Inflasi, Sang 'Copet' yang Kini Dinanti

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
10 March 2021 07:40
Pedagang menjajakan dagangannya di pasar Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (13/3). Pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp 1,1 triliun untuk merevitalisasi setidaknya 1.037 pasar rakyat (tradisional) di tahun ini. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebagai negara berkembang, khittah Indonesia adalah melawan inflasi. Sebab, inflasi mencerminkan inefisiensi karena rakyat harus membayar lebih mahal untuk barang dan jasa yang dibeli hari ini ketimbang kemarin.

Di negara berkembang, industri dalam negeri biasanya belum mapan sementara permintaan terus meningkat. Hasilnya adalah nilai uang tidak bisa mengejar harga barang dan jasa, sehingga menimbulkan inflasi.


Oleh karena itu, inflasi mirip seperti copet tetapi tidak terlihat. Tanpa disadari, dompet 'bolong' karena uang yang ada di dalamnya menjadi kurang berharga. Inflasi bisa memiskinkan, layaknya copet yang merampas uang.

Pandangan ini membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) layak mendapatkan apresiasi. Pada masa pemerintahan Jokowi, inflasi berhasil digerus setiap tahunnya.

Sejak 2015 hingga 2020, rata-rata inflasi Indonesia adalah 3,62% per tahun. Pada periode kedua pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 2009-2014, rerata inflasi adalah 5,28% setiap tahunnya.

Halaman Selanjutnya --> Pandemi Corona Hancurkan Ekonomi di Dua Sisi

Pandemi Corona Hancurkan Ekonomi di Dua Sisi
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading