Demi Tokped-Gojek dkk, BEI Kaji SPAC Bisa Listing di Bursa RI

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
23 February 2021 18:03
Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan saat ini sedang mengkaji mengenai potensi Special Purpose Acquisition Company (SPAC) bisa mencatatkan saham di pasar modal Tanah Air. Pasalnya, saat ini belum ada regulasi yang mengatur baik di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun BEI mengenai SPAC tersebut.

Aturan ini diharapkan bisa diterapkan pada tahun ini untuk menarik minat perusahaan e-commerce kelas kakap untuk listing di pasar modal domestik ketimbang harus mencatatkan sahamnya di bursa luar negeri.

SPAC merupakan sebuah perusahaan yang didirikan secara khusus untuk menggalang dana melalui IPO dengan tujuan melakukan merger, akuisisi, atau pembelian saham perusahaan terhadap satu atau lebih perusahaan.


Saat ini, penerapan SPAC sudah diterapkan di berbagai bursa global, salah satunya di Amerika Serikat.

Salah satu contoh transaksi IPO SPAC di Amerika serikat adalah Social Capital Hedosophia (IPOA) yang melakukan IPO pada tahun 2017 dan melakukan merger dengan perusahaan targetnya, yang merupakan perusahaan tertutup yakni, Virgin Galactic pada 2019. Saat ini Virgin Galactic telah menjadi perusahaan tercatat di NYSE dengan kode saham SPCE.

Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi mengatakan, BEI turut mengansitipasi mengenai potensi perusahaan e-commerce besar yang berminat menggalang dana melalui pasar modal.

Saat ini, kajian tersebut sedang dilakukan oleh otoritas bursa dan nantinya akan dibahas bersama dengan OJK.

"SPAC kajiannya sedang kami lakukan dan sudah kami siapkan dan tentu nanti pada saatnya akan kami sampaikan dan kita bahas di tingkat OJK untuk dilihat kemungkinan dengan existing regulation dengan penyempurnaan peraturan baru yang mengatur ini," kata Hasan kepada awak media, Selasa (23/2/2021).

Hasan melanjutkan, pembahasan isu mengenai ini sebetulnya sudah mengemuka sejak 1-2 tahun terakhir.

Pada prinsipnya, BEI sangat terbuka terhadap berbagai perkembangan yang terjadi di berbagai bursa dunia. Pada saat proses pembuatan aturan tersebut, nantinya BEI akan meminta usulan dari berbagai pemangku kepentingan.

Hasan bahkan menyebut, peraturan ini seharusnya akan dieksekusi dalam waktu yang tak lagi terlalu lama setelah bursa juga belum lama ini memberlakukan sistem klasifikasi sektor baru yang di antaranya memasukkan indeks di teknologi melalui IDX-IC.

"Harus nih [tahun ini]. Visi kita ingin memastikan apa yang terjauh yang bisa lakukan untuk menyiapkan ini semua dan memang tidak dalam waktu lama. Kita tahu persis, ada momentum yang tidak boleh terlewatkan," ujar Hasan.

Sebelumnya, bursa saham Indonesia disebutkan berpotensi mendapat pasokan emiten baru berskala raksasa, status keduanya adalah unicorn. Jika dua unicorn atau decacorn ini melakukan penawaran umum di pasar perdana (initial publik offering/IPO), bakal jadi IPO terbesar dalam sejarah Indonesia.

Komisaris BEI Pandu Sjahrir, memberikan petunjuk bahwa dua dari tiga perusahaan digital terbesar di Indonesia bakal IPO tahun ini di BEI. Tebakan yang paling dekat adalah Gojek dan Tokopedia, yang memang gencar disebut-sebut.

"Dua dari tiga perusahaan digabung, akan jadi sejarah IPO terbesar dalam sejarah republik. Secara size mereka tech conglomerate, dengan pihak terkait kita menjaga kepentingan saham publik minoritas, itu juga kita jaga tapi saya rasa prospek bagus. Sebagai regulator, kami melihat di bursa sangat luar biasa dan diperlukan," kata Pandu tanpa menyebutkan perusahaan teknologi yang akan IPO tersebut, dalam acara Capital Market Outlook, Senin (22/2/2021).


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading