Internasional

Anti-Asia Marak di Amerika, Kecemburuan Ekonomi Penyebabnya?

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
24 March 2021 06:32
A member of the community participates in a rally to denounce hate against the Asian American and Pacific Islander communities in the Koreatown neighborhood in Los Angeles Friday, March 19, 2021. Stop AAPI Hate, a reporting organization that has found 3,800 hate incidents directed toward Asian people over the past year, nearly 1,700 of them in California. Asian-American parents and business owners are fearful of their children or places of work being targeted, and many community members are afraid to go out in public, said Cynthia Choi, co-executive director of Chinese for Affirmative Action, one of the groups that launched Stop AAPI Hate. (AP Photo/Damian Dovarganes)

Jakarta, CNBC Indonesia - Diskriminasi rasial di Amerika Serikat (AS) kembali merebak. Kali ini adalah etnis Asia-Amerika (Asian-American) yang menjadi sasaran.

Stop AAPI Hate, organisasi yang melacak insiden kebencian dan diskriminasi terhadap orang Asia-Amerika dan Kepulauan Pasifik, mencatat setidaknya ada 500 insiden dalam dua bulan pertama tahun ini. Jika dilihat setahun terakhir, tentu angkanya lebih besar, mencapai 3.795 keluhan.

Mayoritas laporan mencatat 68% merupakan pelecehan verbal. Sementara 11% melibatkan serangan fisik.


Peningkatan kasus seperti ini tidak lepas dari pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19). Virus yang menjadi pandemi global ini awalnya menyebar di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China.

AS adalah negara yang paling parah dihantam pandemi. Berdasarkan catatan Wordometer, jumlah pasien positif corona di Negeri Paman Sam per 23 Maret 2021 adalah 30.580.072 orang. AS menjadi negara dengan pasien positif corona terbanyak di dunia.

Total pasien positif corona di seluruh negara adalah 124.423.295 orang. Artinya, hampir satu dari empat orang yang terjangkit virus corona di seluruh dunia ada di Negeri Paman Sam.

Tidak hanya jumlah pasien, AS juga menjadi negara dengan korban jiwa terbanyak di dunia. Sudah 556.003 orang di AS meninggal dunia akibat serangan virus corona.

Selain anggota keluarga dan sahabat yang dicintai, pandemi virus corona juga merenggut pekerjaan jutaan warga Negeri Adidaya. Tepat sebelum pandemi, tingkat pengangguran AS berada di 3,5%, terendah sejak 1969.

Pandemi, yang diatasi dengan pembatasan sosial (social distancing) dan karantina wilayah (lockdown), membuat ekonomi 'mati suri'. Jutaan lapangan pekerjaan hilang dan puncaknya tingkat pengangguran berada di 14,8% pada April 2020, terendah sejak data pengangguran mulai dicatat pada 1948.

Lambat laun tingkat pengangguran terus turun, terakhir berada di 6,2% pada Februari 2021. Namun belum bisa mencapai level pra-pandemi, artinya masih banyak orang yang belum mendapat pekerjaan lagi.

Halaman Selanjutnya --> Ada Motif Kecemburuan Ekonomi?

Ada Motif Kecemburuan Ekonomi?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading