Banyak Transaksi yang Batal, Pamor SPAC Surut?

Market - Tri Putra, CNBC Indonesia
21 September 2021 17:10
FILE - In this Oct. 14, 2020 file photo, the American Flag hangs outside the New York Stock Exchange in New York.Stocks were posting strong gains in early trading Thursday, May 13, 2021, following three days of losses and the biggest one-day drop in the S&P 500 since February.  (AP Photo/Frank Franklin II, File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harapan adanya perusahaan asal RI untuk melantai di bursa Nasdaq AS lewat perusahaan cek kosong alias Special Purpose Acquisition Company (SPAC) perlahan mulai pupus seiring dengan pamor SPAC yang kini sudah semakin pudar.

SPAC digadang-gadang bakal menjadi kendaraan bagi para startup untuk melantai di bursa saham AS karena regulasi yang lebih mudah dan cepat dibandingkan dengan melantai secara penawaran perdana alias IPO sehingga perusahaan rintisan tersebut tak perlu pusing mengenai regulasi untuk melantai dan dapat terus fokus mengembangkan bisnisnya. Namun realitanya hal ini tak semulus yang diharapkan.

Kabar terbaru ada salah satu emiten milik konglomerat Hary Tanoesoedibjo yaitu PT MNC Vision Tbk (IPTV) yang batal melantaikan anak usahanya PT Asia Vision Network (AVN) ke bursa Wall Street melalui SPAC Malacca Straits Acquisition Company Limited (MLAC).


Sebelumnya ada startup di bidang Online Travel Agent (OTA) yakni Traveloka yang juga dikabarkan batal melantai di bursa saham AS melalui SPAC.

Dahulu SPAC digemari dan banyak melantaikan berbagai perusahaan termasuk startup teknologi.

Salah satu perusahaan yang melantai di bursa lewat SPAC adalah perusahaan maskapai luar angkasa bernama Virgin Galactic yang didirikan oleh Richard Branson.

Pada 2019 Virgin Galactic melantai di bursa. Pasca listing harga saham Virgin Galactic bergerak volatil tetapi sempat mencapai level harga tertinggi di US$ 60 pada Februari tahun ini.

Jika harga nominal awal saham SPAC dibanderol di US$ 10 maka Virgin Galactic berhasil mencatatkan apresiasi dengan 6 kalo lipat.
Keberhasilan SPAC membuat adanya arus uang masuk secara besar-besaran ke aset ini. Jumlah perusahaan yang melantai lewat skema ini juga terus meningkat.

Berdasarkan data SPAC Insider, dalam satu dekade terakhir jumlah IPO SPAC melonjak sampai 29 kali dari 15 pada 2011 menjadi 436 tahun 2021.
Nilai gross proceeds IPO SPAC telah naik hampir 126 kali pada periode yang sama dari US$ 1 miliar menjadi US$ 126 miliar.

Rata-rata nilai transaksi IPO SPAC juga naik 4 kali dari US$ 72 juta pada 2011 menjadi US$ 289 juta tahun ini.

Saat ini transaksi lewat SPAC memang sudah cenderung overcrowded. Euforia di SPAC perlahan mulai menurun seiring dengan penurunan harganya.
Berdasarkan penelusuran Reuters, lebih dari 100 SPAC yang mengumumkan merger di tahun ini, rata-rata hanya membukukan apresiasi kurang dari 2% dari harga perdagangan masing-masing saat pertama kali terdaftar di bursa.

Padahal di periode yang sama, median pertumbuhan harga saham konstituen S&P 500 tercatat sebesar 15% hingga Mei tahun ini. Itu artinya saham-saham yang melantai lewat SPAC kalah cuan dengan saham yang melantai lewat scenario biasa.

Di sisi lain otoritas bursa di AS juga punya niatan untuk mengetatkan aturan terhadap SPAC menjadi faktor negatif yang semakin meredupkan pamor SPAC. Alhasil akhir-akhir ini berberapa perusahaan yang sudah berniat untuk menghimpun dana via SPAC terpaksa mengurungkan niatnya.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading