Newsletter

Sah! The Fed Tak Lagi Agresif, Dunia Tak Jadi Resesi?

Market - Annisa Aflaha, CNBC Indonesia
01 December 2022 05:53
Federal Reserve Chairman Jerome Powell holds a press conference following a two day Federal Open Market Committee policy meeting in Washington, U.S., January 30, 2019. REUTERS/Leah Millis Foto: Gubernur bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve, Jerome Powell (REUTERS/Leah Millis)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri kompak reli pada perdagangan Rabu (30/11/2022), tercermin dari triple rally di pasar ekuitas, rupiah dan pasar obligasi yang kompak ditutup menguat.

Sebelum memulai perdagangan, investor perlu mencermati berbagai sentimen hari ini, yang akan dibahas pada halaman 3. Termasuk di dalamnya bank sentral AS (The Fed) yang akan mengendurkan laju kenaikan suku bunganya bulan ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat cukup tajam 0,99% ke 7.081,31 pada perdagangan kemarin. Volume saham tercatat sebanyak 30 miliar lembar dan diperdagangkan dengan frekuensi perpindahan tangan sebanyak 1,5 juta kali serta nilai kapitalisasi pasar senilai 9,5 triliun.

Indeks sektoral penopang kenaikan IHSG yakni sektor keuangan yang melesat 1,8%, sektor kesehatan naik tajam 1,2% dan sektor barang konsumen primer menguat 0,89%.

Ternyata pasar ekuitas Indonesia bukan satu-satunya yang berhasil mempertahankan posisinya di zona hijau, di mana mayoritas indeks di bursa Asia-Pasifik juga kompak berakhir menguat kemarin.

Hanya indeks Nikkei 225 Jepang yang ditutup di zona merah pada hari ini, yakni melemah 0,21% ke posisi 27.968,99.

Sedangkan sisanya ditutup di zona hijau. Indeks Hang Seng Hong Kong ditutup melejit 2,16% ke posisi 18.597,23, Shanghai Composite China naik tipis 0,05% ke 3.151,34, Straits Times Singapura menguat 0,43% ke 3.290,49, ASX 200 Australia bertambah 0,43% ke 7.284,2, KOSPI Korea Selatan melonjak 1,61% ke 2.472,53

Sentimen global dan Tanah Air yang cenderung positif, membuat tekanan terhadap rupiah pun minim, di mana rupiah berhasil menguat terhadap dolar AS. Menghentikan penurunannya selama tiga hari beruntun.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,13% di Rp 15.720/US$. Setelahnya rupiah sempat berbalik melemah ke Rp 15.748/US$. Di penutupan perdagangan, rupiah berada di Rp 15.730/US$, menguat tipis 0,06% di pasarspot.

Hal serupa terjadi pada pasar obligasi, di mana harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) ditutup menguat pada perdagangan Rabu (30/11/2022).

Melansir data dari RefinitivSBN tenor 5 tahun menjadi yang paling besar penurunannya pada hari ini yakni merosot 10,9 basis poin (bp) ke posisi 6,318%.

Sedangkan, SBN tenor 10 tahun yang merupakan SBN acuan (benchmark) menjadi yang paling rendah penurunannya pada hari ini, yakni turun 3,8 bp menjadi 6,909%.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga turunnya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Triple rally terjadi seiring dengan sentimen Tanah Air yang positif. Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) tampaknya sukses menjadi penopang pasar keuangan Indonesia.

Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2022 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Rabu (30/11/2022). Dihadiri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan sederet menteri serta bankir dan pelaku dunia usaha lainnya.

"Stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga komitmen tinggi BI terhadap rupiah pada 2023 Insyaallah menghendaki akan menguat apabila gejolak global mulai mereda," jelasnya.

Perry memprediksi pertumbuhan ekonomi di Tanah Air akan tumbuh 4,5% hingga 5,3% pada 2023 dan meningkat menjadi 4,7% hingga 5,5% pada 2024. Sementara inflasi akan menurun.

"(inflasi) 3% plus minus 1% pada 2023 dan 2,5% plus minus 1% pada 2024," kata Perry lagi. Bahkan inflasi 2,5% plus minus 1% juga diperkirakan akan terjadi hingga 2027.

Perry juga bilang, BI akan terus melanjutkan penjualan SBN tenor jangka pendek dan pembelian SBN jangka panjang di pasar sekunder dalam hal diperlukan.

Selain itu, BI juga akan menjaga imbal hasil SBN agar tetap menarik untuk masuknya portofolio untuk mendukung stabilitas rupiah, sekaligus untuk menjaga agar kenaikan yield (imbal hasil) SBN untuk fiskal tidak berlebihan. "Koordinasi erat dengan Kementerian Keuangan."

HALAMAN SELANJUTNYA >>> Gak Jadi November Rain, Wall Street Bangkit! Kode Buat IHSG

Gak Jadi November Rain, Wall Street Bangkit! Kode Buat IHSG
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading