Begini Seramnya Deflasi yang Bikin RI Kejeblos Resesi!

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
01 October 2020 15:43
Suasana Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Ibu Kota berdampak pada aktivitas di pasar Jaya salah satunya, di kawasan Pasar Cijantung, Jakarta Timur. 16/6/20, CNBC Indonesia/Tri Susilo

Pantauan CNBC Indonesia dilapangan pada Selasa (16/6/20) mencoba menelusuri seluruh isi pasar, tampak sepi  pembeli.  Salah satu pasar di kawasan Jakarta Timur itu sangat berbeda dibanding hari-hari biasanya yang padat dan ramai. Kali ini tampak sepi. Bahkan kendaraan yang terparkir sangat minim.  

Salah satu pedagang pakaian anak mengatakan, kondisi pasar mulai sepi saat terjadi virus corona. “Ini sangat berimbas pada pendapatan kami. Repot kalau begini terus,”ujarnya.

Menurutnya,  setelah lewat pukul 11.00 WIB, siang hari, sudah sangat kurang orang yang berbelanja di pasar. Dagangan pun tentu aja banyak yang tak laku. Karena itu ia berharap wabah COVID-19  ini bisa cepat selesai.

Yanto, pedagang daging ayam juga merasakan demikian. “ Jam 10 masih numpuk dagangan ini. kami sangat khawatir pak kalau begini terus.,”ujarnya sambal geleng geleng kepala.

Pedagang sayur pun demikian. Munawar seorang  tukang sayur mengatakan, untuk mendapatkan sayur juga sulit. “Kita dapat juga sulit. Jualnya juga sudah sepi pembeli. Aturan jaga jarak dan tidak berpergian ke pasar sangat berdampak. “Jadi kalau enggak laku ya udah jadi risiko,” ungkapnya.  

Penjagaan juga diperketat oleh anggota TNI dan securty pasar untuk, setiap pengunjung yang ingin masuk ke pasar akan dicek suhu dan cuci tangan. 

Untuk kepasar basah (pasar ikan) dipastikan pengunjung memakai masker, peraturan tersebut sudah pasang sebelum masuk pasar basar.

Sebelumnya Seorang pedagang di Pasar Obor Cijantung dinyatakan positif Covid-19 usai jalani rapid test dan swab test Covid-19 pada Jumat (29/5/2020) lalu.

Informasi itu berdasarkan data dari Perumda Pasar Jaya pada Kamis (11/6/2020).

Adapun rapid test dan swab test di Pasar Obor Cijantung pada 29 Mei 2020 lalu diikuti 75 peserta yang terdiri dari pengunjung dan pedagang pasar.

Hasilnya, empat orang reaktif Covid-19 berdasarkan hasil rapid test. Kemudian, dari empat orang itu, seorang pedagang dinyatakan positif Covid-19.

 (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bagi negara berkembang, inflasi adalah keniscayaan. Sebab ekonomi masih punya ruang untuk tumbuh, sementara kemampuan dalam negeri belum cukup untuk memasok seluruh kebutuhan barang dan jasa yang terus meningkat. Permintaan yang tidak sebanding dengan pasokan ini menyebabkan harga bergerak ke atas alias inflasi.

Oleh karena itu, inflasi rendah apalagi deflasi sejatinya adalah berkah buat negara berkembang, termasuk Indonesia. Pasalnya, kondisi ini mencerminkan ekonomi yang tumbuh tetapi bisa bisa ditopang oleh pasokan domestik. Sungguh sebuah kondisi yang indah.

Namun itu dalam kondisi normal. Saat situasi tidak normal, hal yang dianggap bagus justru jadi kelemahan.


Inflasi rendah atau bahkan sampai deflasi adalah contohnya. Ini yang tengah dialami oleh Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, terjadi inflasi -0,05% secara bulanan (month-to-month/MtM) pada September 2020. Deflasi sudah terjadi selama tiga bulan beruntun. Artinya, kuartal III-2020 sepenuhnya diwarnai oleh deflasi. Kali terakhir Indonesia mengalami deflasi panjang adalah pada Maret-September 1999.

Nah, yang jadi masalah adalah deflasi kali ini bukan terjadi karena pasokan barang dan jasa yang memadai tetapi lebih akibat lemahnya permintaan. Daya beli lesu, konsumsi ambles. Situasi yang memaksa dunia usaha untuk menurunkan harga, mengorbankan laba asal barang bisa terjual. Situasi semacam ini tentu bukan cerminan ekonomi yang sehat.

Lebih memprihatinkan lagi, 'penyakit' ini tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi hampir seluruh negara. Disinflasi adalah fenomena global

Mush itu Bernama Virus Corona
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading