Begini Strategi Garuda di Sriwijaya

News - tahir saleh, CNBC Indonesia
21 January 2019 09:57
Manajemen PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menegaskan akan menekan struktur biaya di Sriwijaya Air dengan target penghematan sebesar Rp 750 miliar.
Jakarta, CNBC Indonesia - Manajemen PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menegaskan akan menekan struktur biaya di Sriwijaya Air dengan target penghematan sebesar Rp 750 miliar dalam kerja sama operasi.

Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra mengatakan kerja sama operasi atau KSO lebih banyak dilakukan dengan fokus pada pemangkasan struktur biaya.

"Fokus ke struktur cost yang lebih murah, centralize organization, cukup menekan biaya di Sriwijaya. Kami targetkan ada saving cost dari Sriwijaya bisa Rp 750 miliar," kata pria yang akrab disapa Ari Askhara, dalam talkshow CNBC TV Indonesia, Selasa (15/1/2019).

Garuda melalui anak usahanya, PT Citilink Indonesia, mengambilalih pengelolaan operasional Sriwijaya Air Group yang terdiri dari maskapai Sriwijaya Air dan NAM Air. KSO direalisasikan pada 9 November 2018.

Lewat KSO ini, seluruh operasional Sriwijaya Group termasuk keuangan berada di bawah pengelolaan Garuda. Ari mengatakan penghematan itu dilakukan melalui layanan anak usaha Garuda seperti bisnis catering dan fasilitas perawatan pesawat.

Garuda memiliki anak usaha catering, yakni PT Aero Wisata and Subsidiaries dan perawatan pesawat lewat PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI).
 Adapun kerja sama dengan Citilink lebih fokus pada pengelolaan slot penerbangan.

"Kami bisa koordinasi bila ada flight atau slot bertumbuh dengan Sriwjaya bisa diatur sehingga suplai bisa bekerja. Kami bisa manfaatkan pesawat itu penuh," ujar Ari.

Namun, dia menegaskan belum ada dampak signifikan terhadap kinerja Garuda. Opsi pembelian Sriwijaya juga tetap dibuka oleh pemegang saham maskapai tersebut.

"Memang opsi membeli saham tetap dibuka oleh pemegang saham Sriwijya, cuma saat ini Sriwijaya dan Citilink untuk fokus menekan cost."

Dari sisi kinerja, posisi Sriwijaya cukup besar terhadap pendapatan GMF AeroAsia. Laporan keuangan GMF mencatat,
dari total pendapatan GMF per September 2018 sebesar US$ 334,69 juta, Sriwijaya menyumbang US$ 48,23 juta atau 14% dari total pendapatan GMF. Bahkan kontribusi Sriwijaya ke pendapatan GMF lebih besar ketimbang Citilink Indonesia sebesar US$ 38,36 juta (11,46%).

Sriwijaya juga
masih memiliki utang kepada GMF sebesar US$ 22,31 juta atau sekitar Rp 312,34 miliar (asumsi Rp 14.000/dolar AS) pada periode tersebut, naik dari Desember 2017 sebesar US$ 19,49 juta.

Sriwijaya Air adalah maskapai nasional yang didirikan pada 10 November 2003 oleh pengusaha lokal Chandra Lie, Hendry Lie, Johannes Bunjamin, dan Andy Halim.

Sriwijaya Air memulai usaha dengan modal satu pesawat Boeing 737-200.
Perseroan menerbangkan lebih dari 950.000 penumpang setiap bulan serta memiliki 48 pesawat Boeing dengan melayani total 53 rute termasuk rute regional Medan-Penang PP dan rute internasional lain.


(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading