Ekonomi RI Tumbuh Kencang, Tapi Ada Kabar Buruk: IHSG & Rupiah Aman?
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan mengalami tekanan pada hari ini setelah lembaga pemeringkat Moody's Investors Service (Moody's) menurunkan outlook kredit Indonesia.
Ambruknya bursa Wall Street, melandainya pasar tenaga kerja hingga anjloknya harga emas juga diperkirakan akan menekan pasar keuangan Indonesia.
Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:
Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal IV-2025 Tembus 5,39%
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 mencapai 5,39% secara tahunan (year on year/yoy).
Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan pada kuartal III-2025 yakni 5,04%.
Pertumbuhan kuartal IV-2025 juga menjadi yang tertinggi sejak kuartal III-2022 (5,73%) atau dalam 13 kuartal atau lebih dari tiga tahun.
Dibandingkan kuartal sebelumnya (kuartal to kuartal/qtq), ekonomi Indonesia 0,86% pada periode Oktober-Desember 2025 melandai dibandingkan kuartal III-2025 yang tercatat 1,43%.
Sepanjang 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,11%, lebih tinggi dibandingkan 2024 yang mencapai 5,03%.
Dari sisi nominal, besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada 2025 mencapai Rp23.821,1 triliun. Sementara itu, PDB per kapita tercatat sebesar Rp83,7 juta atau setara US$ 5.083,4, mencerminkan peningkatan aktivitas ekonomi dan pendapatan rata-rata masyarakat.
Secara sektoral, dari sisi produksi, Lapangan Usaha Jasa Lainnya mencatatkan pertumbuhan tertinggi sepanjang 2025 dengan laju 9,93%. Sementara dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa menjadi motor utama dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 7,03%, mencerminkan peran perdagangan luar negeri dalam menopang ekonomi nasional.
Memasuki akhir tahun, ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 mencatatkan pertumbuhan 5,39% secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan kuartal III-2025 maupun periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini menandai penguatan momentum ekonomi di penghujung tahun.
Pada periode tersebut, dari sisi produksi, Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 8,98%, sejalan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat dan distribusi barang menjelang akhir tahun.
Dari sisi pengeluaran, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh paling tinggi sebesar 6,12%, mencerminkan berlanjutnya aktivitas investasi.
Sementara itu, secara kuartalan, ekonomi Indonesia tumbuh 0,86% pada kuartal IV-2025 dibanding kuartal III-2025 (quarter on quarter/qoq). Akselerasi ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas ekonomi jangka pendek menjelang tutup tahun.
Dari sisi produksi secara qoq, Lapangan Usaha Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 13,59%. Dari sisi pengeluaran, Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) menjadi pendorong utama dengan lonjakan pertumbuhan sebesar 37,68%, seiring peningkatan realisasi belanja negara di akhir tahun.
Secara spasial, sepanjang 2025 kelompok provinsi di Pulau Jawa masih mendominasi struktur ekonomi nasional dengan kontribusi mencapai 56,93% terhadap PDB. Kawasan ini juga mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,30% (year on year), menegaskan peran Jawa sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Pertemuan Tahunan OJK
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kontribusi sektor jasa keuangan terhadap pembiayaan pembangunan nasional mencapai sekitar Rp9.540 triliun hingga akhir 2025. Kinerja ini ditopang pertumbuhan kredit perbankan 9,53% yoy, yang mencerminkan likuiditas dan permodalan industri keuangan tetap solid.
Menurut Pjs Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, capaian tersebut tidak lepas dari sinergi OJK dengan KSSK termasuk Kemenko Perekonomian,
BI, Kemenkeu, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) serta pelaku usaha jasa keuangan. Selain perbankan, subsektor seperti perusahaan pembiayaan, modal ventura, pergadaian, dan pinjaman daring turut memperdalam pasar keuangan nasional.
Memasuki 2026, OJK mewaspadai meningkatnya fragmentasi geopolitik dan geoekonomi global yang berpotensi memengaruhi arus modal. Meski demikian, OJK optimistis ekonomi Indonesia tetap tangguh dengan proyeksi pertumbuhan sekitar 5,5% pada 2026, ditopang stabilitas sistem keuangan dan kuatnya pembiayaan domestik.
Di sisi pasar modal, OJK bersama pemangku kepentingan akan membentuk Satgas Reformasi Pasar Modal untuk mengawal 8 rencana aksi pembenahan yang terbagi dalam empat klaster utama, yakni kebijakan free float, transparansi, tata kelola dan penegakan (enforcement), serta penguatan sinergi antarotoritas.
Lebih jauh, berikut 8 rencana aksi reformasi pasar modal Indonesia:
-
Peningkatan batas minimum free float emiten menjadi 15%, naik dari ketentuan saat ini sebesar 7,5% dan diterapkan secara bertahap. Untuk IPO baru, ketentuan 15% dapat langsung diberlakukan, sementara emiten eksisting diberikan masa transisi.
-
Penguatan peran investor institusi domestik dan perluasan basis investor, baik domestik maupun asing. Pemerintah akan mendukung melalui penyesuaian limit investasi, termasuk di sektor asuransi dan dana pensiun, sesuai prinsip manajemen risiko dan tata kelola.
-
Peningkatan transparansi ultimate beneficial owner (UBO) dan keterbukaan afiliasi pemegang saham. OJK mendorong pengaturan yang tegas berbasis best practices internasional guna meningkatkan kredibilitas pasar.
-
Demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) sesuai amanat undang-undang untuk memperbaiki tata kelola dan mengurangi konflik kepentingan. OJK akan terus membahas persiapan implementasinya bersama pemerintah dan BEI.
-
Penguatan penegakan peraturan dan sanksi terhadap pelanggaran di pasar modal. Fokus enforcement mencakup manipulasi transaksi saham dan penyebaran informasi menyesatkan yang merugikan investor ritel.
-
Penguatan tata kelola emiten, termasuk kewajiban pendidikan berkelanjutan bagi direksi, komisaris, dan komite audit. Selain itu, akan diberlakukan kewajiban sertifikasi bagi penyusun laporan keuangan emiten.
-
Pendalaman pasar secara terintegrasi melalui sinergi lintas otoritas, antara OJK, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan stakeholder lainnya. Langkah ini bertujuan memperkuat pasar modal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang.
-
Penguatan kolaborasi berkelanjutan dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, SRO, dan pelaku industri. Sinergi ini ditujukan untuk memastikan reformasi pasar modal berjalan konsisten dan berkesinambungan.
Reformasi ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan, kredibilitas, dan daya tarik pasar modal Indonesia agar semakin investable dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Bank Mandiri Salurkan Kredit Rp 1.895 T di 2025, Tumbuh 13,4%
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp 1.895 triliun sepanjang 2025. Realisasi tersebut tumbuh 13,4% secara tahunan (year on year/yoy), seiring dengan strategi ekspansi yang tetap dibarengi pengelolaan risiko secara pruden.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menegaskan, pertumbuhan kredit tersebut diikuti dengan kualitas aset yang tetap terjaga. "Konsistensi kami terhadap kualitas bisnis prudent, hal ini tercermin NPL bank only terjaga 0,96%," ujar Novita dalam konferensi pers, Kamis (5/2/2026).
Ia menambahkan, akselerasi bisnis Bank Mandiri turut ditopang oleh penguatan kanal digital yang terus berkembang dan menjangkau berbagai lapisan ekonomi. Pada segmen bisnis, Kopra by Mandiri telah digunakan oleh sekitar 320.000 nasabah, dengan sekitar 85% di antaranya berasal dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Sementara itu, Direktur Corporate Banking Bank Mandiri Mochamad Rizaldi menjelaskan bahwa pertumbuhan kredit korporasi ditopang oleh ekosistem BUMN atau pelat merah, dengan kontribusi rasio mencapai sekitar 40%. Ia menegaskan penerapan prinsip kehati-hatian tetap dijalankan secara konsisten di seluruh lini bisnis.
"Kredit dalam risiko atau loan at risk (LAR) terus membaik, secara tahunan turun dari 6,76% menjadi 6,05%. Sementara rasio pencadangan NPL kuat di level 223%, sebagai kesiapan Bank Mandiri menghadapi restrukturisasi," kata Rizaldi.
Dari sisi kinerja keuangan, Bank Mandiri membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 56,3 triliun sepanjang 2025. Angka tersebut tumbuh 0,93% secara tahunan dibandingkan capaian 2024.
Pendapatan bunga bersih Bank Mandiri tercatat meningkat 4,36% yoy menjadi Rp 106 triliun, sedangkan pendapatan non-bunga melonjak 14,5% yoy menjadi Rp 48,5 triliun, mencerminkan diversifikasi sumber pendapatan yang semakin solid.
Moody's Turunkan Outlook RI ke Negatif, BI Tegaskan Fundamental Tetap Kuat
Moody's Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2, namun menurunkan outlook dari stabil menjadi negatif pada 5 Februari 2026. Penyesuaian outlook tersebut didorong oleh penilaian Moody's atas menurunnya kepastian dan prediktabilitas kebijakan, khususnya dari sisi tata kelola, yang dinilai berpotensi menekan kredibilitas kebijakan dan kinerja ekonomi jika berlanjut.
Moody's menilai meningkatnya ketidakpastian kebijakan telah melemahkan kepercayaan investor, tercermin dari volatilitas pasar saham dan nilai tukar.
Meski outlook diturunkan, Moody's menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih solid. Ketahanan ekonomi ditopang oleh pertumbuhan yang stabil, kekuatan struktural seperti sumber daya alam dan demografi yang menguntungkan, serta kredibilitas kebijakan moneter dan kehati-hatian fiskal yang menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Moody's memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap di kisaran 5% dalam jangka pendek hingga menengah, dengan defisit fiskal di bawah 3% PDB dan rasio utang pemerintah yang tetap rendah dibanding negara sekelas.
Menanggapi keputusan tersebut, melansir dari publikasi Bank Indonesia, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa penyesuaian outlook tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi nasional.
Perry menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi triwulan IV-2025 mencapai 5,39%, sehingga secara keseluruhan tahun 2025 tumbuh 5,1%. Inflasi tercatat 2,92%, berada dalam sasaran, sementara stabilitas nilai tukar Rupiah terus diperkuat melalui kebijakan Bank Indonesia. Stabilitas sistem keuangan juga terjaga, ditopang likuiditas memadai, permodalan perbankan yang kuat, serta risiko kredit yang rendah.
Dari sisi eksternal, ketahanan ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat. Neraca perdagangan Desember 2025 mencatat surplus US$2,51 miliar, didukung ekspor nonmigas.
Cadangan devisa akhir Desember 2025 mencapai US$156,5 miliar, setara 6,4 bulan impor, berada di atas standar kecukupan internasional. Untuk 2026, defisit transaksi berjalan diperkirakan tetap rendah di kisaran 0,9-0,1% PDB, sementara nilai tukar Rupiah diprakirakan stabil dengan kecenderungan menguat.
Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 4,9-5,7%, dan meningkat menjadi 5,1-5,9% pada 2027, dengan inflasi tetap terkendali. BI menegaskan akan terus memperkuat bauran kebijakan, bersinergi dengan KSSK dan Pemerintah, serta memperkuat komunikasi kebijakan guna menjaga kepercayaan pasar di tengah ketidakpastian global.
Pasar Tenaga Kerja (JOLTS) di AS Melemah
Lowongan kerja di AS turun 386 ribu ke 6,542 juta per Desember 2025, terendah sejak Sep 2020, di bawah ekspektasi 7,2 juta.
Penurunan terbesar adalah di jasa profesional & bisnis (-257 ribu), ritel (-195 ribu), dan keuangan & asuransi (-120 ribu).
Pendinginan permintaan tenaga kerja menguatkan narasi pelemahan ekonomi, berpotensi mendukung pelonggaran kebijakan ke depan jika tren berlanjut.
Bank Sentral Eropa dan Inggris Tahan Suku Bunga
Bank sentral Eropa dan Inggris sama-sama menahan suku bunga, namun dengan nuansa kebijakan yang berbeda. ECB mempertahankan suku bunga acuannya (refi 2,15%, deposit 2,0%, lending 2,4%) dan menegaskan inflasi berada di jalur target 2% dalam jangka menengah.
Ekonomi zona euro dinilai masih resilien, meski risiko dari kebijakan perdagangan global dan geopolitik tetap tinggi. Presiden Lagarde menekankan pendekatan wait-and-see, dengan keputusan kebijakan tidak akan bergantung pada satu rilis data.
Sementara itu, Bank of England menahan Bank Rate di 3,75% dengan voting tipis 5-4, mencerminkan perpecahan internal. Inflasi diperkirakan turun mendekati 2% mulai April, seiring melambatnya pertumbuhan upah, inflasi jasa, dan melemahnya pasar tenaga kerja. Setelah memangkas suku bunga 150 bps sejak Agustus 2024, BoE memberi sinyal pemangkasan lanjutan masih terbuka, namun sangat bergantung pada data ke depan.
(emb/emb)