Inflasi, Sang 'Copet' yang Kini Dinanti

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
10 March 2021 07:40
Ilustrasi pasar daging dipasar Senen yang sepi. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Namun itu dalam kondisi normal. Sekarang, mungkin hampir seluruh negara (termasuk Indonesia) malah mendambakan inflasi. Sang copet justru sekarang sedang dirindukan.

Lho, kok copet disambut? Bukankah seharusnya copet diperangi dan jangan sampai beraksi lagi?

Masalahnya, sekarang kondisi sedang tidak normal. Dunia (lagi-lagi termasuk Indonesia) sedang mengalami masa kegelapan akibat wabah virus corona alias Coronavirus Disease-2019/Covid-19. Pandemi yang membuat ratusan juta orang jatuh sakit dan tidak sedikit yang kehilangan nyawa.


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan, jumlah pasien positif corona di seluruh negara per 9 Maret 2021 adalah 116.874.912 orang. Sementara mereka yang tutup usia berjumlah 2.597.381 orang. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun...

Pandemi virus corona juga masih menjerat Indonesia. Kementerian Kesehatan mencatat, jumlah pasien positif corona per 9 Maret 2021 mencapai 1.392.945 orang. Dari jumlah tersebut, 37.757 orang meninggal dunia.

Virus corona, seperti influenza, mudah menular ketika dua atau banyak orang melakukan kontak dan interaksi yang erat. Jadi untuk mempersempit ruang gerak penyebaran virus corona, diberlakukan apa yang disebut pembatasan sosial (social distancing).

Saat pandemi, manusia dicabut dari akarnya sebagai makhluk sosial. Kontak dan interaksi antar-manusia sangat dibatasi, boleh saja tetapi harus dalam jarak aman (1-5-2 meter).

Ini membuat berbagai aktivitas yang berpotensi menimbulkan kontak erat (apalagi dengan yang bukan satu keluarga) dibatasi. Di Indonesia, kebijakan ini sekarang dikenal dengan nama Pemberlakuan Pembatasan Aktivitas Masyarakat (PPKM).

Pekerja yang datang ke kantor dibatasi maksimal 50%, sisanya bekerja di rumah (Work from Home/WfH). Restoran boleh menerima pengunjung yang makan-minum di tempat, tetapi dibatasi maksimal 50% dari kapasitas. Pusat perbelanjaan alias mal juga boleh beroperasi, tetapi harus tutup pukul 21:00.

Ini membuat 'roda' ekonomi berjalan lambat, tidak seperti biasanya. Ekonomi bergerak tidak sesuai dengan kapasitasnya, ibarat mengendarai mobil Formula 1 tetapi kecepatan maksimal hanya boleh 60 km/jam.

Social distancing memukul ekonomi di dua sisi sekaligus. Dari sisi pasokan, produksi terhambat karena pekerja yang hadir tidak bisa penuh untuk menghindari terjadinya kontak erat. Sementara dari sisi permintaan, terjadi penurunan karena masih banyak warga yang #dirumahaja (baik sukarela maupun mengikuti anjuran pemerintah).

Mengutip data Covid-19 Community Mobility Report keluaran Google, aktivitas masyarakat Indonesia di rumah per 5 Maret 2021 masih 6% di atas kondisi normal. Sementara kunjungan ke tempat kerja 26% di bawah normal, tempat transit (stasiun, terminal, halte, dan sebagainya) 35% di bawah hari biasa, serta pusat perbelanjaan dan lokasi wisata 17% di bawah biasanya.

Belum lagi bicara soal pengangguran dan kemiskinan. Dunia usaha dihadapkan kepada kondisi output barang dan jasa tidak bisa optimal, plus permintaan juga turun. Harus ada efisiensi, baik itu dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), karyawan dirumahkan (furlough), atau pengurangan jam kerja dengan upah yang tentu disunat.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, terdapat 29,12 juta penduduk usia kerja yang mengalami dampak pandemi virus corona per Agustus 2020. Perinciannya adalah:

  • 2,56 juta penduduk menjadi pengangguran.
  • 0,76 juta penduduk menjadi bukan angkatan kerja.
  • 1,77 juta penduduk sementara tidak bekerja.
  • 24,03 juta penduduk bekerja dengan pengurangan jam kerja (shorter hours).

Lapangan kerja yang semakin sempit membuat angka kemiskinan melonjak. Per September 2020, jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 27,55 juta orang, tertinggi sejak Maret 2017.

Halaman Selanjutnya --> Ancaman Deflasi Nyata Adanya

Ancaman Deflasi Nyata Adanya
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading