Apakah Ekonomi Kuartal III Sengeri Bayangan Jokowi?

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
09 July 2020 13:28
Presiden RI Jokowi (Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencemaskan prospek ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020. Dengan kondisi kuartal II-2020 yang hampir pasti terjadi kontraksi (pertumbuhan negatif), sekali lagi kontraksi pada kuartal berikutnya maka Indonesia resmi masuk jurang resesi.

"Ini kita kejar-kejaran dengan yang namanya waktu. Jadi sekali lagi, ganti channel dari channel normal ke channel krisis. Kalau ndak, ngeri saya. Terus terang saya ngeri," tutur Jokowi dalam sidang kabinet, Selama pekan ini.


Benarkah kuartal III-2020 bakal seseram itu?

Sebenarnya kalau melihat data ekonomi periode Juni 2020, ada harapan. Rasanya Mei adalah titik nadir, mata badai. Selepas Mei, tampak ada sinyal ekonomi Tanah Air mulai bangkit.

Pertama adalah data penjualan ritel. Pada Mei 2020, penjualan ritel yang dicerminkan di Indeks Penjualan Riil (IPR) berada di 198,3. Ambles 20,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY). Ini menjadi pencapaian terendah sejak 2008.

Kemudian pada Juni 2020, IPR diperkirakan sebesar 199,9. Masih turun 14,4% secara YoY.

Kalau melihat angka-angka itu, maka ekonomi Indonesia sepertinya suram. Pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) sudah bertransformasi menjadi tragedi sosial-ekonomi, bukan lagi kesehatan dan kemanusiaan.

Namun kalau disawang-sawang lagi, ternyata ada kabar baiknya. Secara bulanan (month-to-month/MtM), penjualan ritel terpantau mengalami peningkatan.

Pada Mei 2020, IPR berada di 190,7, terendah sejak 2016. Namun pada Mei dan Juni angkanya meningkat. Ini menandakan bahwa terjadi kenaikan aktivitas penjualan ritel setelah mencapai 'kerak neraka'.

Api Inflasi Mulai Memercik
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading