Pertamina Beli Dolar Rp 1,5 T/Hari, Ini Cara RI Tekan Defisit

News - Gustidha Budiartie, CNBC Indonesia
26 October 2018 16:34
Setiap hari Pertamina beli dolar Rp 1,5 triliun untuk impor BBM yang membuat defisit migas membengkak.
Jakarta, CNBC Indonesia- Hingga September 2018, sektor migas masih tercatat sebagai penyumbang defisit neraca perdagangan RI terbesar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan total defisit sektor migas mencapai US$ 9,37 miliat atau setara Rp 142 triliun sejak Januari lalu. Jumlah ini naik 59% dibanding capaian di periode serupa tahun lalu, yang hanya mencapai US$ 5,87 miliar.

[Gambas:Video CNBC]


"Secara kumulatif, migas defisit US$ 9,37 miliar dan non migas surplus US$ 5,5 miliar," ujar Deputi Statistik Distribusi dan Jasa Yunia Rusanti, saat pengumuman neraca dagang di BPS, Senin (15/10/2018).

Beli Dolar Rp 1,5 T/Hari, Ini 3 Strategi RI Tekan Defisit Foto: Infografis/Defisit Migas/Edward Ricardo


Tingginya defisit ini tak lepas dari impor minyak dan BBM yang menggunung setiap harinya. Berdasar data PT Pertamina (Persero) yang dipaparkan dalam rapat bersama komisi VII DPR RI September lalu, direksi Pertamina memaparkan setiap hari perseroan impor BBM sebanyak 393 ribu barel per hari. Naik dibanding tahun lalu yang rata-rata hanya 370 ribu barel per hari. 

Selain BBM, terdapat juga impor minyak mentah sebanyak 351 ribu barel per hari, turun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 361 ribu barel.

Untuk memenuhi kebutuhan impor yang mencapai kisaran 700 ribu barel per hari, mantan Petinggi Pertamina mengungkap kebutuhan dolarnya bisa mencapai US$ 100 juta ke atas, tergantung kondisi harga minyak.

"Bisa dibilang memang kebutuhan dolar Pertamina terbesar, makanya kemarin kan impornya ingin ditekan salah satu upayanya dengan kebijakan B20," ujar pengamat ekonomi Universitas Indonesia Telisa Aulia kepada CNBC Indonesia ketika dihubungi Jumat (26/10/2018).

Kondisi defisit ini bukannya tak disadari oleh pemerintah, oleh sebab itu Presiden Joko Widodo terus-terusan menekankan untuk melahirkan kebijakan untuk selamatkan devisa negara akibat defisit yang terus membengkak.

Berikut adalah upayanya:

1. Jurus B20

Berdasar data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), realisasi B20 hingga kuartal III-2018 mencapai 3,49 juta KL. Lebih tinggi dibanding realisasi 2017 yang sebesar 3,41 juta KL. Targetnya tahun ini realisasi B20 bisa tembus 5,7 juta KL.

B20 jadi salah satu juru selamat yang diandalkan RI untuk menjaga devisa. Jika target terpenuhi, diperkirakan penghematan devisa yang dicapai bisa US$ 2,3 miliar. Melihat realisasi yang cukup tinggi, Menteri ESDM Ignasius Jonan optimistis program ini bisa berlanjut dan bahkan dikembangkan ke B100. "Ini green diesel jadinya, bisa untuk semua mesin," kata Jonan dalam wawancara khusus bersama CNBC Indonesia, Selasa (23/10/2018).

2. Pertamina Wajib Beli Minyak Kontraktor di Dalam Negeri

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menyebutkan beberapa Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang minyak bagian kontraktor yang selama ini diekspor, akan dibeli oleh PT Pertamina (Persero).

"Yang paling besar itu Chevron Pasific Indonesia dan ExxonMobil Indonesia," ujar Arcandra kepada media ketika dijumpai di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (14/9/2018).

Dengan kebijakan ini diharapkan bisa menekan kebutuhan impor crude atau minyak mentah. Diproyeksikan potensi minyak ekspor KKKS yang dapat dibeli oleh Pertamina sekitar 225 ribu barel per hari.

3. Pertamina Lobi Kontraktor Minyak untuk Pakai Rupiah

Langkah terakhir masih dalam tahapan upaya. "Jadi kami coba mencari struktur atau skema pembiayaan atau pembayaran menggunakan rupiah," kata Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Mas'ud Khamid saat ditemui di gedung parlemen, Rabu (24/10/2018).

Mas'ud mengatakan, perseroan saat ini telah melakukan sejumlah pendekatan dengan beberapa KKS. Saat ini, Pertamina telah melakukan kerjasama serupa dengan raksasa minyak asal Malaysia, Petronas terkait pembelian minyak menggunakan rupiah.




(gus/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading