Buka-bukaan Pandu Sjahrir Soal IPO Terbesar dalam Sejarah RI

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
23 February 2021 12:45
Presiden Komisaris SEA Group Indonesia Pandu Sjahrir dalam acara Capital Market Outlook 2021 dengan tema Foto: Presiden Komisaris SEA Group Indonesia Pandu Sjahrir dalam acara Capital Market Outlook 2021 dengan tema "Prospek Pasar Modal 2021"

Jakarta, CNBC Indonesia - Komisaris Bursa Efek Indonesia (BEI), Pandu Sjahrir menilai, perusahaan rintisan dengan valuasi di atas Rp 14 triliun atau unicorn saat ini punya potensi yang besar untuk menjadi perusahaan publik.

Presiden Komisaris SEA Group Indonesia ini menyebut, bursa saham Indonesia berpotensi mendapat pasokan emiten baru berskala raksasa. Salah satu yang sedang dan dikabarkan akan go public adalah Gojek dan Tokopedia. Hal ini, kata dia akan dinantikan pelaku pasar.

"Gojek-Tokopedia, baru akan mulai go publik tahun ini dan tentu dengan hal tersebut, interest pada perusahaan publik berbau teknologi itu amat tinggi. Potensi interest-nya ya luar biasa, secara indeks saja saya rasa banyak perusahaan ini masuk top ten companies, top 20 companies apabila betul perusahaan seperti Gojek, Tokopedia masuk, saya rasa akan positive effect," kata Pandu Sjahrir, dalam wawancara dengan CNBC Indonesia, Senin (22/2/2021).


Ia pun menilai, jika setelah penggabungan tersebut jadi listing di BEI, maka berpotensi menjadi IPO yang terbesar dalam sejarah di Indonesia. "Kalau misalnya 2 dari 3 digabung ini listing, akan jadi IPO terbesar dalam sejarah Republik," bebernya.

Tak hanya itu saja, kehadiran dua perusahaan digital besar ini bursa domestik akan membuat indeks sektor teknologi semakin atraktif. Ini juga akan menguntungkan buat PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), sebagai salah satu pemegang saham. Seperti diketahui, Telkom merupakan pemegang saham Gojek.

Simak selengkapnya petikan wawancara dengan Pandu Sjahrir:

Seperti apa potensi interest pasar terhadap perusahaan teknologi di Indonesia?

Gojek - Tokopedia, baru akan mulai go publik tahun ini dan tentu dengan hal tersebut, interest pada perusahaan publik berbau teknologi itu amat tinggi.

Potensi interest-nya ya luar biasa, secara indeks saja saya rasa banyak perusahaan ini masuk top ten companies, top 20 companies apabila betul perusahaan seperti Gojek, Tokopedia masuk, saya rasa akan positive effect, dan Telkom akan sangat positif juga karena Telkom salah satu investor teknologi terbesar di negara ini. Efeknya akan sangat signifikan menurut saya.

Bagaimana size perusahaan unicorn yang siap atau layak go public ?

Saya rasa tidak hanya melihat profitabilitas, harus fordward looking melihat dari potensi growth, market size yang sedang dicapai mereka. Di AS saja, 8 dari 10 perusahaan terbesar di Amerika adalah perusahaan teknologi.

Di indonesia, dari nilai kapitalisasi pasar private market, beberapa perusahaan ini sudah mencapai valuasi US$ 10 miliar, dan saya tidak berani lagi bilang mereka startup, sekarang ini mereka lebih mirip seperti konglomerasi teknologi, semacam Gojek, ada bisnis food delivery, terbesar di South East Asia, Gopay yang terbesar di Indonesia, dan Anda kalau lihat same day logistic-nya juga yang paling besar di South East Asia, ini menarik karena ini bisnis-bisnis baru yang belum dilihat karena belum perusahaan publik. Tapi, pas nanti dilihat impact-nya akan sangat luar biasa.

Seperti apa skema yang bisa digunakan unicorn Indonesia bisa go public di Indonesia?

Saya rasa tergantung market, tapi kalau untuk unicorn ini kan kita sudah ada peraturan-peraturan juga. Ada tiga hal yang penting, satu dari sisi insentif fiskal baik dari share maupun ESOP, capital gain.

Kedua dari sisi perusahaan bagaimana treatment pajaknya, multivoting share ada kelas A kelas B yang sekarang sedang kita godok di OJK.

Ketiga adalah keinginan perusahaan-perusahaan teknologi untuk masuk ke indeks LQ45. Karena secara size mereka sudah perusahaan konglomerasi teknologi dan itu sangat penting. Terakhir, kita menjaga kepentingan saham publik minoritas, investor lokal itu juga kia jaga.

Tapi saya rasa prospeknya cukup positif karena baik dari sisi regulator, di bursa, kami melihat ini sangat luar biasa dan sangat diperlukan. Kalau misalnya 2 dari 3 digabung ini listing, akan jadi IPO terbesar dalam sejarah Republik.

Berapa perkiraan dana yang bisa dihimpun ?

Yang perlu di listing kan 10%, asumsi market cap yang saya baca dari CNBC, US$ 12 miliar, US$ 8 miliar, kalau US$ 12 miliar kan sebesar US$ 1,2 miliar yang harus di-IPO-kan, kalau U$ 8 miliar, minimum US$ 800 juta, kalau Anda gabung itu jadi US$ 2 miliar, misalnya ada nama lain, valuasinya sudah ada yang US$ 4 miliar, US$ 3,5 miliar, itu perusahaan yang sangat besar.

Komposisi saat ini angel investor domestik?

Cukup oke, ada beberapalah, Telkom ada kakak kitalah, yang paling besar di Indo. Lokal cukup baik, kita perlu tambah pension fund untuk masuk private market karena sekarang yang dominasi Telkom dan Bank Himbara. Gojek-Tokopedia, sebagian besar investor asing, ini waktu yang tepat untuk pension fund punya eksposur di perusahaan teknologi, di luar negeri ada 10-20% di venture capital atau perusahaan teknologi, di kita masih 0%.

Peraturan apa yang perlu dibenahi agar minatnya ada?

Saya rasa minat ada, hanya belum mengerti bagaimana memvaluasi perusahaan teknologi, itu memang memerlukan latihan, misalnya MDI sudah mengerti melakukannya. Kita harus menambah dari sisi SDM, untuk memvaluasi perusahaan teknologi. Di situ analisa belajar bagaimana vauluasi perusahaan berbasis teknologi.

Di Luar negeri biasanya melakukan comparable analysis, bisanya price to revenue, mereka fordaward looking, di Tokped pasti ada Alibaba. Gojek bisa comparable dengan Uber.

Potensi size perusahaan teknologi seperti apa?

Mungkin sebagai perbanding, di AS beberapa company yang worth 1 triliun dollar, di Indonesia potensial upside masih luar biasa, kita masuk menit 10-11 kalau permainan sepakbola. Industri teknologi ini baru mulai, baru 7 tahun, ini sangat menarik.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading