Astaga! Tak Hanya Software, Manufaktur Boeing Juga Bermasalah

News - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
21 April 2019 13:47
Astaga! Tak Hanya Software, Manufaktur Boeing Juga Bermasalah
Jakarta, CNBC Indonesia - Kabar buruk tentang raksasa produsen pesawat terbang asal AS, Boeing, masih terus berdatangan. Setelah pesawat seri 737 Max 8 dilarang terbang di sejumlah negara, kini Boeing menghadapi permasalahan terkait proses manufaktur.

Pekerja fasilitas manufaktur Boeing di North Charleston, South Carolina disebut-sebut mendapat tekanan untuk mempercepat produksi pesawat terbang guna mengejar target.

Alhasil beberapa keluhan mengenai risiko keselamatan kerja dan cacat produksi terabaikan. Laporan tersebut berdasarkan hasil investigasi surat kabar The New York Times, mengutip CNBC International, Sabtu (20/4/2019).



The New York Times juga mengatakan bahwa kultur perusahaan seringkali lebih mengedepankan kecepatan produksi ketimbang kualitas.

Laporan tersebut dibuat setelah mewawancarai lebih dari 12 karyawan dan mantan karyawan Boeing yang terlibat dalam pembuatan pesawat seri 787 Dreamliner. Selain itu The New York Times juga meninjau ratusan halaman email internal, dokumen perusahaan, dan catatan federal.

Parahnya, para pekerja tersebut mendapat tekanan untuk tidak melaporkan keluhan mereka kepada pihak yang berwenang. Bahkan hasil investigasi The New York Times menemukan pekerja yang salah memasang bagian pesawat pada fasilitas manufaktur.

Beberapa pesawat juga dilaporkan melakukan uji terbang dengan adanya puing-puing (seperti perkakas dan serutan logam) di dalam mesin atau ekor, yang mana menciptakan potensi bahaya keselamatan.

Karena adanya masalah tersebut, Qatar Airways disebut telah memilih untuk membeli Dreamliner dari pabrik yang berbeda. Tidak mau lagi dari North Charleston, negara bagian South Carolina, AS.

Laporan ini semakin menimbulkan pertanyaan tentang produksi Boeing 787 Dreamliner. Padahal saat ini perusahaan sedang menjalani proses penyelidikan kriminal federal mengenai proses sertifikasi pesawat seri 737 Max.

Seperti yang diketahui, dua kecelakaan pesawat Boeing 737-Max 8 yang terjadi dalam kurun waktu 5 bulan telah menewaskan lebih dari 300 orang yakni dialami oleh Lion Air asal Indonesia dan Ethiopian Airlines.

Menanggapi laporan tersebut, General Manager Program Boeing 787, Brad Zaback, mengirimkan sebuah catatan kepada CNBC International. Catatan yang juga dibagikan kepada seluruh karyawan Boeing tersebut menyebutkan bahwa cerita yang dibuat oleh New York Times tidaklah benar.

"Cerita yang dimuat di New York Times hari ini melukiskan gambaran yang miring dan tidak akurat tentang program Boeing, dan juga tenang tim kami di Boeing South Carolina. Artikel ini menuliskan informasi yang terdistorsi, mengulangi kisah-kisah lama dan desas-desus yang sudah lama hilang," tulis Zaback dalam sebuah catatan.


Simak video soal saran Trump untuk rebranding Boeing 737
[Gambas:Video CNBC]

(taa/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading