyaris tidak berubah di 62,5%, mencerminkan kondisi angkatan kerja yang relatif stabil.
(emb/emb)