Rizal Ramli Bilang RI Pengemis Utang, Benarkah Demikian?

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
20 November 2020 13:34
Ilustrasi Rupiah dan dolar (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto) Ilustrasi Rupiah dan Dolar AS (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Utang memang isu yang sangat sensitif. Utang mencerminkan ketidakmandirian, ketergantungan dalam bertahan hidup.

Namun utang juga bisa dipandang sebagai hasrat untuk maju. Utang bisa menjadi alat panjat sosial alias pansos, menuju kehidupan yang lebih baik agar tidak terjebak dalam kondisi yang begitu-begitu saja.


Pandangan itu bisa disematkan dalam pengelolaan anggaran negara. Kebijakan fiskal yang ekspansif diharapkan mampu mendorong ekonomi terus tumbuh dan kesejahteraan rakyat membaik.

Ditambah lagi saat ini dunia sedang menghadapi tantangan maha berat bernama pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19). Pandemi ini terpaksa membuat masyarakat berjarak, tidak bisa melakukan aktivitas dengan normal seperti dulu atas nama penegakan protokol kesehatan. Sebisa mungkin bekerja, belajar, dan beribadah #dirumahaja.

Akibatnya, dua sisi ekonomi terpukul sekaligus, pasokan dan permintaan. Ekonomi dunia pun masuk jurang resesi, pertama sejak krisis keuangan global 2008-2009. Bahkan skalanya lebih dahsyat, disebut-sebut sebagai krisis terparah sejak Depresi Besar pada 1930-an.

Pembatasan sosial (social distancing) membuat ekonomi mati suri. Dunia usaha dan rumah tangga lesu. Pendapatan anjlok, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di mana-mana.

Ini membuat setoran pajak melorot. Di Indonesia, penerimaan pajak dalam negeri pada Januari-September 2020 tercatat Rp 892,44 triliun. Anjlok 14,13% dibandingkan periode yang sama tahu sebelumnya.

HALAMAN SELANJUTNYA >> Ada Pandemi Corona, Negara Tak Boleh Abai!

Ada Pandemi Corona, Negara Tak Boleh Abai!
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading