Cakep nih, Jelang Rilis PDB RI, Saham Emiten Big Cap Ngamuk!

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
05 May 2021 09:57
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham-saham emiten big cap atau saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 100 triliun kompak menguat pada awal perdagangan hari ini, Rabu (5/5/2021). Penguatan saham-saham tersebut terjadi menjelang dirilisnya data kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama tahun ini, siang nanti.

Berikut gerak 12 saham big cap, pukul 09.17 WIB, mengacu data BEI:


  1. Elang Mahkota Teknologi (EMTK), saham +2,25%, ke Rp 2270, transaksi Rp 5 M

  2. Charoen Pokphand Indonesia (CPIN), +2,20%, ke Rp 6.975, transaksi Rp 3 M

  3. Unilever Indonesia (UNVR), +1,74%, ke Rp 5.850, transaksi Rp 16 M

  4. Bank Rakyat Indonesia (BBRI), +1,23%, ke Rp 4.110, transaksi Rp 102 M

  5. Astra International (ASII) +0,91%, ke Rp 5.550, transaksi Rp 9 M

  6. Bank Mandiri (BMRI), +0,41%, ke Rp 6.125, transaksi Rp 10 M

  7. Bank Central Asia (BBCA), +0,31%, ke Rp 32.100, transaksi Rp 40 M

  8. Indofood CBP Sukses Makmur , +0,29%, ke Rp 8.550, transaksi Rp 1 M

  9. Bank Jago (ARTO), +0,25%, ke Rp 10.000, transaksi Rp 1 M

  10. Chandra Asri Petrochemical (TPIA), 0,00%, ke Rp 9.700, transaksi Rp 81 juta

  11. Hanjaya Mandala Sampoerna (HMSP) 0,00%, ke Rp 1.300, transaksi Rp 2 M

  12. Telkom Indonesia (TLKM), -0,31%, ke Rp 3.200, transaksi Rp 25 M

Berdasarkan data di atas, setidaknya ada 9 emiten big cap yang langsung merangsek ke zona penguatan pada pagi ini. Sementara, dua saham stagnan dan satu ambles ke zona merah.

Saham emiten teknologi dan media Grup Emtek, EMTK, memimpin penguatan dengan naik 2,25% ke Rp 2.270/saham. Nilai transaksi saham emiten yang dimiliki taipan Eddy K. Sariaatmadja ini sebesar Rp 5 miliar.

Dengan ini, saham EMTK berhasil memutus tren pelemahan sejak tiga hari lalu, atau sejak Jumat (30/4) pekan lalu.

Di posisi kedua, ada saham emiten sektor perunggasan (poultry), CPIN, yang terapresiasi 1,74% ke posisi Rp 5.850/saham. Nilai transaksi saham ini sebesar Rp 16 miliar.

Saham CPIN berhasil rebound pagi ini, setelah ambles dalam dua hari belakangan. Dalam sepekan saham ini masih terkoreksi 1,42%.

Kemudian, saham emiten barang konsumer, UNVR, juga terangkat 1,74% ke Rp 5.850/saham pagi ini. Praktis naiknya saham UNVR pagi ini menghentikan pelemahan selama 4 hari berturut-turut.

Adapun, dua saham big cap tercatat masih belum bergerak, yakni saham emiten petrokimia TPIA dan emiten produsen rokok HMSP, yang secara berturut-turut masih di harga Rp 9.700/ dan Rp 1.300/saham.

Berbeda, saham emiten telekomunikasi pelat merah, TLKM, malah langsung tersungkur di zona merah dengan melemah 0,31% ke Rp 3.200/saham.

Pada siang nanti, Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun ini.

Pertumbuhan ekonomi Tanah Air sepanjang tiga bulan pertama 2021 diperkirakan masih akan terkontraksi dengan median -0,87% dari perkiraan -0,32% sampai dengan -1,63%.

Ini berarti,ekonomi RI diperkirakan masih akan mengalami kontraksi (tumbuh negatif) alias Indonesia belum akan lepas dari resesi.

Suatu negara dikatakan mengalami resesi ketika PDB berkontraksi 2 kuartal beruntun secara year-on-year (YoY).

PDB Indonesia sudah tumbuh negatif sejak kuartal II-2020 lalu. Pada kuartal IV-2020, PDB masih negatif 2,19%.

Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2021 akan mengalami kontraksi atau -0,1%. Beberapa ekonomi bahkan memproyeksikan lebih dalam lagi.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, perekonomian masih minus karena pemulihan yang belum cukup signifikan di awal tahun.

"Januari-Februari belum signifikan pemulihannya, sehingga kalau dari kami ekspektasinya masih kisaran negatif 2 sampai negatif 1% di kuartal I-2021," ujarnya dalam Pelatihan BI secara virtual, Kamis (25/3/2021).

Hal senada diungkapkan Kepala Ekonom BCA David Sumual, ia juga memproyeksikan PDB Indonesia baru tumbuh positif pada kuartal II-2021.

"Januari-Februari 2021 dan Maret meningkat lagi, kalau dibandingkan dengan kuartal IV tahun lalu. Jadi wajar kalau di kuartal I-2021 masih rendah atau negatif," ujar David kepada CNBC Indonesia, Selasa (23/2/2021).

"Baru kelihatannya di kuartal II-2021 akan lebih baik. Kuartal II itu mungkin kita (pertumbuhan ekonomi Indonesia) positif, lebih baik dibandingkan tahun lalu yang mengalami -5,32%," lanjutnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA

 


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading