Waduh! Masih Pagi Saham ADRO-HRUM dkk Ambruk, Ada Apa nih?

Market - Chandra Dwi, CNBC Indonesia
05 May 2021 10:15
Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Bongkar Muat Batu Bara di Terminal Tanjung Priok. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham pertambangan batu bara bergerak melemah pada awal perdagangan sesi I Rabu (5/5/2021), karena investor merealisasikan keuntungannya di saham batu bara setelah harga batu bara acuan ditutup melemah pada perdagangan Selasa (4/5/2021) waktu setempat.

Simak pergerakan saham batu bara pada perdagangan sesi I pukul 09:13 WIB hari ini.


Berdasarkan data dari RTI pada pukul 09:13 WIB, saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) menduduki posisi pertama pelemahan saham batu bara pada awal perdagangan sesi I hari ini. Saham ADRO ambles 4,4% ke level Rp 1.195/unit pada pukul 09:13 WIB pagi hari ini.

Data perdagangan mencatat nilai transaksi saham BOSS pagi ini telah mencapai Rp 31 miliar dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 26 juta lembar saham. Tercatat investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) sebanyak Rp 2,9 miliar di pasar reguler pada pagi hari ini.

Selanjutnya, di posisi kedua diduduki oleh saham PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS) yang merosot 1,04% ke level Rp 95/unit pada awal perdagangan sesi I pagi hari ini.

Tercatat nilai transaksi BOSS sudah mencapai Rp 47 juta dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 495 ribu lembar saham. Pada awal perdagangan sesi I hari ini, hanya investor dalam negeri yang bertransaksi di saham BOSS

Berikutnya di posisi ketiga terdapat saham batu bara PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang merosot 1,03% ke Rp 11.975/unit pada perdagangan pagi hari ini.

Nilai transaksi saham ITMG sudah mencapai Rp 544 juta dengan volume transaksi yang diperdagangkan sebanyak 45 ribu lembar saham. Asing tercatat membeli saham ITMG sebesar Rp 99 juta di pasar reguler.

Sedangkan pelemahan paling minor dibukukan oleh saham PT Indika Energy Tbk (INDY) yang melemah 0,35% ke posisi Rp 1.425/unit pada awal perdagangan sesi I pukul 09:13 WIB.

Adapun nilai transaksi INDY pagi ini mencapai Rp 1 miliar dan volume transaksi yang diperdagangkan mencapai 1 juta lembar saham. Asing juga melepas saham INDY di pasar reguler sebesar Rp 35 juta.

Ada pula saham tambang batu bara BUMN, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), minus 0,43% di posisi Rp 2.290/saham.

Saham batu bara pagi ini terpantau ambruk karena harga batu bara acuan Newcastle ditutup melemah pada perdagangan Selasa (4/5/2021) waktu setempat, sehingga investor melepas saham batu bara pada pagi hari ini.

Pada penutupan perdagangan kemarin, harga kontrak batu bara termal ICE Newcastle yang aktif diperdagangkan tersebut melemah 0,11% menjadi US$ 91,75/ton.

Harga kontrak batu hitam legam tersebut terkena aksi ambil untung, setelah sebelumnya mampu menguat sepanjang pekan lalu, dari level US$ 85,7/ton ke level US$ 91,85/ton atau kenaikan sekitar 7% dalam kurun waktu 5 hari perdagangan.

Di Indonesia, produksi batu bara nasional pada kuartal I 2021 hanya mencapai 143,69 juta ton, turun 4,12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 149,88 juta ton.

Padahal dari sisi harga, Harga Batu Bara Acuan (HBA) pada awal tahun ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan, turunnya produksi batu bara di kuartal I 2021 dikarenakan faktor cuaca buruk. Seperti diketahui, curah hujan sangat tinggi di awal tahun 2021 ini. Pada pertengahan Januari misalnya, telah terjadi banjir di Provinsi Kalimantan Selatan yang banyak terdapat area pertambangan.

"Sebagian wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) juga banjir. Ini yang berpengaruh terhadap produksi batu bara," ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Selasa(04/05/2021).

Penurunan produksi di awal tahun menurutnya sudah menjadi tren dari tahun ke tahun. Menurutnya, biasanya di kuartal I, faktor cuaca menjadi penghambat laju produksi batu bara.

"Jika melihat tren produksi, biasanya di kuartal I di tahun-tahun sebelumnya, tingkat produksi lebih rendah karena memang disebabkan oleh faktor cuaca," jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, penurunan produksi tersebut mendorong menguatnya harga komoditas batu bara. Terlebih, lanjutnya, permintaan batu bara di kuartal I cukup tinggi.

"Pasokan dari Australia juga sempat terpengaruh akibat banjir di beberapa wilayah yang memiliki konsesi batu bara," ujarnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading