Ekonomi RI Tumbuh Kencang, Tapi Ada Kabar Buruk: IHSG & Rupiah Aman?
Dari pasar saham Amerika Serikat (AS), bursa Wall Street ambruk pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.
Bursa ambruk karena investor mengambil sikap risk-off yang membuat perdagangan populer di sektor teknologi dan bitcoin mulai terurai.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun sekitar 592,58 poin atau 1,20% dan ditutup di level 48.908,72. S&P 500 turun 1,23% ke 6.798,40 dan masuk ke wilayah negatif untuk kinerja tahun berjalan. Nasdaq Composite merosot 1,59% dan berakhir di 22.540,59. Pada titik terendah sesi, Dow sempat anjlok hampir 700 poin atau sekitar 1,4%, sementara S&P 500 dan Nasdaq masing-masing melemah 1,5% dan 1,9%.
Alphabet menjadi perusahaan terbaru dari kelompok "Magnificent Seven" yang merilis laporan kinerja keuangan.
Perusahaan tersebut memproyeksikan lonjakan tajam belanja kecerdasan buatan (AI) yang mengejutkan sebagian investor, dengan belanja modal (capex) 2026 diperkirakan bisa mencapai hingga US$185 miliar.
Saham Alphabet turun 0,5%. Namun, saham Broadcom justru naik hampir 1% menyusul kabar rencana belanja Alphabet tersebut, memberikan sedikit harapan bagi perdagangan bertema AI saat pasar mulai memilah pemenang dan pihak yang kalah.
"Fakta bahwa beberapa perusahaan ini merilis laporan dan mengumumkan tambahan belanja capex dan jumlahnya sangat besar pada titik ini justru kami pandang sebagai sinyal positif bagi kesehatan pasar secara umum, karena ... ini menunjukkan pasar kini lebih selektif, bukan sekadar euforia irasional," kata Stephen Tuckwood, Director of Investments di Modern Wealth Management, kepada CNBC.
Selain Alphabet, Qualcomm juga berada di bawah tekanan dan anjlok lebih dari 8% setelah merilis proyeksi yang lebih lemah dari perkiraan akibat kekurangan memori global.
Di sisi lain, aksi jual di pasar kripto terus berlanjut, dengan bitcoin turun di bawah US$64.000 setelah sebelumnya sempat jatuh menembus level US$70.000 yang dianggap sebagai level support penting. Di pasar logam mulia, tekanan terhadap perak kembali terjadi. Harga perak menghentikan reli dua hari dan anjlok hingga 16%, setelah sebelumnya merosot hampir 30% pada Jumat lalu.
Kabar buruk dari pasar tenaga kerja
Menambah sentimen negatif, kekhawatiran terhadap melemahnya pasar tenaga kerja meningkat setelah perusahaan penempatan kerja Challenger, Gray & Christmas melaporkan bahwa perusahaan-perusahaan AS mengumumkan 108.435 pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Januari, yang merupakan jumlah tertinggi untuk bulan Januari sejak krisis keuangan global.
Selain itu, klaim awal tunjangan pengangguran untuk pekan yang berakhir 31 Januari naik lebih tinggi dari perkiraan, sementara jumlah lowongan pekerjaan pada Desember turun ke level terendah sejak September 2020.
Kondisi ini terjadi menjelang rilis laporan ketenagakerjaan Januari dari Bureau of Labor Statistics (BLS) pekan depan, yang sempat tertunda akibat penutupan sebagian pemerintahan yang berakhir pada Selasa.
"Rasanya kita mulai bergeser dari periode no-hire, no-fire yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir," kata Tuckwood.
Dia menambahkan bahwa laporan pekerjaan BLS mendatang kemungkinan besar akan mengonfirmasi apa yang kita lihat sekarang, di mana tren pemecatan dan PHK mulai bergerak ke arah negatif.
Jika itu terjadi, ia meyakini The Federal Reserve akan menurunkan suku bunga pada akhir setidaknya salah satu dari pertemuan bulan Maret atau April.
Wall Street baru saja melewati sesi perdagangan yang bergejolak, ditandai aksi jual pada saham perangkat lunak dan semikonduktor yang mendorong S&P 500 mencatatkan penurunan dua hari berturut-turut. Saham-saham tersebut terpukul karena kekhawatiran disrupsi AI di industri mendorong investor keluar dari sektor teknologi secara masif dan beralih ke bagian pasar lain yang dinilai lebih menarik dari sisi valuasi.
Tuckwood mengatakan aksi jual pada saham perangkat lunak, yang memasuki fase bear market pekan lalu, bisa jadi sudah berlebihan.
"Kita memang belum sepenuhnya berada pada titik untuk menghindari risiko 'menangkap pisau jatuh', tetapi pada suatu saat, untuk subsektor tertentu ini, akan muncul peluang ketika tekanan jual sudah terlalu berlebihan."ujarnya.
(emb/emb)