Internasional

China Longgarkan Pembatasan Covid, 'Badai' Sudah Berlalu?

News - Thea Fathanah Arbar, CNBC Indonesia
06 December 2022 19:13
Seorang wanita mengantarkan makanan ke kompleks perumahan yang dikunci karena wabah penyakit virus corona (COVID-19) berlanjut di Beijing, China, Senin (28/11/2022). Kota-kota di Cina semakin banyak yang memberlakukan lockdown lokal menyusul naiknya kasus harian positif Covid-19. Komisi Kesehatan Nasional China melaporkan pada Senin (28/11) waktu setempat bahwa sedikitnya 40.052 kasus Corona tercatat dalam sehari, secara nasional di negara tersebut. (REUTERS/Thomas Peter) Foto: Seorang wanita mengantarkan makanan ke kompleks perumahan yang dikunci karena wabah penyakit virus corona (COVID-19) berlanjut di Beijing, China, Senin (28/11/2022). Kota-kota di Cina semakin banyak yang memberlakukan lockdown lokal menyusul naiknya kasus harian positif Covid-19. Komisi Kesehatan Nasional China melaporkan pada Senin (28/11) waktu setempat bahwa sedikitnya 40.052 kasus Corona tercatat dalam sehari, secara nasional di negara tersebut. (REUTERS/Thomas Peter)

Jakarta, CNBC Indonesia - Masyarakat di Beijing, China, kini tak lagi harus menunjukkan tes Covid negatif saat memasuki supermarket, kantor, dan bandara. Ini menjadi aturan baru dari serangkaian langkah pelonggaran nasional pascaprotes besar-besaran sejak bulan lalu.

Pihak berwenang telah melonggarkan beberapa pembatasan Covid China, yang dianggap paling ketat di dunia. Ini dilakukan dengan harapan China dapat kembali normal setelah mengalami tiga tahun pandemi.

Pelonggaran lebih lanjut terjadi setelah serangkaian protes bulan lalu yang menandai pertunjukan ketidakpuasan publik terbesar di China daratan sejak Presiden Xi Jinping mengambil alih kekuasaan pada tahun 2012.

"China dapat mengumumkan 10 langkah pelonggaran nasional baru pada Rabu," kata dua sumber yang mengetahui masalah tersebut kepada Reuters, dilansir Selasa (6/12/2022).

Prospek pelonggaran aturan lebih lanjut telah memicu optimisme di kalangan investor bahwa ekonomi terbesar kedua dunia itu akan mengumpulkan kembali kekuatannya, dan membantu mendorong pertumbuhan global.

Tong Zhaohui, direktur Institut Penyakit Pernafasan Beijing, mengatakan pada Senin bahwa varian penyakit Omicron terbaru telah menyebabkan lebih sedikit kasus penyakit parah daripada wabah influenza global sepanjang 2009.

Penanganan penyakit China dapat diturunkan segera setelah Januari, menjadi Kategori B yang tidak terlalu ketat dari Kategori A penyakit menular tingkat atas saat ini.

"Masa tersulit telah berlalu," kata kantor berita Xinhua dalam sebuah komentar yang diterbitkan Senin (5/12/2022) malam, mengutip melemahnya patogenisitas virus dan upaya untuk memvaksinasi 90% populasi.

Namun, terlepas dari jaminan dari pihak berwenang, lalu lintas komuter di kota-kota besar seperti Beijing dan Chongqing tetap berada di tingkat yang lebih rendah dari sebelumnya.

Beberapa orang tetap waspada untuk tertular virus, terutama orang tua, sementara ada juga kekhawatiran tentang tekanan yang dapat ditimbulkan oleh pelonggaran pada sistem kesehatan China yang rapuh.

China telah melaporkan 5.235 kematian terkait Covid hingga Senin. Tetapi beberapa ahli telah memperingatkan bahwa jumlah korban bisa naik di atas 1 juta jika keluar terlalu terburu-buru.

 


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Covid China Menggila, Ekonomi Kian Merana


(luc/luc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading