Bukan Bermaafan Saat Lebaran, AS-China Justru Making Tegang!

News - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
24 May 2020 09:55
U.S. President Donald Trump poses for a photo with China's President Xi Jinping before their bilateral meeting during the G20 leaders summit in Osaka, Japan, June 29, 2019. REUTERS/Kevin Lamarque Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping (REUTERS/Kevin Lamarque)
Jakarta, CNBC Indonesia - Idul Fitri biasanya adalah momen saling bermaafan atas segala khilaf. Namun buat Amerika Serikat (AS) dan China, yang ada malah tensi ketegangan yang semakin meninggi.

Sejak Donald Trump terpilih sebagai presiden AS pada 2016, hubungan Washington-Beijing penuh dinamika. Ini tidak lepas dari kebijakan Trump yang mengutamakan kepentingan dalam negeri, America First.

Trump menilai China telah berlaku tidak adil sehingga AS selalu tekor saat berdagang dengan mereka. Mencoba menyeimbangkan kedudukan, Trump menempuh kebijakan ekstrem yaitu memberlakukan bea masuk terhadap ribuan barang impor asal China.


Diperlakukan seperti itu, China pasti tidak diterima. China balas membebankan bea masuk kepada produk asal AS. Saling balas bea masuk itu yang disebut dengan perang dagang.

Seiring waktu, dinginnya hubungan AS-China berhasil dicairkan. Akhirnya pada pertengahan Januari 2020, kedua negara menandatangani perjanjian damai dagang fase pertama.

Namun tidak lama kemudian, muncul sebuah hal besar yang kembali memanaskan hubungan AS-China yaitu pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19). Bermula dari Kota Wuhan di Provinsi Hubei (China), virus tersebut hanya butuh waktu kurang dari lima bulan untuk menyebar ke lebih dari 200 negara dan teritori.


Kini bahkan AS menjadi 'korban' terparah dari virus corona. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat jumlah pasien virus corona di AS per 23 Mei adalah 1.547.973 orang. Jumlah ini setara dengan 30,33% dari total pasien di seluruh dunia. Hampir satu dari tiga pasien corona adalah warga negara AS.

AS, seperti juga negara-negara lain, terpaksa harus membatasi kegiatan masyarakat demi mencegah penularan virus lebih lanjut. Pembatasan sosial (social distancing) bahkan karantina wilayah (lockdown) diberlakukan di berbagai negara bagian.

Kebijakan tersebut bertujuan untuk menyelamatkan jutaan warga dari terjangan virus corona. Namun tagihan yang harus dibayar ternyata sangat mahal. Aktivitas publik yang sangat terbatas membuat ekonomi AS jalan di tempat, bahkan mundur.



Ekonomi AS Runtuh
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading