Analisis

Ssst...Ada Kabar Lagi buat Saham INCO-ANTM-ASII, Simak!

Market - Aldo Fernando, CNBC Indonesia
24 March 2021 07:30
A worker uses the tapping process to separate nickel ore from other elements at a nickel processing plant in Sorowako, South Sulawesi Province, Indonesia March 1, 2012. REUTERS/Yusuf Ahmad

Menurut penelusuran CLSA, Indonesia telah berniat untuk memanfaatkan sumber daya alam (SDA) yang kaya dan meningkatkan rantai nilai, terutama di bidang pertambangan nikel, sejak satu dekade lalu.

Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah tercatat telah memberlakukan larangan ekspor bijih mineral pada 2014.

Akan tetapi, pemerintah melonggarkan sebagian pembatasan tersebut pada 2017 untuk memungkinkan penambang dalam negeri mengumpulkan dana guna meningkatkan kapasitas peleburan alias pabrik smelter.


Namun, pemberlakuan kembali larangan tersebut pada Januari 2020 mengirimkan sinyal kuat bahwa pihak berwenang ingin memfokuskan kembali pada produk nikel bernilai tambah.

Larangan tersebut telah mempercepat industrialisasi hilir nikel Indonesia dan mendorong pembentukan usaha strategis dalam produksi baja tahan karat (stainless steel) dan baterai kendaraan listrik.

Data awal menunjukkan bahwa pemain kunci seperti Tsingshan, Huayou Cobalt, dan Contemporary Amperex Technology (CATL) asal China telah melakukan investasi sebesar US$ 30-35 miliar atau sekitar Rp 420-490 triliun (kurs 1 US$ = Rp 14.000) selama 10 hingga 15 tahun ke depan.

Sebagian dari investasi tersebut telah ditempatkan pada produksi baja tahan karat dan nikel kelas-2.

Sementara itu, Tsingshan Holding Group yang juga asal China menjalankan pabrik besi dan baja terintegrasi terbesar di negara tersebut.

Beberapa proyek HPAL (High Pressure Acid Leaching) dijadwalkan akan dimulai pada 2021-2022.

"Dengan adanya akses ke bahan baku, dukungan infrastruktur, dan rekam jejak, kami memperkirakan negara dapat memproduksi bahan baterai dengan biaya yang kompetitif," tulis CLSA.

Sentimen lain ialah rencana pembentukkan PT Industri Baterai Indonesia, BUMN induk baterai EV.

Khusus tiga saham yang masuk radar CLSA merilis target harganya. Dalam riset ini, CLSA menyematkan rekomendasi outperform rating dengan target harga Rp 6.100 untuk distributor mobil raksasa Tanah Air ASII.

Selasa kemarin (23/3), saham ASII ditutup stagnan di harga Rp 5.575/saham dengan nilai transaksi Rp 263,22 miliar. Tercatat dalam sebulan saham ini terkoreksi 2,19%, sementara secara year to date (YTD) juga ambles 10,08%.

Menurut periset CLSA, ASII seharusnya mendapatkan keuntungan dari dominasi Toyota di segmen mobil hybrid. Selain itu, Toyota saat ini juga sedang mengejar teknologi kendaraan listrik baterai alias BEV.

Astra International mendominasi pasar mobil ICE dengan 50% pangsa di segmen roda empat dan 79% pangsa pasar kendaraan roda dua. Merek mobil andalan ASII, antara lain Toyota dan Daihatsu dalam segmen roda empat, serta Honda di segmen roda dua.

Toyota juga berada di garis depan teknologi hybrid secara global dan mengejar pengembangan kendaraan listrik baterai BEV.

Menurut CLSA, setelah meluncurkan beberapa model baru pada tahun 2020, Astra menguasai 79% penjualan mobil listrik di Indonesia, terutama dengan mobil hybrid Toyota hasil impor.

Sementara, untuk duo emiten nikel ANTM-INCO, CLSA memberi peringkat beli atau buy. ANTM dengan target harga Rp 4.000, sementara untuk INCO Rp 8.600.

Saham ANTM berhasil ditutup menguat di zona hijau sebesar 0,44% ke Rp 2.270/saham di Selasa ini. Dalam sebulan saham emiten nikel dan emas ini sudah anjlok 23,05%. Tetapi, saham ANTM melesat 224,29% secara YTD.

Tidak seperti ANTM, INCO malah merosot ke zona merah sebesar 0,44% ke posisi Rp 4.500/saham. Adapun dalam sebulan terakhir saham INCO sudah jatuh 29,96%. Namun, secara ytd saham ini sudah melejit 47,06%.

Rekomendasi CLSA ini dengan pertimangan karena keduanya sudah bergerak di bidang pertambangan bahan baterai EV yang tak lain adalah nikel. Dengan demikian, kedua emiten ini seharusnya bisa menikmati keuntungan dalam proses persiapan produksi baterai kendaraan listrik.

"Di sisi makro, kami memperkirakan permintaan global yang kuat untuk kendaraan listrik (EV) dapat membantu mengurangi defisit transaksi berjalan dan menciptakan lapangan kerja di Indonesia," jelas periset CLSA Sarina Lesmina dkk dalam riset mereka.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(adf/adf)
HALAMAN :
1 2 3
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading