Ngalahin Harga Batu Bara, Aset Ini Meroket 220% Cuma Sepekan!

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
08 October 2021 09:40
Aktifitas pekerja saat bongkar muat Batubara yang datang dari Batam di Pelabuhan KCN Cilincing,  Jakarta Utara, Kamis (12/4). Keputusan Menteri ESDM Nomor 1359K/30/MEM/2018 soal harga jual batubara untuk penyediaan tenaga listrik buat kepentingan umum, pemerintah menetapkan harga jual untuk PLTU US$70 per ton.  pemerintah juga menetapkan volume maksimal pembelian batubara untuk pembangkit listrik 100 juta ton per tahun atau sesuai kebutuhan batubara untuk pembangkit listrik.Jonan menegaskan, penetapan harga jual batubara untuk PLTU agar tarif tenaga listrik tetap terjaga demi melindungi daya beli masyarakat dan industri yang kompetitif. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melonjak luar biasa sepanjang tahun ini. Kenaikannya sempat memecahkan rekor tertinggi sejak 2008 di posisi US$ 280/ton pada Selasa (5/10/2021). Rasanya, tidak ada komoditas lain yang mengalami kenaikan harga setajam si batu hitam.

Setelah menyentuh US$ 280/ton, harga batu bara 'terjun bebas' seiring adanya aksi ambil untung (profit taking) para investor.

Pada Rabu (6/10), harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) anjlok 15,71% ke US$ 236/ton dibandingkan hari sebelumnya. Sementara, pada Kamis kemarin (7/10), harga batu bara ambles 4,70% ke US$ 224,90/ton.


Kendati ambles dalamĀ 2 hari terakhir, dalam sepekan harga batu bara masih naik 3,64%, sebulan melesat 26,10%. Kemudian, sejak akhir 2020 (year-to-date/ytd) harga batu bara 'meroket' 175,11%.

Lonjakan batu bara akhir-akhir ini ditopang oleh persediaan yang menipis di tengah permintaan yang meningkat karena pembukaan aktivitas ekonomi. Naiknya harga minyak bumi dan gas alam juga mempengaruhi kinerja batu bara yang akhir-akhir ini mencatatkan rekor harga tertinggi sepanjang masa.

Kenaikan harga gas alam, memang, menjadi faktor utama lonjakan harga batu bara. Saat gas alam semakin mahal, maka insentif untuk berpaling ke sumber energi primer alternatif meningkat. Salah satunya adalah batu bara.

Dalam sepekan terakhir, harga gas alam di Henry Hub (Oklahoma, Amerika Serikat) naik 5,67%. Selama sebulan ke belakang kenaikannya mencapai 26,07% dan secara year-to-date meroket 126,8%.

Di Eropa, biaya pembangkitan listrik dengan gas alam adalah EUR 89,4/MWh pada 5 Oktober 2021. Dengan batu bara, harganya hanya EUR 58,06/MWh. Ini membuat batu bara kembali menjadi primadona, bahkan di Eropa yang menjunjung tinggi isu ramah lingkungan.

"Melihat situasi di Eropa, gas alam sudah tidak lagi bisa bersaing dengan batu bara. Akibatnya, penggunaan batu bara semakin meningkat," sebut kajian ELS Analysis, konsultan energi yang berbasis di Swedia, seperti dikutip dari Reuters.

Apalagi, saat ini sejumlah negara di dunia sedang dilanda energi menjelang musim dingin tahun ini.

Kelangkaan pasokan dan naiknya harga gas, naiknya tarif bahkan padamnya listrik, serta sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) menjadi beberapa alasannya.

Berdasarkan kompilasi pemberitaan CNBC International, setidaknya ada tiga negara di dunia yang sedang mengalami hal tersebut, yakni Inggris, China, India. Beberapa mengamankan komoditas, seperti batu bara, untuk kelangsungan listrik warganya.

Lalu, aset apa yang bisa mengalahkan lonjakan harga batu bara sepanjang tahun ini?

NEXT: Aset Mana yang Bisa KalahinĀ Batu Bara?

Ini Dia Aset yang 'Menghajar' Batu Bara!
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading