Gilak! Saham Bank Syariah Ini Cuan 3.600%, Shopee Siap Masuk?

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
16 April 2021 07:50
Shopee/Dok Sea Ltd

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham PT Bank Net Indonesia Syariah Tbk (BANK) yang baru saja mengganti namanya menjadi PT Bank Aladin Syariah Tbk sudah mencatatkan penguatan yang amat signifikan menjadi Rp 3.810/saham, melesat hingga 3.599% atau nyaris 3.600% dari harga penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) pada 1 Februari 2021, Rp 103/saham.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, saham BANK ditutup menguat 5,83% di posisi Rp 3.810/saham pada perdagangan Kamis kemarin (15/4/2021). Nilai transaksi mencapai Rp 375 miliar dengan volume perdagangan 102 juta saham dan kapitalisasi pasarnya Rp 50,27 triliun.

Investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) Rp 22,54 miliar di pasar reguler pada Kamis kemarin, dan year to date asing masuk Rp 64,28 miliar. 


Secara price to earnings ratio (PER) atau rasio harga terhadap laba sudah mencapai 650 kali, dengan rasio harga terhadap nilai buku (price to book value/PBV) mencapai 84,38 kali. 

Kabar terbaru dari BANK ialah rencana masuknya induk usaha Shopee yakni Sea Ltd. Dalam laporan The Straits Times, media asal Singapura, sumber yang mengetahui kabar pasar ini menyebutkan Sea sedang mengincar Bank Aladin Syariah untuk menjadi partner online dari anak usahanya Shopee.

Sea yang tercatat di bursa Wall Street, NYSE (New York Stock Exchange), dengan kode saham SE ini sudah memiliki PT Bank Kesejahteraan Ekonomi (Bank BKE). Bank ini kini sudah berubah nama menjadi Bank Seabank Indonesia.

Adapun Bank Aladin Syariah dulunya bernama PT Bank Net Indonesia Syariah. Sebelum diakuisisi PT NTI Global Indonesia, dan PT Berkah Anugerah Abadi, bank ini bernama Bank Maybank Syariah Indonesia.

Per Maret 2021, saham perusahaan dipegang Bortoli International Ltd 20,01%, Kasai Universal Inc 6.18%, dan NTI Global Inodnesia 60,55%, sisanya publik 13,26%.

CNBC Indonesia mencoba mengkonfirmasi kabar ini kepada Nurdiaz Alvin Pattisahusiwa, Presiden Komisaris (Independen). Namun yang bersangkutan mengatakan dirinya belum bisa memberikan pernyataan resmi. Alvin dan beberapa direksi lainnya memang masih dalam proses fit and proper test dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Alvin nantinya menggantikan Ationo Teguh Basuki yang menjadi komisaris. Alvin sebelumnya menjabat President Director PT Mandiri Manajemen Investasi (November 2017-Maret 2021).

Berdasarkan keterangan resmi manajemen BANK, selalin masuknya Alvin, ada juga tiga eks petinggi OVO yang menjadi direktur dan tengah menunggu hasil fit and proper test dari OJK.

Ketiganya yakni Firdila Sari (mantan Head of Product OVO) sebagai Direktur Digital Banking, Willy Hambali (mantan Chief Product Officer OVO) sebagai Direktur Keuangan dan Strategi, dan Budi Kusmiantoro (mantan Chief Teknologi Officer OVO) sebagai Direktur Teknologi Informasi Bank.

Sebelumnya, The Straits Times juga menyebutkan Grab mencaplok 4% saham PT Elang Teknologi Mahkota Teknologi Tbk (Emtek) dengan nilai Rp 4 triliun ini dengan mekanisme private placement yang digelar Emtek baru-baru ini.

Pada 5 April, Emtek mengumumkan telah menyelesaikan penambahan modal tanpa memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD/private placement) senilai Rp 9,3 triliun, dengan NAVER Corporation, mesin pencari web terbesar di Korea Selatan, dan perusahaan investasi bernama H Holdings Inc menjadi pembeli saham yang mewakili sekitar 8,4% dari modal perusahaan.

"Grab membeli melalui H Holding," ujar Sumber tersebut. Dana ini akan digunakan untuk operasional sehari-hari.

Informasi ini menghidupkan kembali isu merger DANA dan OVO. DANA merupakan dompet digital yang dimiliki oleh Emtek sementara Grab menguasai 39,2% saham OVO.

Hingga saat ini, pihak Presiden Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata belum memberikan tanggapan langsung atas informasi ini dan potensi merger OVO-DANA.

Kembali ke Bank Aladin, selain Alvin dari Grup Mandiri, nama lain yang disorot yakni Dyota Marsudi sebagai Presiden Direktur dan tengah menunggu fit and proper test OJK.

Dyota adalah putra dari Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi. Dyota menggantikan posisi Presiden Direktur BANK yakni Basuki Hidayat.

"Kami melihat Aladin sebagai brand yang memenuhi kriteria ramah di telinga publik, mudah diingat, memiliki asosiasi yang positif namun tidak eksklusif bagi kalangan tertentu saja," kata Dyota, Presiden Direktur Bank Aladin Syariah yang baru, dalam keterangan resminya.

"Jika dilihat suku katanya, Aladin memiliki arti yang mendalam. Ala berarti dengan atau di atas. Sedangkan Din berarti way of life atau faith", ujar Dyota

Dyota yang mantan Senior Executive Director of Investments di Vertex Ventures, Singapura, itu mengatakan, Aladin diharapkan dapat menjadi representasi merek yang dinamis dan dapat merangkul berbagai kalangan dengan beragam latar belakang.

"Pergantian nama ini bukan sekadar proses merubah nama dan logo, melainkan juga sebuah transformasi diri menjadi bank yang lebih relevan, merangkul dan dekat kepada masyarakat masa kini melalui pendekatan digitalisasi. Di samping itu, kami juga berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk semua nasabah kami" lanjut Dyota.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading