Ekspor RI Meroket, Awas Kena 'Penyakit Belanda'!

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
16 June 2021 10:50
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja ekspor Indonesia pada 2021 sangat moncer. Dalam beberapa bulan terakhir, pertumbuhan ekspor hingga puluhan persen adalah sesuatu yang akrab dilihat.

Kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan Pada Mei 2021, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor sebesar US$ 16,6 miliar, melonjak 58,76% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau year-on-year/yoy. Ini menjadi pertumbuhan tertinggi sejak Januari 2010.


Lonjakan harga komoditas andalan ekspor Indonesia menjadi penyebabnya. Menurut catatan BPS, harga batu bara melejit 103,9% yoy, minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) meroket 174% yoy, dan tembaga terdongkrak 93,4%.

"Hampir seluruh komoditas non-migas mengalami kenaikan harga seperti batu bara, minyak kelapa sawit, timah,tembaga, nikel, emas. Meningkatnya permintaan, dibarengi dengan kenaikan harga membuat performa ekspor kita mengalami peningkatan yang menggembirakan," kata Suhariyanto, Kepala BPS, dalam jumpa pers secara virtual.

Ya, harga komoditas memang sedang menggila. Sejak awal tahun, harga sejumlah komoditas utama ekspor Indonesia naik sangat tinggi.

Misalnya, harga batu bara di pasar ICE Newcastle sejak awal tahun meroket 47,11%. Kini harga sudah berada di atas US$ 100/ton, sesuatu yang belum pernah terjadi sejak November 2018.

Halaman Selanjutnya --> Ekspor Indonesia Masih Jualan 'Tanah-Air'

Ekspor Indonesia Masih Jualan 'Tanah-Air'
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading