InvesTime

Ternyata 3 Momen Ini Waktu yang Pas Borong Saham Konsumer!

Investment - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
13 April 2021 08:55
Sertifikasi halal dinilai menjadi aspek penting dalam bisnis makanan di Tanah Air. Hal itu berkaitan dengan rasa aman seiring garansi yang diberikan atas produk atau jasa yang dibeli.

Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center (IHLC) Sapta Nirwandar mengatakan, untuk perusahaan besar seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), tak bisa dimungkiri sertifikasi halal menambah penjualan produk yang dihasilkan.

Jakarta, CNBC Indonesia - Lazimnya jika bulan Ramadan tiba, saham-saham emiten konsumer di Bursa Efek Indonesia (BEI) mendapatkan momen terbaik untuk melesat seiring dengan tingginya permintaan dan sentimen positif pembagian Tunjangan Hari Raya (THR).

Lantas, kapan momen paling pas untuk membelinya?

Analis NH Korindo Sekuritas, Putu Chantika, mengungkapkan setidaknya ada tiga momen utama investor bisa memburu saham-saham konsumer ini yakni pada momen Ramadan dan jelang Lebaran, setiap musim libur panjang, dan jelang tahun baru.


"Biasanya kita lihat saham konsumer, ada momennya dua, pas jelang Lebaran dan holidays season [masa liburan] atau new year [momen tahun baru] bagus-bagusnya. Demand bagi akan berpengaruh ke financial statement [laporan keuangan] mereka," kata Analis NH Korindo Sekuritas, Putu Chantika dalam program InvestTime CNBC Indonesia, Senin (12/4/2021).

Menurut Putu, Ramadan waktu yang pas karena daya beli masyarakat meningkat saat itu. Selain itu permintaan akan barang juga menjadi lebih tinggi termasuk juga adanya momen pencairan THR.

Namun memang Ramadan tahun lalu menjadi anomali bagi saham konsumer. Penyebabnya karena adanya pandemi Covid-19 melanda dunia termasuk juga Indonesia.

Sementara itu Putu menyarankan para investor menggunakan saham konsumer sebagai investasi jangka panjang. Sebab saham-saham ini memiliki proses yang cukup stabil.

Meski begitu, Putu tak menutup kemungkinan jika ada yang ingin trading dalam jangka pendek dengan memilih saham-saham konsumer. Walau masih lebih lagi digunakan sebagai investasi jangka panjang.

"Itu untuk saham konsumer sebenarnya juga sangat diperlukan untuk investor yang pemula atau risk low risk profile. Jadi untuk resiko kecil cocok untuk dikoleksi. Kalau untuk trading baik kalau investasi lebih baik lagi," jelasnya.

Dia juga menjelaskan ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan para investor. Pertama inflasi yang diharapkan tidak terlalu tinggi dan setidaknya membuat minat konsumsi masyarakat bisa tetap meningkat.

Selain itu juga melihat dari pemerintah, yakni stimulus apa yang diberikan oleh mereka. Putu menambahkan juga melihat dari emiten itu sendiri.

"Kita juga melihat dari emitennya juga sih, kalau untuk yang konsumer banyak nih. Kita biasanya lihat barang-barang yang memang biasanya kita butuhin saat puasa apa saja sih. Nah biasanya berpengaruh juga ke saham itu sendiri," ungkap Putu.

Berdasarkan data BEI, memang saham-saham konsumer belum bangkit. Misalnya saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) masih minus 13,95% di posisi Rp 6.325/saham secara year to date (ytd) hingga perdagangan Senin kemarin (12/4).

Emiten konsumer lainnya juga terkoreksi: PT Mayora Indah Tbk (MYOR) minus 6,27% Ytd di Rp 2.540/saham, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) turun 9.66% di Rp 8.650/saham, dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) turun 3,65% di Rp 6.600/saham.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading