Bisakah Blok Terminasi Tambal Kerugian Pertamina Akibat BBM?

News - Gustidha Budiartie, CNBC Indonesia
30 May 2018 11:34
Bisakah Blok Terminasi Tambal Kerugian Pertamina Akibat BBM?
Jakarta, CNBC Indonesia- Penugasan untuk mendistribusikan bensin bersubsidi seperti solar maupun bensin premium membuat keuangan PT Pertamina (Persero) babak belur.

April lalu, di depan Komisi VII DPR RI, direksi Pertamina mengaku rugi hingga Rp 5,5 triliun untuk distribusi premium dan solar subsidi sepanjang Januari-Februari 2018. Kerugian ini dinilai bakal lebih besar dengan ditahannya harga bensin premium dan solar hingga 2019 nanti.




Pemerintah memang berencana untuk menambah subsidi solar, meski belum diketuk besarannya hingga sekarang. Subsidi untuk solar yang dikucurkan oleh pemerintah saat ini Rp 500 per liter, nilai subsidi ini sebenarnya masih kurang karena jika disesuaikan harga pasar saat ini subsidi yang ditambal Pertamina bahkan mencapai Rp 1.920 per liter.

Berkali-kali pemerintah mengatakan kerugian Pertamina di sektor hilir ini dikompensasi dengan memberikan blok terminasi 'gratis'. Totalnya mencapai 10 blok dengan potensi omset mencapai Rp 336 triliun. "Untuk 20 tahun itu US$ 24 miliar, tambahan pendapatan dari WK terminasi ini," ujar Plt Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, dua pekan lalu di Kementerian BUMN.



CNBC Indonesia berbincang singkat dan khusus dengan Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam untuk mengelaborasi lebih lanjut soal faedah blok-blok terminasi.

Alam mengatakan dengan mengelola blok terminasi potensi produksi migas yang bertambah adalah 830 juta barel setara minyak (mmboe) dari 10 blok yang didapatkan Pertamina. "Tapi ingat ini kan untuk 20 tahun di hulu, sementara untuk hilir kita bicara kondisi sekarang," ujarnya, Senin lalu.

Dari total produksi tersebut, sebenarnya belum bisa dihitung secara pasti potensi pendapatan yang akan diraup Pertamina. Ini terkait Pertamina masih mencari mitra dan besaran split yang belum ditentukan.

Lalu, meski disebut blok diberikan secara gratis oleh pemerintah sebenarnya Pertamina turut mengeluarkan dana untuk modal maupun operasional sepuluh blok tersebut. "Kami siapkan US$ 20 miliar untuk capex dan opex selama 20 tahun itu," katanya.

Lebih rincinya adalah sebesar US$ 693 juta untuk investasi di 3 tahun pertama. Ini belum termasuk uang yang harus disetor Pertamina untuk tanda tangan bonus sebesar US$ 51,8 juta.

Senior Vice President Upstream Business Development Denny Tampubolon memaparkan mengelola blok terminasi memiliki tantangan tersendiri. "Karena ini aging facility, tantangannya itu jangan sampai angka penurunan produksinya hingga puluhan persen. Ini harus kita tahan atau kurangi, sebab turunnya pasti," ujar Denny, Senin lalu.



Setidaknya, kata Denny, ada 4 hal yang menjadi tantangan Pertamina saat mendapat blok terminasi ini.

Pertama adalah bagaimana Pertamina mempertahankan produksi sesuai kemampuan lapangan, yang rata-rata telah berumur dan dalam laju menurun.

Kedua, memastikan kelanjutan operasi aman, efisien, dan handal. Ketiga, memastikan pengalihan operatorship yang lancar.

"Sewaktu kami mendapat Mahakam, itu ada 550 kontrak yang harus ditangani dan dievaluasi. Belum lagi soal pekerja," paparnya. Terakhir, Pertamina harus mencari peluang kerjasama sebagai upaya untuk lebih optimalkan blok terminasi. (gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading