Dear Pecinta Kripto, Ada Kabar Baik Nih untuk Kamu!

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
08 October 2021 07:55
FILE PHOTO: Representations of the Ripple, Bitcoin, Etherum and Litecoin virtual currencies are seen on a PC motherboard in this illustration picture, February 13, 2018. Picture is taken February 13, 2018. REUTERS/Dado Ruvic/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Ada kabar baik bagi pecinta kripto. Yakni Amerika Serikat (AS) memastikan tidak akan mengambil jalur ekstrem untuk mematikan kripto seperti dilakukan China.

Ini dikatakan oleh Chairman Securities and Exchange Commision (SEC), Gary Gensler. Menurutnya meski memiliki banyak masalah dengan perusahaan kripto, namun tidak akan melakukan hal sama seperti pemerintah China.

Fokus pemerintah AS, menurutnya adalah memastikan industri akan mematuhi aturan. Mulai dari perlindungan investor dan konsumen, peraturan anti pencucian uang dan undang-undang pajak.


"Pendekatan kami sangat berbeda," kata Gensler saat di sidang DPR setelah seorang anggota parlemen Republik bertanya apakah akan berencana melarang uang kripto seperti di China, dilansir dari Bloomberg.com, dikutip Jumat (8/10/2021).

Dia menambahkan larangan apapun kemungkinan harus disahkan oleh Kongres.

Pernyataan tersebut mewakili pernyataan Ketua Federal Reserve Jerome Powell. Saat sidang kongress 30 September lalu, dia mengatakan tidak ada niat melarang cryptocurrency.

Pemerintah China memang diketahui melarang habis-habisan uang kripto. Seluruh transaksi dilarang dan akan bergerak agresif mematikan penambangan token.

Ini langkah terbaru setelah selama berbulan-bulan China melakukan peringatan pada mata uang virtual.

Semua aktivitas dari uang kripto seperti Bitcoin, Dogecoin dan Ethereum dilarang. Pemerintah melarang mulai dari penambangan hingga transaksi, bahkan dilakukan saat China menjadi salah satu pasar terbesar kripto di dunia.

Terbaru, bank sentral setempat memutuskan seluruh transaksi cryptocurrency ilegal dan melarang token digital. Laporan BBC menyebut lembaga itu mengingatkan aktivitas cryptocurrency berbahaya untuk aset masyarakat.

Dua bursa penukaran cryptocurrency terbesar, Huobi dan Binance memutuskan hubungan dengan pengguna di China. Huobi menghentikan pendaftaran pengguna baru di China dan akan mengakhiri kontrak dengan pengguna negara itu paling lambar akhir tahun ini.

Sementara Binance tidak memiliki operasional pertukaran di China. Juru bicara perusahaan menambahkan memblokir IP China.

"Binance menjalankan kewajiban kepatuhannya dengan sangat serius dan berkomitmen untuk mengikuti persyaratan regulator lokal di mana pun kami beroperasi," ujar Binance, seperti dikutip dari Laporan Bloomberg.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Warning Wamendag: Kripto Bukan Mata Uang RI, Tapi Komoditas


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading