Joss! IHSG Lawan Gravitasi, Dekati Lagi Level 6.000

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
05 May 2021 09:17
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo) Foto: Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghijau di awal perdagangan Rabu (5/5/2021) mendekati lagi level psikologis 6.000, padahal sentimen negatif datang dari luar negeri. Pelaku pasar saat ini menanti rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2021.

IHGS menguat 0,18% di 5.974,56 saat bel pembukaan perdagangan berbunyi. Penmguatan IHSG semakin teekaselerasi hingga 0,32% ke 5.982,661.

Data perdagangan mencatat investor asing melakukan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp 16 miliar di pasar reguler awal perdagangan ini. Kemarin asing juga mencatat net buy Rp 209,7 miliar di pasar reguler.


Dari luar negeri, merosotnya bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street bisa memberikan dampak negatif ke pasar Asia termasuk ke IHSG. Indeks Dow Jones memang menguat tipis 0,06%, tetapi S&P 500 dan Nasdaq merosot 0,67% dan 1,88%.

Salah satu pemicu merosotnya Wall Street adalah Menteri Keuangan AS, Janet Yellen, yang menyatakan suku bunga harus naik agar perekonomian tidak mengalami overheating.

"Mungkin suku bunga harus naik untuk memastikan bahwa ekonomi kita tidak overheating," kata Yellen dalam percakapan yang direkam sebelumnya dengan The Atlantic, dikutip CNBC Internasional.

Yellen merupakan mantan ketua bank sentral AS (The Fed) sebelum digantikan oleh Jerome Powell. Sehingga pernyataannya tersebut memberikan dampak yang cukup besar di pasar finansial.

The Fed saat ini menerapkan suku bunga 0,25% yang menjadi salah satu pemicu kebangkitan Wall Street setelah terpuruk pada Maret 2020 lalu akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19). Bangkitnya kiblat bursa saham dunia tersebut membuat pasar saham di negara-negara lainnya ikut terkerek naik.

Sebelumnya, The Fed menegaskan akan mempertahankan suku bunga hingga tahun 2023. Tetapi dengan pernyataan Yellen tersebut, muncul ekspektasi kenaikan bisa lebih cepat dari itu.

Sementara itu dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data pertumbuhan ekonomi domestik periode kuartal I-2021.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) mengalami kontraksi atau tumbuh negatif 0,87% pada tiga bulan pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy).

Kontraksi PDB hampir pasti dialami Indonesia di tiga bulan pertama tahun ini, yang menjadi pertanyaan seberapa dalam. Pasar finansial Indonesia bisa menyambut positif data tersebut jika kontraksi lebih rendah dari prediksi.

Berlanjutnya kontraksi ekonomi Indonesia memang sudah diprediksi jauh-jauh hari. Artinya Indonesia masih belum akan lepas dari resesi, dan kemungkinan besar bisa mencatat pertumbuhan positif di kuartal II-2021.

Kemenko Perekonomian punya proyeksi pertumbuhan ekonomi di 6,9-7,8% untuk kuartal II-2021. Sementara 'ramalan' Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) adalah 5,3%.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading