Analisis

Bulan Puasa, Bursa Saham juga Ikutan Lesu, Fakta atau Mitos?

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
13 April 2021 11:25
Indonesian Muslims attend an Eid al-Fitr prayer that marks the end of the holy fasting month of Ramadan amid fears of the new coronavirus outbreak in Bekasi on the outskirts of Jakarta, Indonesia Sunday, May 24, 2020. (AP Photo/Achmad Ibrahim)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ada 'mitos' yang sudah lama beredar di kalangan pelaku pasar bahwa selama bulan Ramadan perdagangan di bursa saham menjadi kurang semarak. Anggapan ini sudah sering terdengar setiap bulan puasa datang.

Tidak hanya para investor, para analis saham juga sering menyebut lesunya bursa saat bulan suci umat Muslim ini akibat "faktor musiman" atau monthly effect. Kendati, tidak dapat ditemukan penjelasan yang memadai soal kenapa hal tersebut bisa terjadi.

Lantas, apakah 'mitos' bahwa bursa cenderung sepi saat Ramadan benar-benar terjadi dalam 5 tahun belakangan?


Di bawah ini Tim Riset CNBC Indonesia menyajikan tabel rerata volume transaksi di bursa saham Tanah Air selama masa Ramadan dalam 5 tahun terakhir.

Adapun rerata volume transaksi Ramadan akan dibandingkan secara bulanan dengan periode sebulan sebelumnya.

Apabila menilik data di atas, dalam periode Ramadan dalam 5 tahun belakangan, memang tercatat rerata volume transaksi perdagangan di bursa cenderung loyo secara bulanan (MtM).

Selama dua Ramadan terakhir, bursa memang lesu saat puasa, terlihat dari penurunan rerata volume perdagangan yang merosot.

Adapun penurunan yang paling kentara, yakni pada Ramadan 2017, ketika rerata volume transaksi anjlok 20% dibandingkan perode sebulan sebelumnya.

Tentu saja, data di atas yang sangat terbatas tidak bisa dijadikan bukti sahih bahwa bursa saham cenderung sepi--atau tidak sepi--setiap bulan puasa.

Namun, data tersebut barangkali bisa dijadikan ilustrasi bahwa dalam 5 Ramadan terakhir, terjadi beberapa kali fenomena 'lemasnya otot-otot' bursa di kala bulan puasa.

Menurut hemat Tim Riset CNBC Indonesia, mitos lesunya bursa saat puasa bisa jadi dipengaruhi juga oleh sejumlah faktor yang ada di setiap tahunnya.

Ambil contoh, pada Ramadan tahun lalu, pandemi Covid-19 yang baru melanda dunia dan menghantam 'sendi-sendi' perekonomian masyarakat juga ikut mempengaruhi gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG sempat terjun bebas ke 4.194,94 pada 16 Maret 2020, untuk kemudian kembali menanjak mulai September tahun lalu.

Angka tersebut ditopang oleh melesatnya indeks volatilitas (VIX) pada saat virus corona dinyatakan sebagai pandemi pada Maret 2020. Saat itu indeks VIX yang berada di bawahlevel 20, langsung meroket hingga ke atas 85.

VIX sering dianggap sebagai indikator ketakutan (fear index). Pasalnya, ketika angkanya menurun artinya ketakutan pelaku pasar semakin berkurang. Sementara, ketika posisinya menanjak, itu mencerminkan ketakutan para investor dan mereka cenderung menghindari aset-aset berisiko.

Adapun saat ini, pelaku pasar secara global kini semakin pede masuk ke pasar saham. Hal tersebut terindikasi dari penurunan indeks volatilitas (VIX) ke level terendah sebelum virus corona menyerang dunia.

Melansir data Refinitiv, VIX sepanjang pekan lalu turun 3,7% ke 16,69, level tersebut merupakan yang terendah sejak pertengahan Februari lalu.

VIX kini sudah kembali ke bawah 20, atau level sebelum Covid-19 ditetapkan sebagai pandemi, Sehingga menjadi indikasi pelaku pasar sudah tidak takut akan Covid-19.

NEXT: Meski Bursa di 2020 Lesu, Jumlah Investor Terus Melaju

Meski Bursa di 2020 Lesu, Jumlah Investor Terus Melaju
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading