Gercep! Singapura Finalisasi Aturan IPO SPAC, Bursa RI Kapan?

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
31 March 2021 14:40
SGX: Bursa Singapore (Youtube/SGXChannel)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Singapura atau Singapore Exchange (SGX) hampir menyelesaikan kerangka kerja untuk perusahaan akuisisi bertujuan khusus alias Special Purpose Acquisition Companies (SPAC).

Hanya saja, seperti dilansir DealstreetAsia, para pemangku kepentingan yang dekat dengan diskusi mengenai aturan kerangka SPAC ini justru menyuarakan keprihatinan atas item-item utama dalam proposal bursa.

SGX, yang memulai konsultasi publik untuk mempelajari kelayakan daftar SPAC pada Januari, diketahui menetapkan nilai SPAC minimum antara US$ 200-300 juta atau setara dengan Rp 2,8 triliun hingga Rp 4,2 triliun (kurs Rp 14.000/US$, dengan tujuan memungkinkan pencatatan saham perdana (initial public offering/IPO) pada kuartal ketiga tahun ini.


SPAC adalah perusahaan 'cek kosong' yang mengumpulkan modal semata-mata untuk mengakuisisi entitas swasta dengan tujuan menjadikannya perusahaan publik alias IPO di bursa saham.

Dua sumber DealstreetAsia mengungkapkan bahwa konsorsium investor Singapura termasuk Jenny Lee dari GGV Capital, Lim Kuo Yi dari Monk's Hill Ventures dan James Tan dari Quest Ventures sebelumnya telah terlibat dalam diskusi dengan Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura (MTI) dan lembaga pemerintah lainnya untuk mencari solusi untuk ketentuan nilai SPAC tersebut.

Salah satu proposal yang dipresentasikan adalah pengaturan bursa atau papan perdagangan terpisah yang mirip dengan papan perdagangan khusus emiten teknologi dan startup di Bursa Shanghai yakni Shanghai Stock Exchange Science and Technology Innovation Board, atau lebih dikenal sebagai China's STAR Board.

Alasannya, dengan papan khusus ini maka akan membuat SPAC yang mencatatkan saham perdana lebih mudah, khususnya berkaitan dengan listing perusahaan teknologi Singapura.

Diskusi tersebut pertama kali dilakukan sekitar 2-3 tahun yang lalu dan dipercepat dalam 3 bulan terakhir, tetapi satu sumber orang dalam tidak berpikir bahwa SGX akan merumuskannya dalam waktu dekat.

Sejumlah modal ventura atau venture capital yang dihubungi di Singapura oleh DealstreetAsia menolak berkomentar, termasuk Quest Ventures dan Monk's Hill Ventures, juga GGV Capital.

Di Indonesia, pembahasan soal SPAC juga menjadi fokus dari Bursa Efek Indonesia (BEI).

BEI menyatakan saat ini sedang mengkaji mengenai potensi SPAC bisa mencatatkan saham di pasar modal Tanah Air. Pasalnya, saat ini belum ada regulasi yang mengatur baik di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun BEI mengenai SPAC tersebut.

Aturan ini diharapkan bisa diterapkan pada tahun ini untuk menarik minat perusahaan e-commerce kelas kakap untuk listing di pasar modal domestik ketimbang harus mencatatkan sahamnya di bursa luar negeri.

Salah satu contoh transaksi IPO SPAC di Amerika serikat adalah Social Capital Hedosophia (IPOA) yang melakukan IPO pada tahun 2017 dan melakukan merger dengan perusahaan targetnya, yang merupakan perusahaan tertutup yakni, Virgin Galactic pada 2019. Saat ini Virgin Galactic telah menjadi perusahaan tercatat di NYSE dengan kode saham SPCE.

Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi mengatakan, BEI turut mengansitipasi mengenai potensi perusahaan e-commerce besar yang berminat menggalang dana melalui pasar modal.

Saat ini, kajian tersebut sedang dilakukan oleh otoritas bursa dan nantinya akan dibahas bersama dengan OJK.

"SPAC kajiannya sedang kami lakukan dan sudah kami siapkan dan tentu nanti pada saatnya akan kami sampaikan dan kita bahas di tingkat OJK untuk dilihat kemungkinan dengan existing regulation dengan penyempurnaan peraturan baru yang mengatur ini," kata Hasan kepada awak media, Selasa (23/2/2021).

Hasan melanjutkan, pembahasan isu mengenai ini sebetulnya sudah mengemuka sejak 1-2 tahun terakhir.

Pada prinsipnya, BEI sangat terbuka terhadap berbagai perkembangan yang terjadi di berbagai bursa dunia. Pada saat proses pembuatan aturan tersebut, nantinya BEI akan meminta usulan dari berbagai pemangku kepentingan.

Hasan bahkan menyebut, peraturan ini seharusnya akan dieksekusi dalam waktu yang tak lagi terlalu lama setelah bursa juga belum lama ini memberlakukan sistem klasifikasi sektor baru yang di antaranya memasukkan indeks di teknologi melalui IDX-IC.

"Harus nih [tahun ini]. Visi kita ingin memastikan apa yang terjauh yang bisa lakukan untuk menyiapkan ini semua dan memang tidak dalam waktu lama. Kita tahu persis, ada momentum yang tidak boleh terlewatkan," ujar Hasan.

Sebelumnya, bursa saham Indonesia disebutkan berpotensi mendapat pasokan emiten baru berskala raksasa, status keduanya adalah unicorn. Jika dua unicorn atau decacorn ini melakukan penawaran umum di pasar perdana (initial publik offering/IPO), bakal jadi IPO terbesar dalam sejarah Indonesia.

Komisaris BEI Pandu Sjahrir, memberikan petunjuk bahwa dua dari tiga perusahaan digital terbesar di Indonesia bakal IPO tahun ini di BEI. Tebakan yang paling dekat adalah Gojek dan Tokopedia, yang memang gencar disebut-sebut.

"Dua dari tiga perusahaan digabung, akan jadi sejarah IPO terbesar dalam sejarah republik. Secara size mereka tech conglomerate, dengan pihak terkait kita menjaga kepentingan saham publik minoritas, itu juga kita jaga tapi saya rasa prospek bagus. Sebagai regulator, kami melihat di bursa sangat luar biasa dan diperlukan," kata Pandu tanpa menyebutkan perusahaan teknologi yang akan IPO tersebut, dalam acara Capital Market Outlook, Senin (22/2/2021.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading