Raksasa Tech Getol Caplok Emiten Ritel RI, Next Target Siapa?

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
08 October 2021 11:05
Pengunjung Wajib Menggunakan PeduliLindungi Saat Masuk Supermarket (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan teknologi di Indonesia diyakini masih akan mengincar beberapa emiten ritel di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berpotensi menutup gap atau kekurangan dari ekosistem bisnis mereka.

Senior Investment Information PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Martha Christina mengungkapkan, tren akuisisi diperkirakan masih akan terus berlangsung seperti halnya yang terjadi pada Blibli, perusahaan e-commerce dari Grup Djarum yag mengakuisisi perusahaan pengelola Ranch Market, PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC) untuk melengkapi ekosistem bisnis digital.

"Akuisisi masih akan terus berlanjut dari perusahaan teknologi yang punya investor untuk meng-inject dana, mereka punya keinginan menutup ekosistem yang lengkap," kata Martha, Kamis (8/10/2021).


Baru-baru ini juga santer dikabarkan, Blibli sedang dalam proses negosiasi untuk mengakuisisi saham emiten ritel ponsel PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) dengan harga di kisaran Rp 800 sampai Rp 850 per saham.

Menanggapi kabar tersebut, Corporate Communications Erajaya Group, Djunadi Satrio mengungkapkan, pihaknya menolak berkomentar lebih lanjut mengenai rumor akuisisi tersebut.

"Kami tidak dapat menanggapi rumor apapun yang beredar di pasar. Hal yang dapat kami sampaikan adalah fundamental bisnis Erajaya Group semakin kuat termasuk di masa pandemi ini," kata Djunadi kepada CNBC Indonesia, Senin (21/9/2021).

Selain itu, kata Djunadi, perseroan saat ini masih akan fokus pada pertumbuhan operasional ERAA.

"Erajaya terus memprioritaskan pertumbuhan yang berkelanjutan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan setia kami di seluruh wilayah tempat perusahaan beroperasi," ungkapnya.

Riset yang dipublikasikan Syailendra Capital menyebutkan, perusahaan besar berbasis teknologi di Indonesia masih mengincar perusahaan publik yang potensial untuk diakuisisi untuk melengkapi bisnis mereka.

Syailendra Market Insight periode 24 September 2021Foto: Syailendra Market Insight periode 24 September 2021
Syailendra Market Insight periode 24 September 2021

Syailendra menilai, perusahaan besar teknologi di dalam negeri masih memiliki posibilitas melakukan akuisisi.

"Hal ini menjadi peluang bagi investor mengingat kinerja saham yang meningkat signifikan apabila akuisisi dilakukan terhadap perusahaan publik," tulis Syailendra, dikutip Senin (27/9/2021).

Sebagai gambaran, usai diakuisisi Grup Djarum, saham RANC sejak awal tahun ini sudah melesat 436,70% ke level Rp 2.340 per saham. Perusahaan ini pertama kali melantai di bursa pada 7 Juni 2012 lalu dengan harga penawaran umum perdana saham Rp 500.

Selain itu, emiten bank digital, PT Bank Jago Tbk (ARTO), yang sahamnya sebagian dimiliki oleh PT Dompet Karya Anak Bangsa (GoPay) yang saat ini masuk ke ekosistem GoTo, sejak awal tahun sudah melesat 311,31% ke level Rp 15.950 per saham.

Sebelum berganti nama menjadi Bank Jago, perusahaan ini bernama Bank Artos yang pertama kali tercatat di bursa pada 12 Januari 20216 lalu dengan harga IPO sebesar Rp 132 per saham.

Bila membandingkan dengan kinerja IHSG yang sejak awal tahun baru menguat 3% dengan imbal hasil ARTO dan RANC tentu sangatlah jauh.

Syailendra juga menyebut, perusahaan dengan eksposur digital juga cenderung memiliki target pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan lain di IHSG.

"Hal ini dapat menjadi faktor pendorong tersendiri bagi kinerja dan valuasi saham perusahaan-perusahaan tersebut," ungkap Syailendra.

Di sisi lain, pada 4 Oktober lalu, emiten ritel lagi-lagi dibeli raksasa teknologi RI yakni Gojek atau PT Aplikasi Karya Anak Bangsa.

Gojek resmi menjadi pemegang saham sebesar 6,74% di emiten ritel pengelola Hypermart, milik Grup Lippo yakni PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) setelah membelinya dari pengendali PT Multipolar Tbk (MLPL).

Multipolar menjual sebanyak 507.142.900 saham di harga Rp 700/saham atau setara dengan 6,74% kepada Gojek, senilai Rp 355 miliar.

"Status kepemilikan lokal, jumlah sebelum transaksi nol, jumlah setelah transaksi 507.142.900 saham," kata Sekretaris Perusahaan MPPA Danny Kojongian, dalam keterbukaan informasi di BEI, Kamis (7/10/2021).


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading