Naik Terus, Utang Luar Negeri RI Sentuh Rp 5.775 T!

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
16 November 2020 10:18
A money changer counts U.S. dollar banknotes at a currency exchange office in Diyarbakir, Turkey May 23, 2018. REUTERS/Sertac Kayar

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) melaporkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia per akhir kuartal III-2020 mencapai US$ 408,5 miliar. Setara dengan Rp 5.775,78 triliun dengan kurs saat ini (asumsi US$ 1=Rp 14.139 seperti kurs tengah BI tertanggal 16 November 2020). 

"Posisi ULN Indonesia pada akhir triwulan III 2020 tercatat sebesar US$ 408,5 miliar, terdiri dari ULN sektor publik (Pemerintah dan Bank Sentral) sebesar US$ 200,2 miliar dan ULN sektor swasta (termasuk BUMN) sebesar US$ 208,4 miliar. Pertumbuhan ULN Indonesia pada akhir triwulan III 2020 tercatat sebesar 3,8% (year-on-year/YoY), menurun dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 5,1%, terutama dipengaruhi oleh transaksi pembayaran ULN swasta," sebut keterangan tertulis BI yang dirilis Senin (16/11/2020).

ULN Pemerintah saja, lanjut laporan BI, adalah US$ 197,4 miliar atau naik 1,6%. Lebih lambat dibandingkan pertumbuhan pada kuartal II-2020 yaitu 2,1%.


"Perlambatan pertumbuhan ini sejalan dengan penyesuaian portofolio di pasar SBN Indonesia oleh investor asing akibat masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. Namun demikian, perlambatan ULN tersebut tertahan oleh penerbitan Samurai Bond di pasar keuangan Jepang dan penarikan sebagian komitmen pinjaman dari lembaga multilateral pada triwulan III 2020 yang merupakan bagian dari strategi Pemerintah dalam menjaga portofolio pembiayaan untuk menangani pandemi COVID-19 dan pelaksanaan Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)," sebut keterangan BI.

BI memandang ULN Pemerintah tetap dikelola secara hati-hati, kredibel, dan akuntabel untuk mendukung belanja prioritas yang diantaranya mencakup sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (23,7% dari total ULN Pemerintah), sektor konstruksi (16,6%), sektor jasa pendidikan (16,5%), sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (11,8%), serta sektor jasa keuangan dan asuransi (11,5%).

Sementara ULN swasta saja tumbuh 6%, melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal II-2020 sebesar 8,4%. Perkembangan ini didorong oleh melambatnya pertumbuhan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (PBLK) serta berlanjutnya kontraksi ULN lembaga keuangan (LK). Pada akhir kuartal III-2020, pertumbuhan ULN PBLK tercatat 8,1%, melambat dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 11,6%.

ULN LK mencatat kontraksi yang berkurang menjadi sebesar 1% dari kontraksi pada triwulan sebelumnya yang tercatat 1,8%. Berdasarkan sektornya, ULN terbesar dengan pangsa mencapai 77,4% dari total ULN swasta bersumber dari sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin (LGA), sektor pertambangan dan penggalian, serta sektor industri pengolahan.

"Rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir triwulan III 2020 sebesar 38,1%, sedikit meningkat dibandingkan dengan rasio pada bulan sebelumnya sebesar 37,4%. Sementara itu, struktur ULN Indonesia yang tetap sehat tercermin dari besarnya pangsa ULN berjangka panjang yang mencapai 89,1% dari total ULN. Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan ULN, didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pemulihan ekonomi nasional, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," papar laporan BI.


(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading