Krisis Ekonomi, Rakyat Desak Presiden Iran Mundur

News - Muhammad Iqbal, CNBC Indonesia
25 February 2019 11:08
Krisis Ekonomi, Rakyat Desak Presiden Iran Mundur
Teheran, CNBC Indonesia - Revolusi Islam Iran menginjak usia ke-40 tahun. Namun, situasi yang sedang melanda Presiden Iran Hassan Rouhani sangat tidak mengenakkan.

"Anda yang menyebabkan inflasi; kami harap Anda tidak akan bertahan sampai musim semi," ujar seorang ulama Syiah dilansir CNBC International, Senin (25/2/2019).

Sudahlah dikritik karena perjanjian nuklir yang macet ditambah ketegangan baru dengan Amerika Serikat (AS), Rouhani menghadapi kemarahan dari ulama, pasukan garis keras, dan masyarakat yang tak puas. Posisi Rouhani terancam.




Sudah jamak bahwa popularitas Presiden Iran terkikis pada periode empat tahun kedua masa jabatan. Namun, analis menilai posisi Rouhani teramat rentan karena krisis ekonomi menerjang mata uang utama negara tersebut. Hal itu melukai rakyat Iran dan membuat kritikus menyerukan pemecatan Rouhani secara terbuka.

Walau langkah itu hanya terjadi sekali dalam sejarah empat dekade Republik Islam Iran, ketidakpuasan rakyat yang terdengar di jalan-jalan di seluruh Iran sekarang dapat memungkinkan pemecatan Rouhani.

"Saya tidak peduli dengan siapa yang ada di Istana Kepresidenan: seorang ulama, seorang jenderal atau siapapun," ujar Qassim Abhari, penjual topi dan kaus kaki di jalan-jalan Teheran. "Kami membutuhkan seseorang yang menciptakan lapangan kerja dan mampu menekan harga," katanya.

Foto: Twitter


Rasanya baru kemarin Rouhani panen pujian selepas memenangi pemilihan presiden 2013 lalu. Dua tahun kemudian ia sukses mengamankan kesepakatan nuklir Iran yang berimbas pada pencabutan sanksi ekonomi.

Namun, manfaat dari kesepakatan itu tidak pernah mencakup masyarakat Iran secara luas. Bahkan sebelum Presiden AS Donald Trump menarik AS dari perjanjian nuklir Mei lalu, ketidakpastian memicu protes secara nasional. Sekarang nilai tukar real turun ke level 133.000/US$. Di media sosial disebutkan bahwa harga makanan pokok, seperti beras, meroket hingga 238 %.

Kelompok garis keras pun telah menghentikan Ketua DPR Ali Larijani, sekutu Rouhani. Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif tampak frustrasi selama konferensi keamanan baru-baru ini di Muenchen, Jerman.

Hassan Abbasi, pensiunan jenderal, dalam pidato di Karaj meyakini masyarakat akan mencerca Rouhani, Larijani, dan Zarif atas kesepakatan nuklir setelah mereka diberhentikan.

"Bapak Hassan Rouhani, Bapak Zarif, dan Bapak Larijani, pergilah ke neraka!," ujar Abbasi.

Foto: Iran (REUTERS/Morteza Nikoubazl/)


Sejatinya ketegangan antara kelompok garis keras dan kekuatan yang lebih moderat di Iran bukanlah hal baru. Presiden reformis Mohammad Khatami menghadapi tekanan serupa pada masa jabatannya yang kedua. Setelah itu, presiden populis garis keras Mahmoud Ahmadinejad pun tampil.

Tetapi, Khatami tidak menghadapi tekanan ekonomi serupa. Pun tak ada sosok macam Presiden AS seperti Trump yang telah menekan Teheran.

"Anda, Tuan Presiden, hanya memiliki 15 hingga 20% dari kekuasaan," tulis Surat Kabar Pro-Rouhani Jomhouri Eslami dalam editorial Januari lalu. "Anda tidak dapat menjalankan negara dengan jumlah kekuatan sebesar itu dan bertanggung jawab atas semua masalah."

Rouhani sendiri tampak mengakui besarnya tekanan yang dihadapi selama kunjungan ke kota pelabuhan Iran, Bandar Abbas, Senin (25/2/2019).

"Pemilihan presiden terjadi setiap empat tahun. Ketika orang memilih sudut pandang tertentu, semua harus memperjuangkannya," ujar Rouhani.


Simak video pelonggaran sanksi Iran yang berdampak kepada harga minyak di bawah ini.

[Gambas:Video CNBC]


(miq/prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading