Saham DGIK 'Ngamuk' Setelah Dicaplok, Bakal Ada Kejutan?

Market - Feri Sandria, CNBC Indonesia
08 October 2021 08:50
Kantor pusat PT Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk (NKE). (Dok. Nusa Konstruksi Enjiniring)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten konstruksi, PT Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk (DGIK), selam tiga hari beruntun ditutup di zona hijau bahkan pada perdagangan kemarin (7/10) menyentuh batas auro rejetion atas (ARA) setelah perusahaan menyampaikan transaksi penjualan saham kepada PT Global Dinamika Kencana (GDK) yang kini telah menjadi pemegang saham pengendali baru.

Perubahan tersebut terjadi setelah GDK melakukan pembelian sebanyak 2.873.092.300 lembar saham, yang dimiliki PT Lintas Kebayoran Kota, PT Lokasindo Aditama, PT Rezeki Segitiga Emas dan PT Multidaya Hutama Indokarunia. Total jumlah pembelian tersebut setara dengan 51,85% kepemilikan di DGIK, yang menjadikan GDK menjadi pemegang saham pengendali di DGIK.

Pembelian dilakukan pada harga Rp 80 per saham sehingga total nilai transaksi sebesar Rp 229,85 miliar. Dan pasca transaksi GDK memiliki kewajiban untuk melaksanakan tender offer terhadap kepemilikan publik sebagaimana diatur dalam POJK 9/2018.


Dengan akuisisi ini, GDK saat ini memiliki dua anak usaha yang telah listing di Bursa Efek Indonesia bersama dengan PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) yang bergerak di sektor layanan kesehatan.

Dicaploknya emiten konstruksi ini oleh GDK bukan tanpa alasan, mengingat GDK juga merupakan adalah pemilik perusahaan konstruksi nasional lainnya yaitu PT Dirgantara Yudha Arta (Dirgantara) yang secara ukuran lebih besar dari DGIK.

Potensi merger tentu saja bisa menjadi opsi mengingat kedua perusahaan bergerak di bidang yang sama, meskipun dari kedua pihak belum menyatakan ketertarikan secara langsung.

Sebelumnya anak usaha GDK yang bergerak di sektor kesehatan, IRRA, juga baru saja melepas seluruh saham treasury kepada GDK, sehingga kepemilikannya bertambah menjadi 76%.

Sebanyak 100 juta saham dilepas di harga Rp 1.988, sehingga perolehan dana hasil penjualan mencapai Rp 198,90 miliar.

Pratoto Satno Raharjo, Direktur IRRA dalam keterangan resmi yang terbit di keterbukaan informasi dikutip CNBC Indonesia Jumat (8/10) mengatakan dana tersebut "Akan digunakan untuk pembayaran uang muka rencana aksi korporasi pengambilalihan saham (akuisisi) pada sister conpany dari perseroan, yaitu PT Oneiect lndonesia."

Oneject sendiri merupakan produsen alat suntik ADS (Auto Disable Syringe) terbesar di Asia, yang saat ini sudah menjual produknya ke negara-negara di Eropa, Asia dan juga UNICEF.

Jika kolaborasi antara sister company di sektor yang sama sudah pernah terlaksana, bukan tidak mungkin kolaborasi baik berupa akuisisi atau merger dapat terlaksana lagi di waktu yang akan datang.

Selain itu, Corporate Secretary PT Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk (DGIK) Almanda Pohan dalam keterangan resmi perusahaan menyatakan saat ini penting bagi perusahaan konstruksi untuk mendapat dukungan yang kuat untuk pendanaan. Mengingat kondisi saat ini, di mana perbankan masih belum agresif untuk penyaluran kreditnya dan kondisi tersebut selain karena kondisi permintaan, tidak bisa dilepaskan dari tingginya rasio NPL di sektor konstruksi.

"Dengan mulai pulihnya sektor kontruksi, maka masuknya GDK sebagai pengendali baru menjadi momentum yang tepat, menjadi energi baru dan modal yang kuat untuk tumbuh," tutup Almanda dikutip CNBC Indonesia (8/10).

Anak usaha GDK, PT Dirgantara Yudha Artha (Dirgantara) merupakan perusahaan konstruksi yang sudah berdiri sejak tahun 1990, Dirgantara sudah berpartisipasi dalam proyek-proyek konstruksi nasional, seperti infrastruktur bandara (runway & hangar), kawasan industri, jalan raya, tol, dan yang terbaru dalam pembangunan proyek Tol Cikopo Palimanan.

Sementara itu sejumlah proyek yang ditangani DGIKdi antaranya Bandara Kualanamu Medan, kedutaan besar Prancis di Jakarta, Gedung BEI Tower I, World Capital Tower, dan Chadstone Cikarang.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ini Alasan Induk IRRA Borong Saham Nusa Konstruksi Rp 230 M


(fsd/fsd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading